Hartono Rekso Dharsono, Loyalis Soeharto yang Berakhir di Penjara Orde Baru – bomindonesia.com

Pos-pos Terbaru

Arsip

BOMINDONESIA.COM (bacaan orang modern indonesia)

Hartono Rekso Dharsono, Loyalis Soeharto yang Berakhir di Penjara Orde Baru

- Redaksi

Kamis, 1 Oktober 2026 - 19:16 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Hartono Rekso Dharsono, Loyalis Soeharto yang Berakhir di Penjara Orde Baru

Mayjen TNI (Purn) Hartono Rekso Dharsono, pangkat terakhir Letjen TNI, mantan Pangdam Siliwangi (1966-1969). / Ilustrasi: AI bomindonesia.com)

BOMINDONESIA.COM, JAKARTA–Hartono Rekso Dharsono, atau yang akrab disapa Pak Ton, merupakan salah satu tokoh militer yang ikut berperan dalam membangun Orde Baru.

Namun, perjalanan politiknya kemudian berbalik.

Orang yang pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan Soeharto menuju kekuasaan itu justru dipenjara oleh rezim Orde Baru.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bahkan, haknya untuk dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata dicabut setelah ia pernah menjalani hukuman penjara lebih dari satu tahun.

Menurut Salim Said, ada tiga king maker yang berperan dalam memuluskan jalan Soeharto menuju kekuasaan.

Mereka adalah Kemal Idris, Sarwo Edhie Wibowo dan Hartono Rekso Dharsono.

Dari ketiganya, nama Pak Ton disebut sebagai sosok yang paling tidak populer.

Pak Ton dikenal sebagai prajurit tangguh dan pemberani.

Salah satu kisah keberaniannya terjadi ketika Kota Soreang jatuh ke tangan Belanda.

Markas Besar yang ketika itu dipimpin Letkol Koesno Oetomo memerintahkan Letnan Ton untuk merebut kembali wilayah tersebut.

Berangkatlah pasukan yang berjumlah sekitar 90 hingga 100 orang pada larut malam.

Ketika rombongan tiba di Desa Cilame, mereka secara tidak terduga bertemu patroli Belanda.

Karena tidak sempat menghindar, pertempuran frontal pun terjadi.

Pertempuran melawan pasukan Belanda dengan persenjataan sederhana tentu tidak menguntungkan.

Apalagi, pasukan Belanda memiliki persenjataan yang lebih lengkap dan canggih.

Dalam baku tembak tersebut, Pak Ton terkapar tak sadarkan diri.

Darah membasahi tubuhnya setelah terkena berondongan senjata Sten Belanda dari jarak dekat.

Peluru menembus pipi kirinya dan keluar di belakang telinga kiri. Rusuk kirinya juga mengalami luka tembus hingga ke belakang.

Bagian daging di balik saku celana belakang kanan terkena peluru.

Ibu jari kaki kanan beserta sepatunya koyak, sementara tumit kaki kirinya juga tidak luput dari berondongan.

Pak Ton bahkan sempat tidak sadarkan diri selama sehari semalam tanpa perawatan dokter.

Saat itu hanya ada mantri dan obat-obatan sederhana.

Salah seorang anak buahnya yang juga tertembak kemudian meninggal dunia karena tetanus.

Menurut pengakuan Pak Ton, dalam kondisi tersebut ia hanya bisa menyerahkan nasibnya kepada Tuhan.

Berbulan-bulan kemudian, alat keseimbangan di telinga kirinya yang terkena peluru masih kerap mengalami gangguan sehingga membuat kepalanya pusing ketika menoleh secara tiba-tiba.

Dalam buku Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Orde Baru, Salim Said menyebut Pak Ton bersama Kemal Idris dan Sarwo Edhie Wibowo sebagai king maker andalan Soeharto.

“Mereka bertiga secara bersama telah bekerja keras menyingkirkan Sukarno agar terbuka jalan kekuasaan bagi Soeharto,” tulis Salim Said.

Namun, setelah Orde Baru semakin mapan, posisi Pak Ton justru mulai tersisih.

Ia sempat ditempatkan sebagai duta besar.

Tidak berhenti di situ. Pak Ton kemudian menjadi salah satu sosok yang kritis terhadap pemerintahan Orde Baru dan ABRI.

Ia berpandangan bahwa Dwifungsi ABRI seharusnya mendorong sektor sipil, bukan menjadi sarana untuk melanggengkan kekuasaan militer.

Kekecewaan tersebut kemudian membawanya bergabung dengan Forum Studi dan Komunikasi (Fosko) TNI AD dan menjadi sekretaris jenderalnya.

Kelompok ini dikenal kritis terhadap pemerintahan Soeharto.

Pak Ton juga dikaitkan dengan Petisi 50.

Namanya kemudian terseret dalam kasus peledakan kantor BCA Pecenongan pada 1984 dan rapat-rapat yang digelar setelah Peristiwa Tanjung Priok pada tahun yang sama.

Pak Ton ditangkap bersama AM Fatwa dan HM Sanusi.

Pada 8 November 1984, Pak Ton ditahan Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta di LP Salemba.

Perkaranya kemudian diajukan ke pengadilan pada 19 Agustus 1985.

Ia dinyatakan bersalah melakukan delik politik dan tindak subversif karena menghadiri rapat-rapat yang dikaitkan dengan kasus pengeboman tersebut.

Pada 8 Januari 1986, pengadilan menjatuhkan hukuman 10 tahun penjara.

Hukuman tersebut lima tahun lebih ringan dibanding tuntutan jaksa.

Setelah mengajukan banding, hukuman Pak Ton dikurangi menjadi tujuh tahun.

Ia kemudian mendapat sejumlah remisi setiap 17 Agustus dan akhirnya bebas dari LP Cipinang pada 16 September 1990.

Tidak lama setelah bebas, kondisi kesehatannya memburuk.

Pak Ton meninggal dunia karena kanker setelah sekitar dua minggu menjalani perawatan di Rumah Sakit Advent Bandung, tepatnya pada 5 Juni 1996.

Jenazahnya dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Sirnaraga, Bandung, dengan upacara kemiliteran.

Hak untuk dimakamkan di Taman Makam Pahlawan tidak lagi dimilikinya karena pernah menjalani hukuman penjara lebih dari satu tahun.

Perlakuan negara terhadap Pak Ton tersebut turut mengecewakan sejumlah tokoh.

Ali Sadikin termasuk salah satu yang menyatakan kekecewaannya.

Begitu pula dengan Kemal Idris, rekan Pak Ton dalam perjalanan awal Orde Baru.

Dari seorang prajurit yang ikut membuka jalan bagi lahirnya Orde Baru,

Pak Ton akhirnya menjadi salah satu tokoh yang justru merasakan kerasnya kekuasaan yang pernah ikut dibangunnya.

* / Editor : Mercurius

Follow WhatsApp Channel bomindonesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Arsip Aktuil: Emilia Contessa Pernah Terseret Sengketa Hak Cipta Lagu “Kehancuran”
Ketika Resimen Pelopor Menyerang Markas RPKAD di Cijantung
Antusias Haul Wali Pacah Ampat Kotabaru dan Cerita Tubuh Wali yang Terbagi Empat
Aksi Dadakan Joey Jordison Selamatkan Penampilan Metallica di Download Festival 2004
Ketika Perompak Somalia Salah Pilih Lawan
Evolusi Nama Banjarmasih, Bandarmasih Hingga Banjarmasin
Festival Folk Song ’74 di Banjar Raya, Demam Musik Rakyat di Banjarmasin yang tak Pernah Benar-benar Padam
In Memoriam Rudy Laturete Cerita Pantera, Gang Tera, dan Jejak Rock yang Tak Pernah Mati

Berita Terkait

Kamis, 1 Oktober 2026 - 19:16 WITA

Hartono Rekso Dharsono, Loyalis Soeharto yang Berakhir di Penjara Orde Baru

Minggu, 21 Juni 2026 - 00:38 WITA

Arsip Aktuil: Emilia Contessa Pernah Terseret Sengketa Hak Cipta Lagu “Kehancuran”

Minggu, 7 Juni 2026 - 02:02 WITA

Ketika Resimen Pelopor Menyerang Markas RPKAD di Cijantung

Selasa, 31 Maret 2026 - 14:49 WITA

Antusias Haul Wali Pacah Ampat Kotabaru dan Cerita Tubuh Wali yang Terbagi Empat

Sabtu, 14 Maret 2026 - 13:50 WITA

Aksi Dadakan Joey Jordison Selamatkan Penampilan Metallica di Download Festival 2004

Berita Terbaru

Babak Baru Kasus KM Virgo Transport 8, Nahkoda Ditetapkan Tersangka

Halo Indonesia

Babak Baru Kasus KM Virgo Transport 8, Nahkoda Ditetapkan Tersangka

Rabu, 30 Sep 2026 - 23:50 WITA

Verified by MonsterInsights