BOMINDONESIA.COM, JAKARTA – CEO Nvidia, Jensen Huang, bikin pernyataan mengejutkan. Sosok yang dijuluki “Manusia Rp2.300 Triliun” ini justru nggak nyaranin anak muda buat ambil kuliah di jurusan IT atau software. Lho, terus jurusan apa dong yang menurut dia lebih oke?
Menurut Huang, kalau dia sekarang berusia 20-an dan baru lulus, dia nggak akan pilih teknologi informasi, tapi malah condong ke ilmu fisika.
“Kalau saya masih muda sekarang, saya lebih milih ilmu fisika daripada software,” ucap Huang dalam wawancara bareng CNBC, Kamis (17/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
FYI, Huang sendiri lulusan teknik elektro dari Oregon State University dan punya gelar master dari Stanford University. Pada 1993, dia mendirikan Nvidia bareng Chris Malachowsky dan Curtis Priem. Sekarang, Nvidia jadi perusahaan chip paling bernilai di dunia, bahkan sempat tembus kapitalisasi pasar US$4 triliun (sekitar Rp64.884 triliun).
Kenapa fisika?
Huang menjelaskan, dalam 15 tahun terakhir dunia udah masuk ke berbagai fase perkembangan AI. Mulai dari Perception AI, lalu Generative AI, sekarang masuk ke era Reasoning AI, dan bakal lanjut ke fase yang lebih kompleks yaitu Physical AI.
Dia menyebut, gelombang pertama AI modern dimulai saat AlexNet diluncurkan sekitar tahun 2012. Model itu jadi pemicu perkembangan AI berkat kemampuan deep learning-nya buat mengenali gambar.
Setelah itu, muncul AI Generatif, yang bisa mengerti makna dan bikin konten baru dalam bentuk teks, gambar, kode, dan lainnya.
Saat ini, menurut Huang, kita udah masuk ke tahap Reasoning AI, yaitu kecerdasan buatan yang bisa memahami, memecahkan masalah, dan bikin keputusan dari situasi yang belum pernah dihadapi sebelumnya.
Nah, tahap berikutnya ini yang menurut dia paling seru: Physical AI. Di sinilah ilmu fisika bakal jadi kunci.
“Physical AI ini menuntut pemahaman tentang hukum fisika, seperti gesekan, gaya, kelembaman, dan sebab-akibat,” katanya. Jadi, bukan cuma pintar ngolah data, AI masa depan harus bisa mikir layaknya manusia saat berinteraksi dengan dunia nyata.
Contohnya, AI bisa memperkirakan ke mana bola bakal menggelinding, atau tahu seberapa keras harus mencengkeram benda biar nggak rusak. Bahkan bisa menyimpulkan keberadaan pejalan kaki meski nggak kelihatan.
Kalau AI jenis ini dipasang ke robot, kita bakal punya robot-robot canggih yang bisa bantu kerja manusia.
“Harapannya, dalam 10 tahun ke depan, saat pabrik dan fasilitas produksi makin modern, kita punya sistem robotik yang bisa bantu atasi krisis tenaga kerja global,” kata Huang.
Dengan pernyataan ini, jelas bahwa Huang nggak meremehkan jurusan IT, tapi dia melihat tren masa depan bakal banyak butuh pemahaman dunia fisik lewat pendekatan seperti fisika dan robotika.
Sumber: CNN Indonesia
Editor: Redaksi BOMINDONESIA












