Di Tengah Gempuran Teknologi, Mainan Kayu Desa Panggung Tetap jadi Buruan Pelintas

Di Tengah Gempuran Teknologi, Mainan Kayu Desa Panggung Tetap jadi Buruan Pelintas

- Redaksi

Kamis, 14 Mei 2026 - 14:45 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

MAINAN TRADISIONAL - Aneka truk kayu, celengan hingga kerajinan khas Banua dipajang di sentra kerajinan Desa Panggung, Kecamatan Haruyan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Kerajinan tradisional itu masih bertahan dan menjadi daya tarik pengendara yang melintas di jalur penghubung Kalsel menuju Kaltim dan Kalteng. (foto:Mercy )

MAINAN TRADISIONAL - Aneka truk kayu, celengan hingga kerajinan khas Banua dipajang di sentra kerajinan Desa Panggung, Kecamatan Haruyan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Kerajinan tradisional itu masih bertahan dan menjadi daya tarik pengendara yang melintas di jalur penghubung Kalsel menuju Kaltim dan Kalteng. (foto:Mercy )

BOMINDONESIA.COM, BARABAI – Di tengah maraknya permainan digital dan gempuran teknologi modern, sentra kerajinan tradisional di Desa Panggung, Kecamatan Haruyan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Kalimantan Selatan masih bertahan menjaga denyut ekonomi masyarakatnya.

Bagi para pengendara dari arah Banjarmasin menuju Kalimantan Timur maupun Kalimantan Tengah, kawasan di tepi Jalan Ahmad Yani itu seakan menjadi “pemberhentian wajib”.

Deretan truk kayu warna-warni, kuda-kudaan, celengan hingga berbagai kerajinan khas Banua terpajang mencolok di pinggir jalan dan kerap mencuri perhatian para pelintas.

Desa yang dulunya dikenal sebagai sentra sapu ijuk itu kini perlahan bertransformasi mengikuti perkembangan zaman.

Jika dahulu warga lebih banyak mengandalkan produksi sapu ijuk atau “haduk”, kini sebagian besar perajin beralih membuat mainan tradisional berbahan kayu serta aneka kerajinan unik lainnya.

Dari kejauhan, pajangan truk-truk kayu dengan warna mencolok membuat banyak pengendara spontan memperlambat laju kendaraan.

Tidak sedikit pula yang sengaja berhenti untuk membeli oleh-oleh khas Banua Enam tersebut.

Baca Juga :  Anto Baret Luncurkan Album “Sketsa Jalanan”, Satu Panggung dengan Pramono Anung hingga Cornelia Agatha

Salah satu penjual di sentra kerajinan itu, Mama Arsel, mengatakan mainan kayu buatan perajin lokal masih memiliki pasar tersendiri meski anak-anak sekarang lebih akrab dengan gawai dan permainan digital.

“Alhamdulillah sampai sekarang masih ada saja yang membeli. Banyak yang singgah saat perjalanan jauh, apalagi dari arah Banjarmasin menuju Kaltim atau sebaliknya,” ujarnya Kamis (14/5/2026)

Menurut wanita yang juga menjual tanaman dan pupuk ini , mainan yang paling diminati pembeli adalah replika truk kayu dengan berbagai ukuran.

Untuk ukuran kecil dijual sekitar Rp80 ribu, ukuran sedang Rp150 ribu, sedangkan ukuran paling besar bisa mencapai Rp230 ribu.

“Yang besar biasanya dibeli kolektor atau untuk pajangan di rumah. Ada juga yang membeli buat hadiah anak,” katanya sambil menata dagangan di kios terbuka miliknya.

Mama Arsel menuturkan sebagian besar mainan tersebut dibuat oleh para perajin dari wilayah Hulu Sungai Tengah.

Baca Juga :  Libur Panjang, Warga Serbu Destinasi yang Disebut 'Pulau Rahasia'

Mereka tetap mempertahankan pengerjaan manual dengan sentuhan tangan terampil para pengrajin lokal.

Selain truk kayu, di kawasan itu juga dijual celengan tanah liat berbentuk buah-buahan, tokoh kartun hingga hewan lucu.

Warna-warna mencolok pada kerajinan itu membuat suasana sentra terasa hidup dan penuh nuansa tradisional.

Meski tidak seramai masa kejayaan sapu ijuk pada era 1990-an, para penjual tetap bersyukur kerajinan tradisional Desa Panggung masih mampu bertahan di tengah perubahan zaman.

“Kalau sapu ijuk sekarang tetap ada yang beli, tapi tidak sebanyak dulu. Jadi masyarakat di sini menyesuaikan juga dengan membuat mainan kayu dan kerajinan lain,” jelasnya.

Keberadaan sentra kerajinan tersebut kini bukan hanya menjadi tempat mencari nafkah masyarakat, tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya di jalur lintas Banua.

Di tengah derasnya arus modernisasi, Desa Panggung seakan terus mengingatkan bahwa karya tradisional masih memiliki tempat di hati masyarakat.

Penulis/Editor : Mercurius

bomindonesia
Follow WhatsApp Channel bomindonesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Sasirangan Naik Kelas, Persit Kembangkan Motif Todak jadi Tren Fashion
Film Na Willa ‘Angkat Kehangatan Masa Kecil’
Ketupat, Hujan, dan Cerita Lama di Halal Bihalal Gang Buntu Grogol Selatan
Coretax Mobile/M-Pajak Khusus Pelaporan SPT Tahunan Nihil
Senja dan Dust In The Wind di Pasar Loak Kebayoran Lama
Biji Durian dan Kulitnya Sangat Bermanfaat, Coba Rasakan
BRI Region 14 Banjarmasin Gelar BCM Sosialisasi Bantuan Hidup Dasar Bersama Telkomedika
Keluhan Pelayanan RSUD Sultan Suriansyah hingga Perbaikan Jalan di Reses Saut Nathan Samosir

Berita Terkait

Kamis, 14 Mei 2026 - 14:45 WITA

Di Tengah Gempuran Teknologi, Mainan Kayu Desa Panggung Tetap jadi Buruan Pelintas

Rabu, 29 April 2026 - 23:10 WITA

Sasirangan Naik Kelas, Persit Kembangkan Motif Todak jadi Tren Fashion

Selasa, 14 April 2026 - 10:09 WITA

Film Na Willa ‘Angkat Kehangatan Masa Kecil’

Minggu, 12 April 2026 - 20:44 WITA

Ketupat, Hujan, dan Cerita Lama di Halal Bihalal Gang Buntu Grogol Selatan

Sabtu, 11 April 2026 - 13:15 WITA

Coretax Mobile/M-Pajak Khusus Pelaporan SPT Tahunan Nihil

Berita Terbaru

Screenshot

Banjarmasin Bungas

Tak Ada Kasus Hantavirus di Banjarmasin, Kuncinya Kebersihan

Kamis, 14 Mei 2026 - 11:55 WITA

Screenshot

Banjarmasin Bungas

Sopir Ngeluh, Mau Ngantri di SPBU Dipalak Bayar 100 ribu dulu

Kamis, 14 Mei 2026 - 09:46 WITA

Verified by MonsterInsights