BOMINDONESIA.COM, SOLO — Festival musik keras Rock in Solo (RIS) 2025 kembali mencatat sejarah. Hari kedua penyelenggaraan pada Minggu (23/11/2025) sukses ‘membakar’ Benteng Vastenburg dengan energi ribuan metalheads yang memadati kawasan konser sejak siang hingga malam, meski hujan deras mengguyur area venue.
Dua panggung besar, XXI Stage dan Rajamala Stage, menjadi magnet sejak pukul 14.00 WIB.
Suasana mencapai klimaks ketika band hardcore asal Australia, Deeznuts, menghentak Rajamala Stage tepat saat hujan belum reda. Di sisi lain, Ugoslaiber dari Thailand memancing antusiasme yang tak kalah liar dari penonton.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebagian penonton rela dihempas hujan tanpa pelindung, sementara lainnya datang lebih siap.
Diki Permana (27) dari Boyolali mengaku tak peduli tubuh basah.
“Rock in Solo setahun sekali. Nikmati aja sambil hujan-hujanan,” katanya.
Sementara Jaka Surya (30), metalheads asal Solo, datang membawa jas hujan.
“Sudah hafal cuaca Solo. Biar nyaman sampai malam,” ujarnya.
Dilansir dari Espos Indonesia, energi musik keras bukan satu-satunya yang menghangatkan Rock in Solo 2025. Festival ini juga mengangkat tema besar penyelamatan lingkungan dan kritik politik.
Di tengah kerumunan penonton, relawan Trash Warrior berompi hijau tampak memunguti sampah satu per satu di tengah mosh pit dan headbanging.
Di setiap tenda penjualan merchandise dan kuliner, terpampang slogan bernada protes seperti:“Cukup kamu yang ngebul. Jangan PLTU.”
Tema lingkungan bukan hanya pemanis visual — itulah inti narasi Rock in Solo tahun ini.
Komitmen Politis: Musik Cadas untuk Lingkungan
Salah satu Dewan Jenderal Rock in Solo, Stephanus Adjie, menegaskan bahwa RIS memang lahir sebagai festival dengan sikap.
“Rock in Solo politis sejak lahir. Tahun ini kami lebih lantang dari sebelumnya. Fokusnya: ekologi dan penyelamatan lingkungan,” tegasnya.
Adjie menyebut kritik festival bukan tanpa alasan.
“Belakangan ini kita lihat pemimpin terang-terangan melanggar konstitusi, etika, moral, dan aturan yang mereka buat sendiri. Kita wajib mengingatkan,” ujarnya.
Menurutnya, metalheads yang bersatu dengan kesadaran lingkungan akan berdampak nyata pada kehidupan sosial.
“Kalau suatu saat para pemimpin benar-benar menjalankan amanat kemerdekaan — rakyat sejahtera, lingkungan aman, hidup damai — kami akan tetap bersuara, tapi kritiknya diarahkan ke diri kami sendiri,” imbuhnya.
Rock in Solo 2025 membuktikan bahwa musik cadas bukan hanya dentuman dan euforia.
Ia adalah seruan ekologis, alarm moral, dan ruang kritik terhadap kekuasaan, yang disampaikan melalui energi ribuan penonton yang tumpah ruah di Benteng Vastenburg.
Malam itu, Rock in Solo tidak sekadar menghibur — ia mengingatkan.
Penulis/ Editor: Mercurius












