BOMINDONESIA.COM,
INdah sekali DOngeng tidurku NEnek yang bercerita SIApapun percaya
INDONESIA (Slank)
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dongeng yang diceritakan nenek seperti lirik dari grup musik papan atas Slank itu memang benar adanya.
Indonesia adalah negara yang terdiri dari ribuan pulau, kaya sumber daya alam, dan sebuah negeri yang indah, megah, ripah loh jinawi.
Namun, apa yang kita saksikan sekarang?
Negeri yang di buku-buku pelajaran sejarah digambarkan begitu elok dan kaya, kini tampak luluh lantak.
Koruptor merajalela di panggung kekuasaan.
Mereka masih bisa melempar senyum lebar dengan kepala tegak, meskipun jaket oranye tahanan sudah melekat di badan.
Pemandangan mual ini berbanding terbalik dengan muka lebam maling ayam di jalanan.
Rakyat kecil yang terkadang terpaksa mencuri hanya demi memberi sesuap nasi untuk keluarganya yang kelaparan, harus menanggung hukum yang kejam dan instan.
Meski sekali maling tetaplah salah, ketidakadilan hukum ini terasa sangat menyayat hati.
Ketimpangan pengelolaan negara semakin hari semakin nyata.
Bencana alam terus datang silih berganti seperti gempa di NTT, hingga Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang rutin mencekik paru-paru masyarakat Kalimantan.
Tragisnya, Kalimantan adalah pulau raksasa yang menjadi pemasok utama batu bara demi menerangi Pulau Jawa dan menjaga denyut pusat kekuasaan.
Namun, saat ini apa yang didapat oleh masyarakat penghasil sumber daya itu?
Pada siang hari mereka harus memanggang diri di bawah cuaca panas ekstrem dan kepungan asap, sore harinya mereka harus mengantre berjam-jam di SPBU yang mengular demi setetes BBM, dan malam harinya mereka hanya bisa pasrah menunggu jadwal pemadaman listrik bergilir.
Sungguh sebuah ironi yang malang. Keresahan ini pula yang baru-baru ini memicu gelombang aksi mahasiswa di daerah, menyuarakan jeritan rakyat yang seolah hidup dalam kelumpuhan di atas tanahnya yang kaya.
Di saat rakyat daerah hidup dalam keterbatasan, uang negara justru dihamburkan secara ugal-ugalan.
Anggaran negara terbuang sia-sia hanya untuk membiayai syahwat politik birokrasi, seperti menggaji deretan staf khusus dan wakil menteri.
Jabatan-jabatan itu sebenarnya tidak mendesak karena di dalam struktur kementerian sudah ada Sekretaris Jenderal (Sekjen) yang mengurusi administrasi secara teknis.
Belum lagi pos-pos komisaris di berbagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang terus diisi oleh orang-orang titipan yang tidak berkompeten.
Rezim bagi-bagi kue jabatan ini menggerogoti uang rakyat dari dalam.
Kondisi fiskal dan tata kelola yang rapuh ini bukan sekadar kekhawatiran lokal.
Media asing ternama seperti koran nasional Australia, The Australian, bahkan ikut menyoroti melorotnya kepercayaan pasar terhadap kebijakan ekonomi nasional akibat tekanan fiskal dan ambisi anggaran yang terlalu besar.
Ketika dunia luar mulai mempertanyakan apakah Indonesia sedang berjalan menuju kebangkrutan ekonomi, kita dipaksa mengingat kembali sejarah kelam tahun 2012.
Saat itu, akibat salah urus kuota BBM, rakyat Kalimantan terpaksa memblokade jalur tongkang batu bara di Sungai Barito hingga membuat pasokan listrik Jawa terancam gelap gulita.
Pertanyaannya, haruskah rakyat di daerah penghasil energi kembali melakukan blokade ekstrem seperti tahun 2012 agar suara mereka didengar?
Haruskah daerah-daerah luar Jawa mematikan aliran kekayaan mereka agar para elite di ibu kota sadar dari tidur nyenyaknya?
Isu ini bukan sekadar urusan batu bara yang gagal kirim, melainkan alarm keras tentang ketidakadilan sosial yang nyata.
Tolong para pemangku kebijakan, bijaklah! Meleklah melihat penderitaan di daerah!
Jangan sampai dongeng indah tentang Indonesia yang diceritakan nenek kita dahulu, benar-benar berubah menjadi cerita horor kehancuran akibat keserakahan yang tak berujung.
Mercurius
(Penulis wartawan bomindonesia.com)









