BOMINDONESIA.COM,
Dramatisasi film Titanic arahan James Cameron sukses menguras air mata dunia lewat kisah cinta tragis antara Jack Dawson (Leonardo DiCaprio) dan Rose DeWitt Bukater (Kate Winslet).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Di balik romansa fiksi yang ikonik itu, film ini juga menggambarkan keteguhan sang nakhoda, Kapten Edward J. Smith, yang memilih pasrah menunggu ajal di ruang kemudi seiring tenggelamnya kapal.
Potret tersebut selama puluhan tahun menjadi contoh populer global tentang bagaimana seorang pemimpin bersikap di ujung maut.
Namun, penonton di tanah air sebenarnya tidak perlu terpaku pada layar bioskop untuk menyaksikan keteguhan moral seorang pelaut sejati.
Jauh sebelum melodi biola di atas dek Titanic yang miring memukau jutaan penonton, perairan Masalembo pada 27 Januari 1981 sudah menyajikan panggung tragedi nyata yang menguji tanggung jawab manusia tanpa skenario sutradara.
Tragedi KMP Tampomas II bukan sekadar kecelakaan laut biasa.
Ia adalah contoh nyata dari bahaya di lautan, di mana sebuah kapal tua berumur seperempat abad dipaksa terus berlayar demi menghemat anggaran.
Ketika ruang mesin meledak dan memicu kebakaran hebat selama 40 jam, monster api itu tidak hanya membakar fisik kapal, tetapi juga menguji mental siapa saja yang ada di atasnya.
Di sinilah perbedaan besar itu terlihat: ketika kondisi kapal kala itu sangat memprihatinkan akibat pemaksaan armada murah, sang nakhoda justru menunjukkan tanggung jawab yang luar biasa.
Saat lambung kapal mulai miring tak keruan, percakapan terakhir antara sang nakhoda, Kapten Abdul Rivai, dengan anak buahnya, Karel Simanjuntak, menjadi bukti nyata keluhuran budi sang kapten.
Alih-alih menyambut ajakan evakuasi dengan kalimat “Sebaiknya kita turun saja, Kep,” Kapten Rivai justru memilih menutup pintu sekocinya sendiri demi membagikan pelampung tersisa untuk wanita dan anak-anak yang terjebak asap.
Kalimat penolakannya sangat melegenda: “Buat apa kita turun kalau belum semua penumpang selamat?”
Pernyataan itu bukan dialog fiksi pemanis cerita film.
Itu adalah prinsip hidup yang dipegang teguh sampai tubuh beliau karam ditelan ombak Laut Jawa.
Sementara pihak-pihak di darat dipertanyakan tanggung jawabnya atas kelayakan operasional kapal bekas tersebut, sang kapten justru membayar lunas kelalaian sistem itu dengan nyawanya sendiri.
Kepahlawanan Kapten Rivai tidak selesai di dasar laut.
Ketika jasadnya ditemukan terapung berhari-hari kemudian, sebentuk cincin bertuliskan nama istrinya, Hasanah, menjadi penanda yang membawanya pulang ke tanah kering.
Beliau tidak berakhir di dasar laut tanpa nama.
Peti jenazahnya yang dibalut Merah Putih diterbangkan ke Jakarta lalu dibawa menuju Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata untuk dimakamkan secara militer.
Mercurius
Wartawan bomindonesia.com)









