BOMINDONESIA.COM, BANJARMASIN – Rupiah semakin melemah per dollar mencapai Rp 17.600. Kenaikan harga komodity barang impor semakin melambung dan daya beli masyarakat otomatis melesu.
Kondisi nilai dollar apabila terus meningkat tentu beresiko fatal bagi perekonomian nasional. Apabila tidak disikapi dengan cermat.
Akademisi Universitas Islam Kalimantan (Uniska) MAB, Prof M Zainul pun menyoriti fenomena kenaikan dollar tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kata Zainul, dengan kenaikan dolar sampai menyentuh angka Rp.17 ribu tentunya memiliki dampak terhadap kenaikan harga dari berbagai macam komodity atau produk terutama komodity atau produk import.
Apalagi import Indonesia didominasi oleh bahan baku. Dengan kenaikan harga dari berbagai komodity tersebut mengakibatkan daya beli Masyarakat menjadi turun.
“Dollar naik, barang impor akan melonjak dan berdampak pada daya beli masyarakat,” ucapnya.
Profesor ilmu ekonomi ini melanjutkan, dampak bagi perusahaan yang struktur modalnya sebagian bersumber dari pinjaman luar negeri dalam bentuk Dolar sudah barang tentu juga mengalami pengaruh yang besar. Hutangnya kalau dirupiahkan akan mengalami lonjakan yang cukup besar.
Meskipun kondisi ini menekan perekonomian, namun ujar Zainul kita masih bisa bertahan yakni Mengoptimalkan produksi dalam negeri dengan memanfaatkan bahan baku yang bersumber dari dalam negeri.
Kemudian pemerintah harus mendorong menggalakkan peningkatan produk dalam negeri agar bisa bersaing hingga pasar global.
Selanjutnya, upaya yang harus dilakukan untuk menjaga agar nilai rupiah tidak tertekan begitu tajam antara lain Bank Indonesia harus melakukan interpensi pasar dalam jumlah yang terkendali.
Meningkatkan eksport agar devisa negara meningkat, menaikan suku bunga pada Bank agar masyarakat tidak melakukan spekulasi ikut ikutan membeli Dollar dan berbagai Instrument lainnya yang bisa dilakukan.
penulis : Hamdani












