BOMINDONESIA.COM,
Hari ini pencarian korban KM Virgo Transport 8 telah memasuki hari ke-18. Di tengah dua musibah yang datang bersamaan.tenggelamnya kapal dan kepungan asap karhutla, 61 jiwa masih belum kembali.
Namun di tengah himpitan itu, aparat gabungan tetap bekerja tanpa kenal lelah.
Dan inilah yang sejak hari pertama membuat kita haru. Semua bahu membahu, bukan baru hari ini saja.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ada Basarnas yang sejak detik pertama menjadi komando. Ada penyelam-penyelam terbaik bangsa dari Kopaska TNI AL, Dislambair, Brimob Polri, Polairud yang menyelam di kedalaman.
Ada TNI AD, BPBD, KSOP, para relawan tanpa nama.
Ada masyarakat pesisir dan para nelayan dengan kapal-kapal kayu kecil mereka yang sejak hari pertama ikut menyisir dan mengevakuasi tanpa diminta.
Siang dan malam mereka di laut.
Di darat, insan pers dengan sabar menanti di Pelabuhan Trisakti Banjarmasin, lalu berpindah ke RS Bhayangkara Polda Kalsel menanti hasil kerja senyap Tim DVI Dokkes Polda.
Semua bersatu padu sejak awal musibah.
Respect dan salut tiada tara untuk mereka.
Inilah wajah terbaik Indonesia yang sesungguhnya.
Namun di balik kebanggaan itu, ada evaluasi besar yang harus dijawab negara.
Tragedi ini harus menjadi momentum evaluasi total soal izin kelayakan kapal. Pihak syahbandar dan regulator pemberi izin harus benar-benar teliti, bukan sekadar stempel di atas kertas.
Dan yang lebih mendasar, sudah saatnya negara hadir untuk mewacanakan kembali kapal yang hanya mengangkut penumpang.
Seperti era kejayaan KM Kelimutu, KM Sirimau, KM Leuser, dan KM Dobonsolo yang dulu gagah dan aman membelah Laut Jawa.
Kapal yang memang dibangun khusus untuk manusia, bukan kapal roro yang di bawahnya disesaki truk berton-ton, di atasnya manusia berdesakan.
Kita paham, wacana ini akan terdengar pesimis di telinga pebisnis.
Karena kapal campur penumpang dan barang jelas lebih menguntungkan secara bisnis.
Satu kali berlayar, dua pendapatan masuk. Tapi di situlah letak kerawanan stabilitas itu berada.
Musibah memang tak bisa diprediksi, tapi mengantisipasi jauh lebih baik daripada meratapi.
Jika keselamatan adalah panglima, negara harus hadir, bahkan jika harus bersubsidi untuk kapal penumpang murni.
Nyawa 243 manusia di dalam manifes Virgo Transport 8 tidak boleh dihitung dengan logika tonase dan profit semata.
Doa terdalam kami untuk para korban yang telah ditemukan, kekuatan bagi keluarga yang ditinggalkan, dan harapan agar 61 saudara kita yang masih dalam pencarian segera ditemukan.
Terima kasih yang tak terhingga untuk semua tangan yang masih bertahan di laut sejak hari pertama hingga hari ini.
Mercurius
Penulis wartawan bomindonesia.com









