BOMINDONESIA.COM, BANJARBARU – Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan menggelar Rapat Koordinasi Optimalisasi Lahan dan Cetak Sawah di Banjarbaru, Kamis (17/7/2025). Rakor ini sebagai langkah konkret mempercepat program swasembada pangan nasional.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setdaprov Kalsel Ariadi Noor membuka rakor sekaligus mewakili Sekda Kalsel, dan dihadiri Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian Kementan RI Andi Nur Alam Syah, dan Plt Dirjen Lahan dan Irigasi, Hermanto.
Ariadi Noor menyebutkan program cetak sawah dan optimalisasi lahan ini bukan hanya sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), tetapi juga menjadi bagian dari visi pembangunan daerah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurutnya, Kalsel sedang diarahkan untuk menjadi Gerbang Logistik Kalimantan sekaligus daerah penyangga ketahanan pangan nasional.
“Nilai strategis Kalsel bukan hanya sebagai jalur distribusi, tetapi juga sebagai produsen utama. Kita menjadi broker dan produser. Salah satu fokus kita adalah sektor pertanian, terutama komoditas padi, disamping sektor perkebunan, peternakan, dan perikanan,” ujar Ariadi.
Plt Dirjen Lahan dan Irigasi Kementerian Pertanian Hermanto memastikan, program cetak sawah bagian dari strategi nasional untuk mempercepat swasembada pangan. Presiden melalui Menteri Pertanian menargetkan agar penanaman di lahan cetak baru sudah bisa dimulai paling lambat akhir September 2025.
“Strateginya jelas: kita percepat Survei Investigasi Desain (SID) dan langsung masuk konstruksi. Ini tidak bisa dikerjakan sendiri-sendiri, makanya kita bentuk tim terpadu yang melibatkan pusat, provinsi, kabupaten, TNI, Kejaksaan, dan Satgas Pangan,” tuturnya.
Ia menambahkan, Kalsel ditarget 30.000 hektare cetak sawah tahun 2025, progres SID saat ini telah mencapai 60–70 persen. “Begitu SID rampung, kita langsung eksekusi konstruksi. Tidak boleh menunggu. Sistemnya paralel,” jelasnya.
Hermanto optimis target dapat tercapai asalkan seluruh pihak bekerja secara cepat dan serempak. Keterlambatan bukan karena hambatan teknis, melainkan karena perlunya perencanaan yang matang. “Perencanaan ini fondasi. Kalau sudah siap, pelaksanaan akan langsung jalan,” bebernya.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kalsel Syamsir Rahman menyatakan, pihaknya tidak menunggu pasif dalam pelaksanaan program.
‘Kegiatan Optimalisasi Lahan (Oplah) sudah berjalan di sejumlah wilayah seperti Kabupaten Banjar dan Barito Kuala, yang dilaksanakan langsung oleh TNI,” paparnya.
Bahkan, ucap Syamsir, pihaknya tetap bergerak, meski DIPA (Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran) belum keluar. Oplah jalan, TNI sudah mulai kerja. “Untuk cetak sawah, kita tinggal tunggu DIPA dan langsung kontrak konstruksi,” katanya.
Pemprov Kalsel sangat serius. “Jika ada daerah atau pelaksana yang lambat, akan dilakukan evaluasi cepat,” tandasnya.
Terkait realisasi, dari target 30.000 hektare lahan cetak sawah tahun ini, baru sekitar 1.500 hektare yang telah terbuka. Namun, Syamsir optimis jika seluruh pihak bekerja serempak, percepatan bisa dilakukan.
“Kalau ada 20 alat berat bekerja serentak satu hari satu hektare, kita bisa capai target dalam waktu singkat,” tambahnya lagi.
Rapat menghasilkan kesepakatan pembentukan tim terpadu lintas instansi yang akan bertugas melakukan pengawasan, monitoring, hingga evaluasi secara ketat terhadap pelaksanaan program cetak sawah.
‘Tim ini akan turun langsung ke tingkat kabupaten/kota, dipimpin oleh bupati, dan didampingi unsur provinsi dan pusat,’ imbuhnya. (adv/diskominfo)












