Ritchie Blackmore, Algoritma dan Kenangan Gagang Sapu – bomindonesia.com

Pos-pos Terbaru

Arsip

BOMINDONESIA.COM (bacaan orang modern indonesia)

Ritchie Blackmore, Algoritma dan Kenangan Gagang Sapu

- Redaksi

Jumat, 14 Agustus 2026 - 02:20 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ritchie Blackmore, Algoritma dan Kenangan Gagang Sapu

BOMINDONESIA.COM,–Entah karena saya termasuk orang yang gaptek dan kurang mengerti istilah algoritma, atau memang karena beberapa hari lalu saya mencari kata kunci Ritchie Blackmore, Deep Purple, berita tentang reuni mereka tiba-tiba beberapa kali muncul di beranda media sosial saya.

Padahal saya tidak mengikuti akun-akun musik asing tersebut. Beritanya muncul dari akun yang berbeda-beda.

Mungkin memang begitu cara algoritma bekerja.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

OK, that’s all.

Tapi ternyata tidak sesederhana itu.  Sebab setiap kali melihat Ritchie Blackmore kembali berdiri bersama Deep Purple, ada kenangan lama yang ikut muncul.

Deep Purple adalah grup musik rock pertama yang membuat saya jatuh cinta kepada musik cadas.

Ketika masih duduk di bangku SD, saat jam istirahat atau sebelum teman-teman masuk kelas, saya bersama beberapa teman yang memiliki hobi sama sering berkhayal menjadi musisi.

Saya tentu saja memilih menjadi Ritchie Blackmore.

Gagang sapu di kelas pun bisa berubah menjadi gitar fender stratocaster

Zaman itu semuanya sederhana. Dengan uang tabungan seadanya, saya akhirnya bisa membeli kaset The Best of Deep Purple.

Belum ada streaming, YouTube atau Spotify. Kalau ingin mendengarkan lagu, ya kaset itu yang diputar berulang-ulang

Indonesia ketika itu juga masih lekat dengan persoalan pembajakan rekaman.

Bahkan Bob Geldof pernah mempersoalkan beredarnya rekaman bajakan Live Aid di Indonesia.

Tetapi bagi seorang anak SD, semua persoalan itu tentu tidak terpikirkan.

Yang saya tahu hanya satu: saya punya kaset Deep Purple. Dan saya bahagia.

Saya akhirnya tidak pernah menjadi gitaris. Jangankan memainkan gitar seperti Ritchie Blackmore, mungkin sampai sekarang kemampuan saya hanya sebatas genjreng-genjreng.

Namun musik yang kita cintai ketika kecil ternyata bisa menetap sangat lama.

Itulah sebabnya ketika membaca kabar Ritchie Blackmore kembali sepanggung dengan Deep Purple setelah 33 tahun, hati saya ikut terasa hangat.

Ian Gillan dan Ritchie Blackmore, dua nama besar yang selama ini kita kenal memiliki sejarah panjang, termasuk perselisihan dan perpisahan, akhirnya bisa berdiri bersama lagi.

Mungkin usia membuat manusia melihat masa lalu dengan cara berbeda.

Hal-hal yang dulu terasa besar, setelah puluhan tahun mungkin tidak lagi penting.

Saya kemudian teringat Dave Mustaine dan Metallica.

Mustaine pernah menjadi bagian dari sejarah awal Metallica sebelum akhirnya berpisah karena konflik  dan membentuk Megadeth.

Tetapi bertahun-tahun kemudian mereka bisa berdiri bersama dalam panggung Big Four.

Bagi saya, momen seperti itu bukan sekadar reuni musisi.

Ada pesan yang jauh lebih sederhana: tidak semua perselisihan harus dibawa sampai tua.

Musik memang tidak mengenal batas. Tidak mengenal bahasa, negara, bahkan perbedaan masa lalu.

Dua orang yang pernah berselisih bisa berdiri dalam satu panggung tanpa harus membuat pidato panjang tentang perdamaian.

Cukup memainkan sebuah lagu. Menariknya, politikus sering berbicara panjang tentang persatuan dan perdamaian.

Di depan rakyat bisa terlihat saling berhadapan, tetapi ketika kamera mati, bukan tidak mungkin mereka duduk bersama, ngopi dan tertawa.

Saya tidak sedang bicara tentang politikus tertentu. Saya hanya membandingkannya dengan para musisi.

Mereka tidak perlu banyak kata untuk menunjukkan bahwa berdamai itu indah.

Ritchie Blackmore dan Ian Gillan mungkin tidak perlu menjelaskan kepada dunia apa yang terjadi selama 33 tahun terakhir.

Ketika mereka kembali berdiri di panggung, musiklah yang berbicara. Dan mungkin itulah yang membuat saya terharu.

Sebab yang saya lihat bukan hanya reuni sebuah band.

Saya seperti melihat kembali anak SD yang dulu memegang gagang sapu di ruang kelas dan berkhayal menjadi Ritchie Blackmore.

Puluhan tahun kemudian, saya memang tidak menjadi gitaris.

Tetapi musik yang saya dengarkan waktu kecil ternyata masih mampu membuat saya tersenyum dan terharu sampai hari ini.

Mungkin itulah keajaiban musik. Ia bisa membuat kita tua, tetapi tidak pernah benar-benar membuat kenangan kita menjadi tua.

Mercurius 

(Wartawan bomindonesia.com)

Follow WhatsApp Channel bomindonesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Wajah Indonesia di Tragedi Virgo dan Kembalikan Kapal Penumpang Era Kelimutu
Tim Siaga Bagikan 2.500 Masker di Tengah Nobar Indonesia vs Singapura
500 Tahun Banjarmasin, Merayakan dengan Empati
Di Tengah Kesibukan Padamkan Karhutla, Gudang Solar di Indrasari Martapura Terbakar Hebat
Titanic, Tampomas 2 dan Heroisme sang Kapten
Bencana Silih Berganti, Kepastian Kehadiran Negara Dipertanyakan?
Perkuat Sinergi Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran, Disdamkarmat Banjarmasin Luncurkan Inovasi ‘SIAGA’
Uniska Bakal Buka Fakultas Kedokteran, Kuota Mahasiswanya 50 Orang

Berita Terkait

Rabu, 30 September 2026 - 13:02 WITA

Wajah Indonesia di Tragedi Virgo dan Kembalikan Kapal Penumpang Era Kelimutu

Sabtu, 26 September 2026 - 12:24 WITA

Tim Siaga Bagikan 2.500 Masker di Tengah Nobar Indonesia vs Singapura

Kamis, 24 September 2026 - 02:55 WITA

500 Tahun Banjarmasin, Merayakan dengan Empati

Rabu, 23 September 2026 - 23:43 WITA

Di Tengah Kesibukan Padamkan Karhutla, Gudang Solar di Indrasari Martapura Terbakar Hebat

Minggu, 20 September 2026 - 13:41 WITA

Titanic, Tampomas 2 dan Heroisme sang Kapten

Berita Terbaru

Babak Baru Kasus KM Virgo Transport 8, Nahkoda Ditetapkan Tersangka

Halo Indonesia

Babak Baru Kasus KM Virgo Transport 8, Nahkoda Ditetapkan Tersangka

Rabu, 30 Sep 2026 - 23:50 WITA

Verified by MonsterInsights