BOMINDONESIA.COM, BANJARMASIN – Sejumlah sekolah negeri tingkat SMP di Kota Banjarmasin mengalami kekurangan siswa. Fenomena ini bahkan sudah terjadi bertahun-tahun dan berlarut minim solusi.
Apakah hal tersebut dampak dari sistim Pelaksanaan Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) atau ada faktor lainnya yang diluar kendali.
Lantas apakah ada yang salah dengan sistem SPMB yang sudah menerapkan sistim zonasi, afirmasi, prestasi dan perpindahan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut Kepala Dinas Pendidikan Kota Banjarmasin, Ryan Utama, ada beberapa faktor penyebab minimnya pendaftar disejumlah sekolah tingkat SMP.
Pertama, salah satu pemicu utamanya adalah pergeseran demografi penduduk dan lokasi pemukiman yang terus berubah secara alamiah.
”Kita tahu ada perubahan demografi di Kota Banjarmasin. Perubahan lokasi pemukiman dan lain-lain itu mulai bergeser. Yang tadinya padat di Banjarmasin Tengah atau Banjarmasin Barat, sekarang mulai menyebar ke wilayah lain. Itu adalah perubahan demografis yang tidak bisa dihindari dan sangat memengaruhi jalur pendaftaran, khususnya zonasi,” ujarnya.
Selain faktor geografis dan kependudukan, Ryan menyebutkan bahwa makin banyaknya alternatif pilihan sekolah di luar sekolah negeri turut memengaruhi minat pendaftar.
Menurutnya, pemerintah tidak bisa memaksakan hak orang tua untuk memilih tempat pendidikan terbaik bagi anak mereka.
”Tentu kita tidak bisa memaksakan semua orang tua atau pelajar untuk mendaftar di sekolah negeri. Namun, kewajiban kita adalah terus meningkatkan kualitas dan memberikan yang terbaik di sekolah negeri. Apalagi sekarang pilihan alternatif sekolah sudah sangat banyak,” tambahnya.
Guna mengatasi ketimpangan daya tampung dan jumlah pendaftar, Disdik Banjarmasin tidak tinggal diam.
Ryan menegaskan pihaknya tengah melakukan analisis mendalam untuk memetakan sekolah-sekolah yang memerlukan penanganan khusus, baik berupa penggabungan maupun pembukaan sekolah baru.
”Kami mencoba menganalisa sekolah-sekolah mana yang akan kita grouping, yang memang minim pendaftar. Tetapi itu memerlukan tahapan. Di sisi lain, kita juga mengkaji bagaimana memunculkan sekolah baru untuk memenuhi wilayah yang daya tampungnya harus lebih banyak,” jelas Ryan.
Kajian komprehensif tersebut nantinya akan mengacu pada data usia anak di setiap kawasan secara berkala. Dengan begitu, proyeksi kebutuhan sekolah di masa depan dapat dipetakan secara akurat.
”Setiap tahunnya pasti akan diperkirakan, anak yang saat ini usia berapa, di tahun berapa akan masuk sekolah. Data usia pelajar di tiap kawasan ini akan kami perhatikan betul sebelum mengambil keputusan untuk menambah sekolah baru atau melakukan grouping,” tegasnya.
Terkait sistem pendaftaran online yang telah berjalan, Disdik Banjarmasin memastikan terus mengawal pemenuhan hak pendidikan bagi siswa yang belum mendapatkan sekolah.
Pada pemenuhan tahap kedua kemarin, sistem telah mengakomodasi para pelajar yang belum tertampung pada pilihan pertamanya, sekaligus mengisi kuota di sekolah-sekolah yang masih memiliki daya tampung kosong.
”Melalui tahapan online kemarin, termasuk di tahap kedua, pergerakan siswa yang tidak tertampung di pilihan awal dan sekolah yang masih menyisakan kuota sudah kita fasilitasi. Dari situ kita juga sekaligus merapikan data baseline untuk evaluasi ke depan,” pungkas Ryan.












