Durasi Waktu Puasa Berbeda, Ini Penjelasannya – bomindonesia.com

Durasi Waktu Puasa Berbeda, Ini Penjelasannya

- Redaksi

Senin, 29 Desember 2025 - 13:39 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BOMINDONESIA.COM – Ibadah puasa memiliki aturan waktu yang jelas, dimulai saat terbit fajar dan berakhir saat matahari terbenam. Namun, mengapa durasi puasa bisa berbeda di tiap wilayah, bahkan dalam satu negara sekalipun?

Berbeda dengan penentuan awal dan akhir Ramadan yang didasari pada pergerakan sinodik bulan dalam mengorbit bumi, waktu harian berpuasa ditentukan oleh pergerakan semu matahari yang dilihat oleh pengamat di bumi.

Dilansir https://www.ipb.ac.id, Guru Besar Fisika Teori IPB University Prof Husin Alatas menjelaskan, perbedaan durasi puasa di setiap tempat disebabkan matahari terlihat terbit dan terbenam pada waktu yang berbeda. Hal ini terjadi karena bumi berputar dan bergerak mengelilingi matahari, sehingga lama siang dan malam bisa bervariasi di berbagai daerah.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ia mengurai, pergerakan semu harian matahari dipengaruhi oleh gerak rotasi bumi dan juga gerak orbit bumi mengelilingi matahari. Akibat dari rotasi bumi, pengamat di bumi akan melihat silih bergantinya siang dan malam.

“Sementara itu, untuk gerak orbit bumi, karena poros rotasi bumi membentuk sudut 23,5 derajat terhadap bidang ekuatorial orbit, maka panjang hari di bulan-bulan yang berbeda dapat berbeda secara signifikan untuk wilayah-wilayah di bumi yang tidak berada tepat di garis khatulistiwa,” ucapnya.

Prof Husin mengakui, untuk mengetahui pergerakan semu harian matahari, maka penentuan waktu subuh dilakukan melalui pengamatan terhadap kemunculan fenomena fajar. Fenomena ini terjadi saat sinar dari matahari yang masih berada di bawah horizon sudah direfleksikan oleh atmosfer bumi.

“Cahaya ini terlihat sebagai garis tipis berwarna kebiruan di horizon timur dan berangsur berubah menjadi kuning seiring dengan naiknya posisi matahari,” ungkapnya.

Menurutnya, warna biru yang tampak saat fajar disebabkan oleh terjadinya peristiwa hamburan Rayleigh yang merefleksikan cahaya dengan panjang-gelombang pendek (berwarna biru) lebih banyak dengan sudut hamburan yang besar dibandingkan panjang-gelombang lain yang lebih panjang.

“Waktu subuh berakhir saat piringan matahari mulai terlihat di horizon timur, menandai terbitnya matahari,” tuturnya.

Perlu dicatat, tambah Prof Husin, fenomena penampakan cahaya juga terjadi sebelum fenomena fajar yang disebut sebagai fenomena fajar palsu (false dawn). Fenomena ini terjadi karena adanya refleksi sinar matahari akibat debu antarplanet yang berada di luar atmosfer bumi.

“Berbeda dengan fajar yang memiliki pola horizontal, fajar palsu memiliki bentuk menjulang vertikal ke atas dan relatif lebih samar ketimbang cahaya fajar,” tuturnya.

Sementara itu, waktu maghrib ditentukan dengan melakukan pengamatan hilangnya piringan matahari di horizon barat, menandai terbenamnya matahari.

Saat matahari terbenam dan berada di bawah horizon barat, tidak berarti sinarnya langsung menghilang karena terhalang bumi. Tetapi masih ada yang direfleksikan oleh atmosfer bumi.

“Saat sinar yang direfleksikan tersebut menghilang, maka berakhirlah waktu maghrib yang ditandai dengan hilangnya mega merah di langit,” paparnya.

Panjang-gelombang merah yang tampak oleh pengamat saat matahari terbenam disebabkan karena panjang-gelombang panjang sedikit dihamburkan atmosfer bumi. “Sementara yang lebih pendek sudah terhambur terlebih dahulu melalui mekanisme hamburan Rayleigh, sehingga tidak terlihat oleh pengamat,” imbuhnya.

Follow WhatsApp Channel bomindonesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menjangkau Lebih Banyak Orang Melalui Penerjemahan
Guru Busu Ingatkan Keteladanan Rasulullah di Tengah Ratusan Jemaah Maulid Sungai Lulut
Polda Kalsel Bersama Forkopimda dan Masyarakat Gelar Shalat Istisqa di Tengah Kemarau Panjang
Lautan Manusia Penuhi Haul ke-500 Sultan Suriansyah di Banjarmasin
Delapan Peserta Ikuti Baptisan di Hari Kedua Pertemuan Regional Saksi-Saksi Yehuwa
Jalan Menuju Kebahagiaan, Saksi-Saksi Yehuwa Gelar Pertemuan Regional di Palangka Raya
Kepulangan Jemaah Haji Indonesia Mulai Hari Ini
Doa Ketika Wukuf di Padang Arafah

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 12:45 WITA

Menjangkau Lebih Banyak Orang Melalui Penerjemahan

Rabu, 26 Agustus 2026 - 18:05 WITA

Guru Busu Ingatkan Keteladanan Rasulullah di Tengah Ratusan Jemaah Maulid Sungai Lulut

Rabu, 19 Agustus 2026 - 17:28 WITA

Polda Kalsel Bersama Forkopimda dan Masyarakat Gelar Shalat Istisqa di Tengah Kemarau Panjang

Minggu, 16 Agustus 2026 - 15:46 WITA

Lautan Manusia Penuhi Haul ke-500 Sultan Suriansyah di Banjarmasin

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 18:16 WITA

Delapan Peserta Ikuti Baptisan di Hari Kedua Pertemuan Regional Saksi-Saksi Yehuwa

Berita Terbaru

Ubah Stigma Ormas, GEPAK Kalsel Siapkan Unit Usaha dan Gandeng Akademisi

Kalimantan Membangun

Ubah Stigma Ormas, GEPAK Kalsel Siapkan Unit Usaha dan Gandeng Akademisi

Sabtu, 31 Okt 2026 - 23:29 WITA

Jika Ingat 9 Tokoh TVRI Ini, Fix Umurmu di Atas 50 Tahun!

Historia

Jika Ingat 9 Tokoh TVRI Ini, Fix Umurmu di Atas 50 Tahun!

Sabtu, 31 Okt 2026 - 12:17 WITA

Verified by MonsterInsights