BOMINDONESIA.COM,
Video itu hanya beberapa detik. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya terlihat memutar-mutar pulpen saat
Presiden Rusia Vladimir Putin tengah berbicara
Momen tersebut terjadi saat Presiden Prabowo Subianto melakukan kunjungan kenegaraan ke Rusia untuk menghadiri Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Vladivostok.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Publik Indonesia pun ramai. Di media sosial, gestur itu dinilai tidak beretika, tidak fokus, bahkan merusak citra diplomasi.
Ada pula yang membela, menyebut itu kebiasaan biasa dan tidak perlu dibesar-besarkan.
Persoalannya, kamera juga merekam momen Putin terlihat melirik tajam ke arah Teddy saat pulpen itu terus diputar.
Rekaman lain menyebut momen itu terjadi saat Putin sedang menyampaikan remarks-nya.
Kita perlu tahu Vladimir Putin.
Ia bukan politisi biasa.
Ia adalah mantan perwira KGB, dinas intelijen Uni Soviet, yang bertugas pada 1975-1991.
Latar belakang itu membentuk karakternya sebagai sosok yang detail, dingin, dan sangat memperhatikan gestur lawan bicara.
Berdasarkan literatur intelijen, termasuk yang ditulis pemerhati intelijen A.C. Manullang dalam buku-buku tentang dunia intelijen, tugas intelijen tidak hanya mengumpulkan informasi.
Lebih dari itu, intelijen juga dilatih untuk melakukan operasi pengaruh, membaca psikologi lawan, dan melemahkan konsentrasi lawan dari dalam.
Dengan latar belakang seperti itu, seorang mantan intelijen terbiasa membaca hal-hal kecil.
Di meja perundingan tingkat tinggi, hal kecil bisa dibaca sebagai hal besar.
Pola pengawalan Putin yang sangat ketat bukan rahasia.
Publik pernah melihat bagaimana pengawal Kim Jong Un yang mencoba mendekat ke Putin usai pertemuan di China langsung dicegah oleh pengawal Kremlin.
Pada momen lain, publik juga menyoroti pengawal Korea Utara yang langsung bergerak cepat menyeka kursi, meja, hingga mengamankan gelas bekas minum Kim Jong Un begitu pertemuan santai usai.
Protokol super ketat ini sengaja dilakukan demi memastikan tidak ada sehelai rambut, air liur, atau sidik jari Kim Jong Un yang tertinggal agar tidak bisa dicuri atau dianalisis secara medis oleh intelijen asing
Teddy adalah prajurit Kopassus, pengawal setia, dan kini Sekretaris Kabinet.
Dengan latar belakang militernya yang berasal dari pasukan elit tentu paham soal disiplin, dan soal membaca situasi.
Insiden pulpen ini mungkin terlihat kecil. Namun dalam diplomasi tingkat tinggi, adab adalah bahasa itu sendiri.
Gerakan kecil seperti memutar pulpen, melipat tangan, atau pandangan yang tidak fokus bisa ditafsirkan sebagai sikap tidak hormat.
Hubungan Indonesia-Rusia selama ini baik.
Insiden pulpen ini mungkin kecil, tapi di meja Putin, hal kecil bisa dibaca sebagai hal besar.
Gerakan kecil seperti memutar pulpen, melipat tangan, atau pandangan yang tidak fokus bisa dibaca sebagai sinyal tidak hormat, apalagi di depan sosok seperti Putin yang latar belakangnya intelijen.
Hubungan Indonesia-Rusia baik, tapi di dunia intelijen tidak ada kawan abadi, yang ada hanya kewaspadaan abadi. Pulpen kecil bisa menimbulkan tafsir besar.
Mercurius
(wartawan bomindonesia.com)









