Alasan Tahun 1526 Dijadikan Dasar Berdirinya Kota Banjarmasin – bomindonesia.com

Alasan Tahun 1526 Dijadikan Dasar Berdirinya Kota Banjarmasin

- Redaksi

Rabu, 24 September 2025 - 06:49 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Alasan Tahun 1526 Dijadikan Dasar Berdirinya Kota Banjarmasin

Mansyur Mpd (Sejarahwan Kalimantan Selatan)

Oleh : Mansyur Mpd (Sejarahwan Kalimantan Selatan)

BOMINDONESIA.COM –
Pada tahun 1525 Patih Masih dengan para Patih lain meminta Raden Samudera untuk menjadi raja, mereka menyerbu bandar Muara Bahan dan memindahkan bandar beserta seluruh pedagangnya dan penduduknya ke desa Banjarmasih. Desa berubah menjadi bandar, pusat-kerajaan-sementara kekuasaan baru.

Setelah terjadi pertempuran di Hujung Pulau Alalak dengan kekalahan Pangeran Tumenggung, maka mulailah perang blokade. Orang-orang -pedalaman tak bisa ke pantai, orang-orang pantai tak bisa mendapat barang makanan dari pedalaman.
Patih Masih melihat bahwa hal ini tak bisa dibiarkan berlarut-larut karena merugikan Banjar.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ia minta bantuan ke Demak, karena mengetahui Demak telah menggantikan Majapahit yang ditaklukkan tahun 1521 dan yang paling baru Adalah penaklukkan Banten 1524. Berita semacam ini di kalangan pelayar dan pedagang tersebar cepat. Waktu enam bulan sampai satu tahun dalam masa orang-orang memakai kapal layar, baru mendengar berita dan peristiwa di daerah pulau lain, adalah termasuk cepat. Pelayaran ditentukan pula oleh musim dan arah bertiupnya angin.

Pengiriman-pengiriman pasukan dengan logistik yang sederhana, kadang-kadang harus menunggu selesainya pemotongan padi untuk bekal di jalan. Apalagi logistik untuk satu pasukan sebesar seribu orang. Demak bersedia membantu Banjarmasih dengan syarat masuk Islam.

Hal itu disetujui oleh keraton Banjarmasih. Hikayat Banjar menyebutkan bahwa Patih Balit balik ke Demak dalam musim timur membawa persetujuan raja Banjar. Persiapan-persiapan armada untuk mengangkut pasukan seribu orang dengan segala senjata dan perbekalan memerlukan persiapan berbulan-bulan.

Dalam musim barat tahun 1526 armada Demak ini berangkat ke Banjarmasih. Kebudayaan Jawa (Demak) pada umumnya, sekalipun telah dipengaruhi agama Islam, selama 4 abad sampai pada dewasa ini, masih mengenal bermacam-macam pantang, hari buruk dan hari baik untuk mengerjakan sesuatu pekerjaan dan sebagainya.

Apalagi di abad-16, dimana tradisi lama masih kokoh sekali, hal-hal serupa ini harus mendapat perhatian.
Menurut hitungan Jawa dan Tarikh Hijrah, tahun 1526 adalah tahun Hijrah 933 atau tahun Jimawal l445. Bulan puasa tahun 1526 ini terkena pada bulan Juni dan Juli. Meng-Islamkan orang-orang ” kafir ” (di sini adalah orang-orang Banjar yang beragama Syiwa, Budha atau Kaharingan), adalah pekerjaan yang mulia dan berpahala. Meng-Islamkan sebuah kerajaan dengan ribuan rakyatnya tidak dapat memakan waktu hanya dalam satu atau dua hari.

Armada Demak ini datang menjelang bulan puasa, maka kegiatan-kegiatan dipusatkan kepada persiapan-persiapan peng-Islaman, sambil menunggu kedatangan para sekutu dari daerah-daerah Kalimantan Timur, Tengah dan Barat. Karena soal meng-Islamkan raja dan rakyat kerajaannya berperang dan sebagainya.

Termasuk hal-hal yang luar biasa, perlu dipilih hari-hari yang baik menurut primbon yang berlaku dalam hidup kebudayaan keraton Jawa dewasa itu. agar menjadi kebaikan dan kemaslahatan keraton dan pelaksana-pelaksananya. Pemilihan dan penentuan hari-hari dihitung dengan teliti dan cermat, karena kalau salah bisa membahayakan orang atau negara sesuai mistik yang berlaku.

Lagi pula dalam bulan puasa tidak boleh dijalankan kegiatan apa-apa kecuali ibadah yang ditentukan. Karena itu peng-Islaman hesaran rakyat dan raja Banjarmasih kalau dihitung menurut hari baiknya, kena hari Rabu Wage, 4 Syawal Jimawal 1444 Ehe ( 4 Syawal 932 Hijrah, Sabtu Pon atau 23 Juli 1526 antara jam 08.30 – 13.00, tiga hari sesudah hari raya Idul fitri.

Sementara itu para sekutu telah berdatangan dengan pasukan dengan senjatanya, namun tidak segera menyerbu ke pedalaman, karena beberapa hal.

Pertama menunggu musim panen padi, agar cukup perbekalan pasukan ke pedalaman, dan padi di pedalaman Hulu Sungai juga sudah bisa diketam apabila telah dikuasai. Banjarmasih sendiri selalu kekurangan beras dan untuk menutupi kekurangan beras tersebut senantiasa mendatangkan dari Jawa. Kedua, menunggu puncak kemarau bulan Agustus, karena pasang kemarau ini bisa menghanyutkan kapal-kapal layar besar sampai Negara Daha.

Pasang kemarau memudahkan anak-anak kapal mendayung kapal-kapal besarnya ke daerah pertahanan musuh di Parit Basar. Ketga, menunggu penetapan-penetapan hari bertempur yang menguntungkan.

Karena itu persiapan terakhir diadakan pada 20 Selo Jimawal1444 Ehe (20 Zulkaidah 932 H) atau 6 September 1526 yang merupakan persiapan pertempuran terakhir setelah hampir 40 hari bertempur. Pada tanggal 3 Jimawal 1444 Ehe, Senin Pon, 19 September 1526 atau 3 Zulhijjah 932 H, dengan berkibar megahnya Tatunggul Wulung Wanara Putih, Pangeran Samudera mendapatkan kemenangan terbesar dalam pertempuran, sehingga Arya Taranggana meminta agar kedua raja itu saja yang bertempur dan siapa yang menang itulah yang menjadi raja.

Rakyat Negara Daha sudah terlalu banyak yang binasa. Oleh Pangeran Samudera dan pimpinan pasukan Demak, hal ini disetujui dan pada hari baik 8 Besar 1444 Ehe, Sabtu Pon (8 Zulhijjah 932 H) atau 24 September 1526 antara Jam 06.00- 10.30 pagi berlangsunglah acara pertempuran terakhir antara Pangeran Samudera dengan Pangeran Tumenggung, masing-masing berdiri di muka perahu talangkasan mereka.

Pengaruh hari baik ternyata menguntungkan Pangeran Samudera. Begitu mendekat perahu tersebut, Pangeran Samudera menyatakan tak mau melawan pamannya yang dianggapnya ganti ayahnya yang sudah mati dan menyilahkan Pangeran Tumenggung untuk membunuhnya pula.

Pangeran Tumenggung melemparkan senjatanya, memeluk Pangeran Samudera, mengangkatnya pada hari itu juga sebagai raja dengan menyerahkan pusaka-pusaka kerajaan kepada kemenakannya tersebut.

Dengan demikian maka tanggal 24 September 1526, hari Rabu adalah Hari kemenangan Pangeran Samudera atau Sultan Suriansyah, cikal bakal raja-raja dynasti kerajaan Banjar atas musuhnya.

Kemudian hari diserahkannya regalia kerajaan Negara daha, dan dirajakannya Pangeran Samudera oleh Pangeran Tumenggung. Tanggal tersebut juga menjadi hari ketentuan Banjarmasih menjadi ibu kota seluruh kerajaan Banjar, sebagai pusat pemerintahan, pusat perdagangan, pusat penyiaran agama Islam dan mata rantai baru dalam menghadapi penetrasi Portugis di laut Jawa.

Akibat kemenangan mutlak pada hari Rabu tanggal 24 Sc!ptember 1526 itu Adalah Pangeran Samudera menjadi raja dan menguasai seluruh pantai dan pedalaman Negara Dipa dan Negara Daha. Kemudian kekuasaan pemerintahan beralih dari pedalaman ke pantai (ke Banjarmasih). Banjarmasih jadi ibukota seluruh kerajaan yang baru di Kalimantan Selatan. Penduduk ibukota yang baru terdiri dari penduduk lama Banjar masih ketika masih desa.

Kemudian pedagang-pedagang asing dan penduduk Bandar Muara Bahan yang diangkut ke Banjarmasih di tahun 1525, untuk meningkatkan status desa Banjarmasih menjadi bandar dan pusat sementara kerajaan dan perlawanan terhadap Negara Daha.

Penduduk dan para pegawai kerajaan Negara Daha yang diungsikan ke Banjarmasih dalam tahun 1526 tersebut. Banjarmasih masih menjadi pusat pengembangan agama Islam di Kalimantan Selatan, sebuah mata rantai baru dalam menghadapi penetrasi Portugis sesuai dengan politik Demak.

Seluruh penduduk Negara Daha diangkut ke Banjarmasih, kecuali 1.000 orang yang tinggal menjadi rakyat Pangeran Tumanggung dan berdiam di daerah Alai. Negara Daha kosong dan hilang ditelan masa, dilupakan orang tempat pusatnya yang sebenarnya dan sungainya pun mati tertutup lumpur. Banjarmasih muncul menjadi ibukota kerajaan Banjar dan untuk selanjutnya menjadi madan sejarah bagi macam-macam kekuasaan yang berganti susul menyusul sampai dewasa ini.

Follow WhatsApp Channel bomindonesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Alat Timbang Bank Sampah di Banjarmasin Harus Sesuai Standar Kemetrologian
Jalan Gang Rawan ‘Calap’ Prioritas PUPR Bangun Drainase
Tingkatkan Kualitas LAKIP, Manfaatkan AI sebagai Asisten Penyusunan Laporan Kinerja
Slogan ‘Maju Sejahtera’ Terus Diaplikasikan Dengan Penataan Ruang Wisata dan Pembangunan Terukur
Banjarmasin Bekali IKM Unggulan “Cap” SNI untuk Dorong Daya Saing Ekspor
Akhirnya Banjarmasin Terima Bantuan Karhutla Senilai Rp20 Miliar
TERIMA KASIH, PAK PRESIDEN! Pemko Banjarmasin Dapat Banpres Rp20 Miliar untuk Penanganan Karhutla
Dinkes Banjarmasin Bekali Mahasiswa ULM Ilmu Kesmas

Berita Terkait

Selasa, 3 November 2026 - 20:12 WITA

Alat Timbang Bank Sampah di Banjarmasin Harus Sesuai Standar Kemetrologian

Selasa, 3 November 2026 - 19:26 WITA

Jalan Gang Rawan ‘Calap’ Prioritas PUPR Bangun Drainase

Senin, 2 November 2026 - 20:37 WITA

Tingkatkan Kualitas LAKIP, Manfaatkan AI sebagai Asisten Penyusunan Laporan Kinerja

Jumat, 30 Oktober 2026 - 12:05 WITA

Slogan ‘Maju Sejahtera’ Terus Diaplikasikan Dengan Penataan Ruang Wisata dan Pembangunan Terukur

Kamis, 29 Oktober 2026 - 04:53 WITA

Banjarmasin Bekali IKM Unggulan “Cap” SNI untuk Dorong Daya Saing Ekspor

Berita Terbaru

Alat Timbang Bank Sampah di Banjarmasin Harus Sesuai Standar Kemetrologian

Banjarmasin Bungas

Alat Timbang Bank Sampah di Banjarmasin Harus Sesuai Standar Kemetrologian

Selasa, 3 Nov 2026 - 20:12 WITA

Jalan Gang Rawan ‘Calap’ Prioritas PUPR Bangun Drainase

Banjarmasin Bungas

Jalan Gang Rawan ‘Calap’ Prioritas PUPR Bangun Drainase

Selasa, 3 Nov 2026 - 19:26 WITA

Ubah Stigma Ormas, GEPAK Kalsel Siapkan Unit Usaha dan Gandeng Akademisi

Kalimantan Membangun

Ubah Stigma Ormas, GEPAK Kalsel Siapkan Unit Usaha dan Gandeng Akademisi

Sabtu, 31 Okt 2026 - 23:29 WITA

Verified by MonsterInsights