BOMINDONESIA.COM – Tahun baru Islam diawali oleh Bulan Muharram, bulan yang saat ini kembali hadir menyapa. Seperti biasa, Muharram datang pelan-pelan, tanpa dentuman meriam, tanpa hitung mundur, tanpa pesta cahaya di langit kota. Hanya sebagian kecil umat yang sadar bahwa Muharram telah tiba. Sunyi. Tapi dari sunyi itulah seharusnya lahir kesadaran yang benderang: bahwa 1 Muharram bukan sekedar penanda tahun baru dan tanggal baru, melainkan momen spiritual besar yang pernah mengguncang sejarah: Hijrah Nabi Muhammad dari Makkah ke Madinah.
Hijrah bukan sekedar perpindahan kota. Ia adalah transformasi hidup. Dari umat yang ditindas menjadi umat yang membangun. Dari suara yang dibungkam menjadi suara yang menentukan arah. Sebuah gerakan diam-diam yang mengantar Islam keluar dari lorong sempit penindasan menuju panggung terbuka sejarah.
Namun sebelum semua itu dimulai, Rasulullah melantunkan sebuah doa:
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Ya Tuhanku, masukkanlah aku dengan cara masuk yang benar, dan keluarkanlah aku dengan cara keluar yang benar. Dan anugerahkanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang menolong.”
Itulah fondasi hijrah: bukan hanya langkah, tapi penyerahan total kepada Allah dalam setiap fase perubahan. Doa yang mencerminkan strategi spiritual sebelum pergerakan sosial. Tapi ironisnya, doa itu kini lebih sering dilafalkan daripada dipahami. Lebih sering jadi bacaan tanpa makna, padahal maknanya adalah seruan berubah dan me-revolusi diri.
Hari ini, umat Islam di Indonesia adalah mayoritas. Kita mengisi masjid, memadati jalan-jalan pada hari besar, menjadi massa terbanyak dalam daftar pemilih. Tapi di balik mayoritas itu, suara kita justru makin menghilang. Kita menjadi banyak, tapi tidak menentukan. Besar, tapi tak berdaya. Suara umat kini lebih sering dibeli, dibujuk, atau bahkan dicuri. Di tiap musim pemilu, suara kita dipanggil. Setelahnya, dilupakan.
Bukan rahasia lagi bahwa banyak umat Islam, khususnya yang berasal dari kelas menengah ke bawah, masih terus hidup dalam ketidakpastian dan cengkeraman kemiskinan struktural berikut kebodohan sistemik. Mereka hadir di TPS hanya sekedar penerus pesan pilih A, Pilih B atau C yang sudah memberi upeti seratus atau dua ratus ribu dan bingkisan sembako, tapi yang mereka pilih seringkali justru menjadi bagian dari elite rakus kuasa yang hanya memperpanjang ketimpangan. Janji-janji pemimpin menjamur tiap lima tahun, tapi kualitas hidup tak beranjak. Pendidikan mahal. Kesehatan tak merata. Harga pangan naik, pekerjaan tak kunjung datang. Dan yang paling menyedihkan: umat terus dibius agar diam.
Suara mayoritas bukan hanya hilang karena tak didengar. Ia hilang karena dilumpuhkan. Dibelokkan oleh mesin propaganda. Dibelai oleh para politisi yang fasih menyebut “umat” tapi tak benar-benar memperjuangkannya. Demokrasi menjadi pasar suara, bukan ruang partisipasi sejati.
Dan umat, dalam banyak hal, membiarkan dirinya dibungkam. Kita terlalu mudah percaya. Terlalu mudah terbuai. Terlalu sering menggantungkan harapan kepada tokoh, bukan kepada perubahan struktural. Kita terlalu sibuk memperdebatkan masalah kecil; perbedaan latar organisasi, perbedaan bacaan doa qunut, cara bersedekap ketika sholat, hingga urusan penampilan berjangkut, klimis atau celana cingkrang baju jubah dengan sorban —sementara anak-anak kita tertinggal dalam pendidikan sains, teknologi, dan ekonomi.
Hijrah seharusnya menjadi momen untuk bangkit. Untuk keluar dari pola lama: umat yang pasif, yang hanya menunggu, yang hanya dijadikan objek politik. Hijrah bukan hanya sejarah, ia adalah ajakan untuk merebut kembali arah hidup. Bukan sekedar pindah tempat, tapi pindah cara berpikir, bersikap, dan bertindak.
Doa Nabi tadi adalah ajakan untuk menata langkah dengan benar. Untuk memulai perubahan dengan niat yang bersih, strategi yang jernih, dan keyakinan bahwa kekuatan sejati datang dari Allah, bukan dari elit politik, bukan dari janji pemodal. Maka, jika umat ingin suaranya kembali terdengar, ia harus menghidupkan kembali ruh hijrah. Harus berani berkata tidak pada kekuasaan yang menindas. Harus belajar menjadi mayoritas yang berpikir dan bersuara, bukan mayoritas yang diam dan dikuasai.
Kita tidak kekurangan jumlah. Tidak kekurangan masjid, organisasi, atau sekolah Islam. Yang kita kekurangan adalah kesadaran kolektif untuk bersatu memperjuangkan keadilan, pendidikan, dan kedaulatan ekonomi. Kita lupa bahwa suara umat hanya berarti jika disuarakan bersama, bukan diserahkan secara buta.
Maka, saat Muharram ini masih bersama, jangan biarkan ia lewat seperti tahun-tahun sebelumnya. Renungkan kembali doa hijrah itu. Jadikan ia bukan hanya lafaz, tapi juga langkah. Karena suara umat mayoritas tidak akan pernah kembali jika umat itu sendiri tidak mencari, memperjuangkan, dan merebutnya kembali.
“Rabbi adkhilni mudkhala shidqin, wa akhrijni mukhraja shidqin, waj‘al li min ladunka sulthanan nashira.”
Doa itu adalah awal dari revolusi diri. Dan revolusi diri adalah awal kembalinya suara umat. Kembalinya suara umat artinya kemenangan bagi umat. Dan kemenangan umat adalah jalan menuju kejayaan, kesejahteraan, serta kemakmuran yang bisa dinikmati oleh seluruh umat Islam Indonesia. (*)
(Subhan Syarief/AI:2025/Batang Banyu Institute)












