BOMINDONESIA.COM, JAKARTA – Di penghujung era 1980-an, nama Eet Syahrani begitu bersinar hingga dijuluki sebagai “Eddie Van Halen”-nya Indonesia.
Namun di balik popularitas itu, ada satu gitaris muda dengan kemampuan yang tak kalah dahsyat, tetapi perjalanan kariernya tidak seberuntung Eet.
Sosok itu adalah Tjahyo Wisanggeni.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Lahir di Medan, Sumatera Utara, pada 21 September 1965, Tjahyo merupakan putra pasangan Sukarton Marmosudjono, yang pernah menjabat sebagai Jaksa Agung Republik Indonesia, dan Lastri Fardani.
Permainan gitarnya dikenal sangat dipengaruhi oleh para maestro dunia seperti Yngwie J. Malmsteen, Steve Vai, Jason Becker, hingga Michael Brecker.
Teknik sweep picking, kecepatan jemari, serta harmoni yang kuat menjadikan Tjahyo sebagai salah satu gitaris shred terbaik yang pernah dimiliki Indonesia.
Pada 1992, ia merilis album solo instrumental bertajuk From the Other Side yang berisi delapan lagu.
Album tersebut mendapat apresiasi dari kalangan pecinta musik rock karena menyuguhkan permainan gitar yang kompleks dengan melodi yang kuat dan penuh karakter.
Setahun kemudian, Tjahyo membentuk grup Nosferatu, sebuah band beraliran thrash metal.
Formasi band ini terbilang istimewa dengan bergabungnya bassist Ricky Wolking (King Sheeba, Red Satyr, Slam), drummer asal Amerika Serikat Mark Bistany (Impellitteri), serta vokalis Agus Lasmono.
Pada 1994, Nosferatu merilis album penuh berjudul Visible but Untouched melalui Musica Production dalam format kaset.
Album tersebut memuat 10 lagu, di antaranya Thermal Destruction, World of Policy, Taste Like Chicken, serta sejumlah lagu lain yang memperlihatkan kualitas musik metal Indonesia pada era tersebut.
Meski namanya tak setenar sejumlah gitaris rock lain di masanya, Tjahyo Wisanggeni tetap dikenang sebagai salah satu virtuoso gitar Indonesia yang memiliki teknik bermain kelas dunia.
Tjahyo Wisanggeni mengembuskan napas terakhir pada 28 Juli 2020, namun karya dan permainan gitarnya masih dikenang para penikmat musik rock dan metal Indonesia hingga kini.
*/ Editor Mercurius









