BOMINDONESIA.COM, BANJARMASIN – Aksi mahasiswa yang menggelar demonstrasi di depan Kantor DPRD Kalimantan Selatan (Kalsel), Jumat (28/8/2026), berakhir memanas setelah dialog antara perwakilan mahasiswa dengan pejabat pemerintah dan DPRD Kalsel tidak menemukan titik temu.
Situasi mulai memanas memasuki pukul 17.00 WITA.
Massa mahasiswa yang sebelumnya menyampaikan tuntutan dan mengikuti dialog kemudian berbaris di depan pagar Kantor DPRD Kalsel.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Mereka mendesak masuk ke halaman gedung DPRD.
Massa kemudian bergerak maju dan mencoba menerobos pagar yang dijaga aparat kepolisian.
Kapolresta Banjarmasin Kombes Pol Riza Muttaqin turun langsung ke tengah situasi .
Bersama para Kapolsek diantaranya Kapolsek Banjarmasin Selatan Kompol Christugus Lirens hingga Kasatlantas AKP Embang Pramono nampak di jajaran depan berupaya menenangkan mahasiswa sekaligus mengajak massa untuk tidak terpancing dan tidak sampai terjadi benturan dengan petugas.
Sementara itu melalui pengeras suara, petugas meminta mahasiswa menahan diri dan menyampaikan aspirasi tanpa harus berhadapan dengan aparat keamanan.
Petugas juga mengingatkan mahasiswa agar tidak mau dibenturkan dengan petugas yang melakukan pengamanan.
Sempat mundur, massa kemudian kembali bergerak dan mencoba mendobrak pagar Kantor DPRD Kalsel.
Namun upaya tersebut kembali berhasil ditahan dan massa dipukul mundur oleh aparat kepolisian.
Salah satu persoalan yang menjadi desakan mahasiswa adalah kehadiran Gubernur Kalsel Muhidin.
Massa menginginkan gubernur hadir secara langsung untuk menemui dan memberikan jawaban atas tuntutan yang mereka sampaikan.
Sebelumnya, ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi BEM se-Kalsel bersama sejumlah elemen masyarakat sipil menggelar aksi bertajuk “Kalsel Lumpuh Jilid II” di depan Kantor DPRD Kalsel.
Aksi tersebut merupakan lanjutan dari aksi “Kalsel Lumpuh” yang digelar pada 20 Agustus 2026.

Dalam aksi kali ini mahasiswa membawa sejumlah tuntutan, di antaranya menyangkut penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), persoalan listrik, distribusi BBM bersubsidi hingga desakan pengesahan UU Perampasan Aset.
Mahasiswa juga meminta pemerintah mengambil langkah konkret menangani karhutla dan kabut asap yang dinilai terus berulang di Kalsel.
Selain itu, mereka mendesak adanya evaluasi terhadap penanganan karhutla serta meminta kebijakan yang lebih konkret untuk melindungi masyarakat dari dampak kebakaran dan asap.
Sejumlah pejabat Pemprov Kalsel dan pimpinan DPRD Kalsel sebelumnya telah menemui massa.
Namun Gubernur Kalsel Muhidin tidak terlihat hadir dalam pertemuan tersebut.
Situasi sempat mereda sekitar pukul 18.00 WITA.
Massa mahasiswa berjaket kuning memilih mundur dan meninggalkan lokasi.
Informasi yang diterima, waktu izin pelaksanaan aksi juga telah berakhir.
Pada waktu yang hampir bersamaan, suasana sempat hening sejenak karena massa aksi maupun aparat mengikuti prosesi penurunan bendera Merah Putih di Kantor DPRD Kalsel.
Namun menjelang Maghrib, ketegangan kembali terjadi.
Sebagian mahasiswa kembali mendekati pagar DPRD Kalsel dan berupaya menerobos masuk. Aparat kepolisian yang berada di dalam pagar kembali menahan pergerakan massa.
Mahasiswa kemudian mundur hingga kawasan depan Kantor BCA Banjarmasin untuk melakukan konsolidasi.
Tak lama berselang, massa kembali membentuk barisan dan bergerak menuju pagar DPRD Kalsel.
Hingga berita ini diturunkan, mahasiswa masih bertahan di sekitar kawasan Kantor DPRD Kalsel.
Aparat kepolisian juga tetap melakukan pengamanan untuk mencegah terjadinya benturan yang lebih besar.









