BOMINDONESIA.COM,BANJARMASIN-Boneka beruang itu hampir sebesar tubuh Adel.
Warnanya cokelat muda, bulunya lembut, dan kini menjadi teman paling setia bocah 11 tahun itu di atas ranjang rumah sakit.
Adel memeluknya erat, seolah tak ingin melepaskan satu-satunya rasa aman yang ia miliki saat ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Di ruangan yang sama, beberapa langkah dari Adel, adiknya Jailani (5) terbaring dengan kaki kiri yang sebentar lagi akan dioperasi.
Sesekali bocah lelaki itu meringis, lalu memalingkan wajah setiap kali melihat orang berseragam medis.
Trauma masih melekat kuat di ingatannya.
Adel dan Jailani adalah dua anak yatim piatu asal Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar.
Tiga tahun lalu, hidup mereka berubah selamanya. Sebuah kecelakaan lalu lintas di Kapuas, Kalimantan Tengah, merenggut kedua orang tua mereka dalam satu peristiwa tragis. Sejak hari itu, masa kecil Adel dan Jailani tak lagi sama.
Adel selamat, tetapi tangan kanannya mengalami gangguan saraf.
Ia tak mampu menggenggam dengan sempurna, bahkan menulis pun tak bisa.
Jailani juga selamat, namun luka di kaki kirinya meninggalkan bekas yang membutuhkan tindakan operasi.
Di balik luka fisik itu, trauma psikologis membekas lebih dalam—terutama bagi Jailani, yang hingga kini masih ketakutan setiap melihat dokter.
Tak banyak yang tahu kisah mereka, hingga Sabtu (17/1/2026), Kapolda Kalimantan Selatan Irjen Pol Rosyanto Yudha Hermawan bertemu langsung dengan Adel dan Jailani saat melakukan pemantauan banjir.
Dari pertemuan singkat itu, sebuah keputusan besar diambil: negara tak boleh membiarkan dua anak ini berjuang sendirian.
Senin (19/1/2026), Kapolda Kalsel datang langsung ke RS Bhayangkara Banjarmasin.
Ia berdiri di sisi ranjang Adel, berbicara dengan nada tenang, mencoba menenangkan anak kecil yang hidupnya telah dipenuhi terlalu banyak kehilangan.
“Tindakan medis ini kita lakukan demi masa depan mereka,” ucap Kapolda.
Jailani dijadwalkan menjalani operasi kaki pada Rabu mendatang oleh tim dokter spesialis bedah, dr. Indro Sp.B.
Sementara Adel harus menjalani pengkajian mendalam oleh tim medis yang dipimpin dr. Aditya, Sp.OT, terkait cedera saraf pada tangan kanannya.
“Untuk Adel, penanganannya bertahap. Kita lihat hasil kajian tim dokter.
Operasi direncanakan di RS Bhayangkara, dan jika perlu akan kita rujuk ke RS Polri Kramat Jati di Jakarta,” jelas Kapolda.
Baginya, ini bukan sekadar urusan medis. Ini tentang masa depan dua anak yang hampir kehilangan harapan.
“Pengobatan akan kita lakukan sampai nanti mereka kembali normal.
Ini untuk masa depan mereka,” tegasnya.
Awalnya, pihak keluarga sempat ragu dan takut terhadap tindakan operasi. Namun setelah pendampingan dan penjelasan yang intensif, keluarga akhirnya mengizinkan langkah medis tersebut.
“Sekarang anak-anak ini kita rawat untuk persiapan operasi,” ujar Kapolda.
Tak berhenti di situ, Kapolda juga membuka peluang bantuan lanjutan. Bersama para Pejabat Utama Polda Kalsel, ia berencana merumuskan bentuk pendampingan jangka panjang bagi Adel dan Jailani.
“Kita akan diskusikan. Konsepnya seperti apa, dalam satu dua hari ini akan kita rapatkan. Harapan kita, cita-cita Adel menjadi guru bisa terwujud,” katanya.
Selain fisik, luka batin Adel dan Jailani juga menjadi perhatian.
Ketua Bhayangkari Daerah Kalsel, Yennie Rosyanto Yudha Hermawan, menegaskan bahwa trauma healing menjadi prioritas sebelum tindakan medis lanjutan.
“Kami ingin tahu sedalam apa trauma yang mereka alami. Trauma ini tidak bisa diabaikan. Semoga Ananda Adel dan Jailani segera diberikan kesembuhan dan pemulihan,” tuturnya.
Kabid Dokkes Polda Kalsel Kombes Pol dr. Muhammad El Yandiko menjelaskan bahwa kondisi Adel masih memerlukan pemeriksaan lanjutan.
“Belum bisa dipastikan apakah gangguan pada tangan Adel berasal dari saraf pusat atau faktor lain.
Karena itu, kami belum menentukan secara pasti tindakan selanjutnya akan dilakukan di mana,” jelasnya.
Untuk Jailani, prognosisnya dinilai baik.
“Insya Allah prognosisnya bagus. Kita doakan semoga operasi berjalan lancar dan hasilnya juga baik,” imbuhnya.
Sang nenek, Anisa Marita, yang kini menjadi sandaran hidup Adel dan Jailani, mengenang peristiwa nahas itu dengan suara bergetar.
“Mereka naik satu motor. Di depan Adel, lalu ayahnya, di tengah Jailani, dan di belakang ibunya,” kenangnya.
Motor yang mereka tumpangi melintas di jalan rusak. Sebuah truk dari belakang mencoba menyalip dan menyerempet kendaraan mereka.
Benturan keras itu merenggut nyawa sang ayah, Muhammad Haris, beberapa menit setelah tiba di puskesmas. Sang ibu, Husnul Khatimah, menyusul tak lama kemudian akibat pendarahan hebat.
Adel dan Jailani selamat, tapi masa kecil mereka tercabik. Selama lebih dari setahun, keluarga menyembunyikan kabar kematian kedua orang tua mereka demi menjaga kondisi mental anak-anak itu.
“Kalau ditanya bapak dan mama, kami bilang masih kerja,” ucap sang nenek lirih.
Kini, di balik tembok rumah sakit dan selang infus, harapan perlahan tumbuh.
Boneka beruang di pelukan Adel bukan lagi sekadar mainan, melainkan saksi bahwa di tengah luka dan kehilangan, masih ada tangan-tangan yang datang membawa harapan.
Dan untuk Adel serta Jailani, mungkin inilah awal dari cerita baru—tentang masa depan yang akhirnya memberi mereka kesempatan untuk bermimpi kembali.
*/Editor: Mercurius












