BOMINDONESIA.COM, BANJARMASIN – Ditengah bahagia menyambut siswa baru. Beberapa bangunan sekolah SD di Banjarmasin cukup memprihatinkan. Ada yang atapnya bocor, lantainya jebol dan kerusakan lainnya.
Sebagian besar, kerusakan gedung sekolah karena usia tua, sehingga material bangunannya sudah banyak yang lapuk.
Kerusakan fasilitas pendidikan itu bisa ditemui di SDN Mawar 4 dan SMPN 33 Banjarmasin yang mengalami retak bagian dinding dan atap yang bocor. Kemudian ditambah dengan aroma tak sedap karena sanitasi yang tidak baik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ada juga sekolah lainnya di SDN Melayu 5, yang hingga kini pihak sekolah hanya memanfaatkan ruangan yang ada pasca kebakaran Juli 2024 lalu.
SD ini bangunan utama seperti ruang kelas, ruang guru, perpustakaan, hingga UKS hangus terbakar.
Situasi itu tentu berdampak pada kenyamanan belajar dan resiko kualitas pendidikan.
Selanjutnya lagi ada di SDN Teluk Dalam 3, yang menghadapi kerusakan serius pada atap bangunan dan laboratorium komputer.
Ruangan yang seharusnya menjadi tempat siswa mengasah keterampilan teknologi kini tak bisa digunakan.
Lalu, SDN Mawar 7, sekolah unggulan yang berada di Jalan Cempaka IX, Kelurahan Mawar, Banjarmasin Tengah ini juga menyimpan catatan merah. Berdasarkan pemeriksaan Dinas PUPR pada Oktober 2024, kerusakan bangunan mencapai 68 persen.
Sekolah ini juga menghadapi tantangan dalam menyelenggarakan pendidikan inklusif. Fasilitas yang tak ramah disabilitas, seperti tangga tanpa jalur landai, menjadi penghambat bagi siswa berkebutuhan khusus.
Kondisi serupa terjadi di SDN Karang Mekar 1, di mana sistem belajar bergilir harus diberlakukan karena ruang kelas yang rusak parah. Retakan besar di salah satu bangunan sekolah diduga berasal dari pondasi yang melemah. Meski kerusakan ini sudah terjadi sejak tahun lalu, hingga kini belum ada upaya perbaikan berarti.
Akses menuju sekolah pun menjadi tantangan tersendiri. Seperti di SDN Sungai Jingah 5, jalan sempit yang kerap tergenang banjir menjadi hambatan harian bagi siswa dan guru.
Kondisi lebih ekstrem terjadi di SDN Basirih 10. Akses jalan berlumpur sepanjang 700 meter memaksa siswa berjalan kaki setiap hari. Tak jarang sepatu basah dan baju kotor menjadi bagian dari rutinitas mereka sebelum sampai di kelas.
Kepala Bidang SD Disdik Kota Banjarmasin, Qayyim membenarkan hal tersebut. Menurutnya bahwa dari 203 jumlah SD di Banjarmasin 40 persennya mengalami kerusakan sedang hingga parah.
Kendati itu, Disdik belum bisa memperbaiki semuanya secara langsung karena terhalang oleh anggaran.
Sehingga perbaikan gedung SD terpaksa harus mengantri dan kemudian melihat sisi urgensinya.
“Bila mendesak, misanya seperti kebakaran itu harus didahulukan. Tapi jika anggaran memungkinkan, semuanya bisa saja diperbaiki, yah tergantung anggaran,” katanya.
“Bila satu gedung saja rata-rata membutuhkan anggaran 1-2miliar. Maka tentu perlu biaya yang besar jika 40 persen dari 203 sekolah itu,” tutupnya.
Penulis : Hamdani












