BOMINDONESIA.COM, PEKANBARU – Teror seekor monyet liar yang selama beberapa waktu terakhir membuat warga Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau, hidup dalam ketakutan akhirnya berakhir.
Satwa liar tersebut diketahui berulang kali menyerang warga secara tiba-tiba di kawasan permukiman mulai 25 Juli 2026.
Serangan ini menyebabkan sedikitnya 18 orang mengalami luka akibat gigitan dan cakaran.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Korban tidak hanya orang dewasa, tetapi juga anak-anak.
Beberapa di antaranya mengalami luka cukup serius hingga harus mendapatkan perawatan medis.
Kondisi itu membuat masyarakat resah, bahkan aktivitas warga sempat terganggu.
Teror monyet tersebut juga berdampak pada kegiatan belajar mengajar.
Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir sempat menerapkan kebijakan pembelajaran secara daring bagi sekolah-sekolah di wilayah terdampak demi menghindari risiko serangan terhadap para pelajar.
Dilansir dari Media Center Riau, setelah melalui proses pencarian dan evakuasi, monyet berekor panjang (Macaca fascicularis) itu akhirnya berhasil diamankan menggunakan kandang perangkap oleh tim gabungan yang terdiri dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Inhil, BPBD, TNI, Polri serta dibantu masyarakat.
Usai ditangkap, satwa tersebut langsung dibawa ke Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau di Pekanbaru untuk menjalani observasi.
Humas BBKSDA Riau, Reni, mengatakan observasi dilakukan karena perilaku agresif monyet tersebut dinilai tidak lazim dibandingkan monyet pada umumnya.”Ya, kita bawa ke BBKSDA Riau di Pekanbaru untuk observasi,” ujarnya, Kamis (6/8/2026)
Menurutnya, sebelum menjalani pemeriksaan lebih lanjut, monyet tersebut terlebih dahulu dikarantina di Klinik Arsari BBKSDA Riau.
Tim dokter hewan akan memeriksa kondisi fisik, perilaku, serta memastikan ada atau tidaknya penyakit yang mungkin diderita, termasuk kemungkinan paparan rabies.
Hasil observasi nantinya akan menjadi dasar bagi BBKSDA Riau dalam menentukan langkah penanganan selanjutnya terhadap satwa liar tersebut.
Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya penanganan konflik antara manusia dan satwa liar secara tepat, sehingga keselamatan masyarakat tetap terjaga tanpa mengabaikan upaya konservasi terhadap satwa yang dilindungi.
*/ Editor Mercurius










