BOMINDONESIA.COM, BANJARMASIN -Bagian Umum Sekretariat Daerah Kota Banjarmasin menyiapkan sejumlah fasilitas untuk mendukung pelaksanaan Banjarmasin Bersalawat, dan Doa Bersama dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-500 Kota Banjarmasin, di lobi Balai Kota, Kamis malam, 24 September 2026.
Fasilitas yang diberikan di antaranya karpet atau hambal, kipas angin, kemudian sound system.
Pelaksana Tugas Kepala Bagian Umum Setdako Banjarmasin, Ahmad Zazuli, mengatakan sesuai arahan Wali Kota Banjarmasin, pihaknya mempersiapkan berbagai kebutuhan teknis agar pelaksanaan Salat Hajat berlangsung nyaman dan tertib. “Untuk persiapannya, kami menyiapkan karpet atau hambal, kipas angin, kemudian sound system. Semua fasilitas yang diperlukan untuk pelaksanaan Salat Hajat kami siapkan,” ujar Zazuli.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurutnya, kesiapan fasilitas menjadi bagian penting mengingat kegiatan dilaksanakan di lingkungan Balai Kota dan melibatkan sejumlah jamaah serta unsur pemerintah daerah. Karpet atau hambal disiapkan sebagai alas bagi jamaah, sementara kipas angin digunakan untuk membantu menjaga kenyamanan di tengah kondisi cuaca yang masih cukup panas.
Selain itu, perangkat sound system digunakan untuk mendukung penyampaian rangkaian kegiatan Salat Hajat, agar suara imam maupun petugas dapat terdengar dengan baik oleh seluruh jamaah. Zazuli menegaskan, Bagian Umum berupaya memastikan kebutuhan teknis kegiatan tersebut sudah tersedia sebelum pelaksanaan.
“Kami ingin seluruh fasilitas siap untuk jamaah. Sehingga pelaksanaannya bisa berjalan lancar, khusyuk dan nyaman,” katanya.
Salat Hajat menjadi salah satu rangkaian kegiatan keagamaan dalam momentum Hari Jadi ke-500 Kota Banjarmasin. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari refleksi lima abad perjalanan Kota Banjarmasin serta doa bersama untuk keberlangsungan pembangunan dan kebaikan masyarakat kota.
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, peringatan Harjad ke-500 Banjarmasin tahun ini digelar secara sederhana. Sejumlah agenda hiburan ditiadakan sebagai bentuk empati pemerintah terhadap masyarakat yang tengah menghadapi musibah, seperti darurat air bersih akibat kemarau panjang dan kabut asap akibat dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla).









