BOMINDONESIA.COM,
Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur
Tema yang terdengar indah untuk merayakan 81 tahun Proklamasi Kemerdekaan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Tetapi di balik upacara, kibaran Merah Putih dan berbagai seremoni, ada sesuatu yang mungkin perlu kita renungkan lebih dalam.
Di sejumlah daerah, simbol-simbol yang seharusnya membuat kita prihatin kembali muncul.
Di Aceh, Bulan Bintang kembali terlihat. Di Papua, Bintang Kejora masih menjadi simbol yang muncul dalam berbagai peristiwa.
Bahkan di Kalimantan, narasi Borneo Merdeka sesekali muncul.
Apakah semua itu berarti rakyat ingin Indonesia bubar? Tentu tidak sesederhana itu.
Tetapi bukankah kemunculan simbol-simbol tersebut layak menjadi alarm?
Sebab persatuan tidak cukup dijaga dengan mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja.
Rakyat perlu merasa didengar, diperlakukan adil dan merasakan bahwa kekayaan negeri ini memang kembali kepada mereka.
Korupsi masih menjadi penyakit yang sulit diberantas.
Di media sosial bahkan beredar gambar bergerak—atau GIF—Garuda yang digerogoti tikus tikus
Sekilas mungkin hanya lelucon. Tetapi kadang sebuah lelucon lahir dari kejengkelan yang sudah terlalu lama dipendam.
Tak perlu melihat jauh-jauh. Kalimantan adalah salah satu daerah kaya sumber daya alam.
Batu bara , minyak keluar dari bumi, tetapi masyarakat masih bisa dibuat pusing oleh antrean BBM.
Listrik dijadwalkan padam secara bergilir dengan alasan kerusakan mesin.
Ketika kemarau panjang datang, asap dan kebakaran hutan kembali menghantui.
Kaya di bawah tanah, tetapi rakyat tetap harus menghitung isi dompet.
Mencari rupiah hari ini tidak mudah. Harga kebutuhan terus bergerak, sementara penghasilan tidak selalu mampu mengikutinya.
Lalu kita teringat lagu Koes Plus, Kolam Susu
Dulu kita menyanyikan Indonesia sebagai negeri yang begitu subur.
Laut bukan sekadar lautan, tetapi tempat mencari kehidupan.
Sekarang rakyat masih menjala. Hanya saja, kolam susunya mungkin sudah tidak lagi terasa seperti dulu.
Yang membuat miris, di tengah kesulitan seperti itu, sebagian penguasa seolah tetap melihat negeri ini baik-baik saja.
Entah laporan seperti apa yang sampai ke telinga mereka, atau apa yang dibisikkan para ‘penjilat’ di sekeliling kekuasaan.
Rakyat tidak membutuhkan negara yang hanya terlihat berhasil dalam angka dan pidato.
Rakyat membutuhkan kehidupan yang benar-benar terasa lebih baik.
Karena kemerdekaan bukan hanya soal bebas dari penjajahan .
Kemerdekaan juga tentang apakah hari ini rakyat bisa hidup tenang, mencari nafkah dengan layak, mendapatkan pelayanan yang baik, menikmati listrik tanpa waswas, mendapatkan BBM tanpa harus mengantre panjang dan melihat kekayaan negeri dikelola untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Indonesia tentu tidak boleh pecah.
Aceh, Papua, Kalimantan dan seluruh daerah adalah bagian dari rumah besar bernama Indonesia.
Tetapi rumah besar juga harus dirawat. Jangan sampai penghuninya merasa hanya dibutuhkan ketika kekayaan di dalam rumah hendak diambil.
Garuda jangan sampai hanya gagah di lambang negara, sementara tubuhnya pelan-pelan digerogoti dari dalam.
81 tahun Indonesia merdeka, mungkin sudah waktunya kita tidak hanya bertanya “sudah merdeka?”
Mercurius
(Penulis wartawan bomindonesia.com)









