BOMINDONESIA.COM,- Minggu pagi. Libur sekolah hampir usai, tahun ajaran baru sudah di depan mata.
Di depan sebuah toko seragam, antrean mengular.
Ibu-ibu sibuk memilih ukuran baju, bapak-bapak membantu membawa belanjaan, sementara anak-anak sesekali bercermin dengan seragam baru yang akan mereka kenakan pada hari pertama sekolah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pemandangan itu mungkin terlihat biasa.
Padahal, di sanalah harapan sebuah bangsa sedang mengantre.
Di antara kerumunan itu ada buruh, pedagang, sopir, ASN, petani, nelayan, guru hingga pekerja swasta.
Penghasilan mereka berbeda-beda, tetapi tujuannya sama: mengantarkan anak menuju gerbang cita-cita.
Tidak semua datang dengan kondisi ekonomi yang lapang.
Ada yang menguras tabungan, menunda kebutuhan lain, meminjam kepada keluarga atau tetangga, bahkan ada yang terpaksa mencari pinjaman.
Semua dilakukan karena mereka percaya pendidikan adalah jalan agar kehidupan anak-anak mereka kelak lebih baik.
Namun, di saat yang sama, masyarakat juga menyaksikan berbagai pengangkatan jabatan strategis yang memunculkan tanda tanya.
Mulai dari seorang asisten figur publik yang dipercaya menjadi komisaris BUMN, hingga sejumlah staf khusus, tenaga ahli, ataupun wakil menteri yang pengangkatannya ramai diperdebatkan di ruang publik.
Bukan berarti semuanya tidak layak, tetapi perdebatan itu menunjukkan satu hal: masyarakat semakin berharap jabatan publik benar-benar diisi berdasarkan kompetensi, integritas, dan rekam jejak.
Ketika posisi penting lebih sering dikaitkan dengan kedekatan, relasi, atau pertimbangan politik daripada kemampuan, wajar jika muncul kegelisahan.
Jangan sampai anak-anak yang hari ini mengenakan seragam baru justru tumbuh dengan keyakinan bahwa kerja keras dan prestasi bukan lagi jalan utama untuk meraih kesempatan.
Bangsa yang maju dibangun di atas prinsip sederhana, the right man on the right place.
Orang yang tepat berada di posisi yang tepat. Sebab jabatan bukanlah hadiah, melainkan amanah yang menuntut kemampuan.
Cermin kali ini bukan untuk menghakimi siapa pun. Justru sebaliknya, sebagai pengingat bahwa jutaan orang tua sedang berjuang dengan segala keterbatasannya demi satu harapan: melihat anak-anak mereka berhasil melalui pendidikan, bukan karena kedekatan.
Untuk anak-anak Indonesia, tetaplah belajar dan bermimpi setinggi mungkin. Jangan biarkan semangat padam oleh keadaan.
Dan untuk para orang tua yang rela berdesakan membeli seragam, percayalah bahwa pengorbanan itu tidak pernah sia-sia.
Selamat memasuki Tahun Ajaran Baru 2026/2027. Selamat belajar dan teruslah mengejar cita-cita.
Semoga kerja keras anak-anak Indonesia kelak benar-benar bertemu dengan kesempatan yang adil.
Penulis Mercurius
(Wartawan bomindonesia com)









