BOMINDONESIA.COM, BARABAI – Di tengah bentangan Pegunungan Meratus yang masih asri, masyarakat adat Dayak Meratus di Desa Batung, Kecamatan Batang Alai Timur (BAT), Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), kembali menggelar ritual sakral Aruh Batumban.
Tradisi yang baru saja dilaksanakan itu menjadi bukti bahwa warisan leluhur tetap hidup dan dijaga di tengah arus perkembangan zaman.
Bagi masyarakat Dayak Meratus, Aruh Batumban bukan sekadar upacara adat. Ritual ini menjadi wujud rasa syukur kepada Sang Pencipta atas keselamatan dan rezeki yang diberikan, sekaligus permohonan perlindungan agar terhindar dari bencana, penyakit, maupun berbagai mara bahaya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Tradisi tersebut juga menjadi bagian dari etika masyarakat sebelum membuka lahan, sebagai bentuk penghormatan terhadap alam yang menjadi sumber kehidupan mereka.
Suasana balai adat dipenuhi nuansa sakral. Lantunan doa yang dipimpin Balian berpadu dengan berbagai perlengkapan ritual dan sesajen yang disiapkan sebagai simbol penghormatan kepada Sang Pencipta serta leluhur.
Seluruh rangkaian prosesi berlangsung khidmat dengan melibatkan masyarakat secara bergotong royong.
Melalui video dokumentasi kegiatan, Pembakal Desa Batung, Kambarani, mengatakan Aruh Batumban merupakan tradisi turun-temurun yang hingga kini terus dipertahankan oleh masyarakat adat Dayak Meratus.
“Ini bukan hanya adat, tetapi bagian dari kehidupan kami. Tradisi ini mengajarkan bagaimana manusia menghormati alam, bersyukur kepada Tuhan, dan menjaga kebersamaan,” ujarnya.
Kambarani menjelaskan, pelaksanaan Aruh Batumban tidak digelar setiap tahun, melainkan sekitar tiga hingga lima tahun sekali, sesuai kesepakatan masyarakat adat dan kesiapan seluruh warga yang terlibat dalam pelaksanaannya.
Perhatian terhadap kelestarian budaya tersebut disampaikan Pembina Forum Kerukunan dan Pemerhati Warga Kalimantan (FKPWK), H. Junaidi.
Menurutnya, Aruh Batumban merupakan kekayaan budaya Kalimantan Selatan yang memiliki nilai sejarah, spiritual, dan kearifan lokal yang sangat tinggi.
“Budaya seperti Aruh Batumban bukan hanya milik masyarakat Dayak Meratus, tetapi menjadi aset budaya Kalimantan Selatan.
Karena itu sudah selayaknya mendapat perhatian lebih serius dari pemerintah, baik dalam pelestarian, pembinaan maupun pengembangannya,” katanya.
Junaidi menilai letak Desa Batung yang berada di kawasan Pegunungan Meratus menjadi salah satu alasan tradisi tersebut masih terjaga dengan baik.
Namun di sisi lain, kondisi geografis yang jauh dari pusat pemerintahan membuat masyarakat adat membutuhkan perhatian lebih, baik dalam pembangunan maupun upaya pelestarian budaya.
Pria yang juga menjabat sebagai Pembina Organisasi Rakyat Indonesia (ORI) Kalimantan Selatan itu berharap dukungan pemerintah tidak berhenti pada kegiatan seremonial semata.
Menurutnya, diperlukan langkah nyata berupa pembangunan akses, pendampingan masyarakat adat, pendokumentasian budaya, hingga pengembangan wisata budaya agar tradisi seperti Aruh Batumban semakin dikenal luas.
“Aruh Batumban mengajarkan bahwa manusia tidak bisa dipisahkan dari alam.
Hubungan yang harmonis antara manusia, Sang Pencipta, leluhur, dan lingkungan menjadi nilai utama yang terus diwariskan masyarakat Dayak Meratus hingga sekarang,” tambah pemerhati budaya Kalimantan tersebut.
Baginya, dari sebuah balai adat yang berdiri di lereng Pegunungan Meratus, nilai gotong royong, penghormatan kepada leluhur, rasa syukur kepada Tuhan, serta kepedulian terhadap kelestarian hutan terus hidup dari generasi ke generasi.
Di tengah derasnya modernisasi, Aruh Batumban tetap menjadi salah satu denyut budaya yang menjaga identitas masyarakat Dayak Meratus.
Penulis/ Editor: Mercurius










