Jurnalisme Berjiwa Pancasila: Menjaga Nalar Publik di Era Informasi

Jurnalisme Berjiwa Pancasila: Menjaga Nalar Publik di Era Informasi

- Redaksi

Senin, 2 Juni 2025 - 17:36 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

H. Adam Nugraha Wiradhana, S.AB

H. Adam Nugraha Wiradhana, S.AB

Oleh: H. Adam Nugraha Wiradhana, S.AB

Tanggal 1 Juni selalu menjadi momen reflektif yang penting bagi bangsa Indonesia. Hari Lahir Pancasila bukan hanya seremonial, melainkan pengingat akan fondasi ideologis yang menyatukan keberagaman dan menuntun arah kehidupan berbangsa. Di tengah derasnya arus informasi, peran jurnalis dan media menjadi sangat strategis dalam menjaga nalar publik dan merawat semangat kebangsaan. Di sinilah pentingnya jurnalisme yang berjiwa Pancasila.

Pancasila: Kompas Etik Jurnalis Indonesia

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Nilai-nilai Pancasila — Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, dan Keadilan Sosial — adalah panduan moral yang seharusnya melekat pada setiap insan pers. Pancasila bukan hanya dokumen sejarah, melainkan sumber etika yang hidup dalam praktik jurnalistik sehari-hari. Ketika jurnalis menulis berita, memilih narasi, menyampaikan fakta, dan menjaga independensi, semua itu idealnya dilakukan dalam kerangka nilai-nilai Pancasila.

Sebagai contoh, Sila Pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, menuntut jurnalis untuk menjunjung tinggi nilai spiritualitas dan moralitas. Berita yang disampaikan bukan untuk menyebar kebencian atau hoaks, tetapi mengedukasi dan mencerahkan publik, dengan semangat tanggung jawab yang lebih tinggi kepada Tuhan dan kemanusiaan.

Sila Kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, menjadi penopang dalam membangun narasi yang empatik, adil, dan tidak diskriminatif. Media memiliki tanggung jawab untuk berpihak pada korban ketidakadilan, serta menyuarakan suara mereka yang termarjinalkan, tanpa membingkai berita secara sensasional atau memperkeruh suasana sosial.

Baca Juga :  Apes! Jambret Gelang Emas di Kuin Tinggalkan Motor Setelah Terjebak di Gang Buntu

Sila Ketiga, Persatuan Indonesia, sangat relevan dalam praktik jurnalistik yang mengedepankan semangat kebhinekaan. Media adalah perekat bangsa, bukan pemecah belah. Dalam konteks ini, jurnalis harus sensitif terhadap isu-isu SARA dan menjaga agar pemberitaan tidak menimbulkan polarisasi di tengah masyarakat.

Sila Keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, mengajarkan bahwa media memiliki peran dalam memperkuat demokrasi. Jurnalis wajib menghadirkan ruang dialog yang sehat, membangun opini publik yang cerdas, serta menjadi saluran aspirasi rakyat — bukan corong kekuasaan atau kepentingan modal.

Dan terakhir, Sila Kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, menegaskan bahwa media harus berpihak pada keadilan. Mengangkat isu ketimpangan, memperjuangkan kesejahteraan, dan menjadi watchdog kebijakan publik adalah bagian integral dari peran pers yang Pancasilais.

Tantangan dan Harapan Jurnalis di Era Digital

Di era digital seperti sekarang, tantangan media dan jurnalis tidak hanya soal kecepatan, tetapi juga soal akurasi, integritas, dan keberpihakan terhadap kebenaran. Ketika siapa saja bisa menjadi “pembuat konten”, maka peran jurnalis profesional semakin vital dalam menyaring informasi dan menjaga marwah kebenaran.

Namun, harus diakui, tekanan ekonomi, kepentingan politik, hingga algoritma media sosial sering kali mendorong media untuk abai terhadap nilai-nilai luhur. Di sinilah pentingnya konsolidasi internal komunitas pers untuk kembali kepada jati diri sebagai pewarta yang bermartabat — jurnalis yang tidak hanya mencari klik, tapi juga menyuarakan nilai.

Baca Juga :  Kemajuan Teknologi Pertanian untuk Petani

Sebagai Ketua SMSI Banjarmasin, saya percaya bahwa media siber dapat menjadi garda depan dalam mewujudkan jurnalisme yang berjiwa Pancasila. Dengan memperkuat kapasitas, integritas, dan kolaborasi antar media, kita bisa menjaga ekosistem informasi yang sehat dan bermartabat.

Menjadikan Pancasila Napas Jurnalisme

Di tengah perubahan zaman, semangat Pancasila harus tetap menjadi napas dalam setiap karya jurnalistik. Hari Lahir Pancasila bukan sekadar peringatan historis, tetapi momentum untuk meneguhkan kembali peran jurnalis sebagai penjaga nurani publik dan pembela nilai-nilai luhur kebangsaan.

Mari kita jadikan jurnalisme bukan hanya sebagai profesi, tetapi sebagai panggilan kebangsaan yang merawat Indonesia — dengan hati, nalar, dan semangat Pancasila.

Tentang Penulis:

Adam Nugraha Wiradhana, S.AB adalah Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kota Banjarmasin. Ia aktif mendorong profesionalisme media siber di Kalimantan Selatan dan dikenal sebagai tokoh muda yang konsisten memperjuangkan jurnalisme yang beretika, independen, dan berlandaskan nilai-nilai Pancasila. Selain aktif di dunia pers, ia juga terlibat dalam berbagai kegiatan sosial dan pengembangan ekosistem media lokal. (BOMINDONESIA.COM)

bomindonesia

Follow WhatsApp Channel bomindonesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ketika Pekerjaan Tak Lagi Pasti : Ancaman Job Insecurity di Dunia Kerja Modern
Menakar Peran Strategis Polri dalam Ketahanan Pangan di Era Hexahelix Governance
Penyiaran, Kebenaran, dan Ketahanan Nasional di Tengah Banjir Informasi
Wadai Masubah, Jejak Kue Tradisional Banjar yang Masih Bertahan
Pembaruan Dalam KUHAP Baru
Kaleidoskop Akhir Tahun 2025: Dari Pembunuhan Jurnalis dan Mahasiswi hingga Proyek Kota, Kalimantan Selatan Diuji
Moral Compensation: Ketika Kepedulian pada Isu Publik Tidak Otomatis Mencerminkan Kepedulian Terhadap Keluarga
Hijrah dan Sunyi Suara Umat Mayoritas

Berita Terkait

Minggu, 24 Mei 2026 - 19:28 WITA

Ketika Pekerjaan Tak Lagi Pasti : Ancaman Job Insecurity di Dunia Kerja Modern

Rabu, 15 April 2026 - 00:27 WITA

Menakar Peran Strategis Polri dalam Ketahanan Pangan di Era Hexahelix Governance

Rabu, 1 April 2026 - 12:04 WITA

Penyiaran, Kebenaran, dan Ketahanan Nasional di Tengah Banjir Informasi

Minggu, 15 Februari 2026 - 06:29 WITA

Wadai Masubah, Jejak Kue Tradisional Banjar yang Masih Bertahan

Senin, 5 Januari 2026 - 10:13 WITA

Pembaruan Dalam KUHAP Baru

Berita Terbaru

Screenshot

Banjarmasin Bungas

Pasar Murah Disperdagin Bantu Warga Rusunawa Ganda Maghfirah

Kamis, 9 Jul 2026 - 15:29 WITA

KORBAN PERKELAHIAN – Perkelahian berdarah mengakibatkan seorang pria tewas di kawasan Jalan Kelayan B, Banjarmasin, Senin (6/7/2026) pagi. Polisi masih menyelidiki motif dan kronologi kejadian. (foto: ilustrasi)

Peristiwa & Hukum

Perkelahian Maut di Kelayan B, Satu Tewas, Pelaku Masih Dirawat

Kamis, 9 Jul 2026 - 14:33 WITA

Verified by MonsterInsights