BOMINDONESIA.COM, BANJARMASIN – Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) mengungkap sejumlah fakta baru dalam penyelidikan tragedi penyerangan terhadap anggota Satresnarkoba Polres Katingan saat operasi pemberantasan narkotika di Desa Tumbang Kalemei, Kecamatan Katingan Tengah, Kabupaten Katingan, yang menewaskan tiga personel Polri.
Dilansir dari Bima Raya News, hasil penyelidikan awal Kompolnas bersama Polda Kalimantan Tengah menyebutkan insiden berdarah tersebut berlangsung dalam dua fase.
Pada fase pertama, personel Satresnarkoba mendapat perlawanan saat melakukan penggerebekan terhadap terduga pelaku peredaran narkotika.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Demi menghindari jatuhnya korban dari kalangan masyarakat sipil, para anggota kepolisian memutuskan mundur dan menyelamatkan diri dengan terjun ke Sungai Katingan.
Namun, para pelaku diduga terus melakukan pengejaran melalui jalur darat maupun sungai menggunakan perahu kelotok hingga terjadi rangkaian kekerasan berikutnya.
Kompolnas juga mengungkap adanya indikasi kuat bahwa para korban mengalami penyiksaan sebelum meninggal dunia.
Berdasarkan hasil autopsi, ditemukan luka akibat benda tumpul, retak tulang, hingga keretakan pada tengkorak korban.
Selain itu, terdapat resapan darah di bawah kulit yang mengindikasikan korban masih dalam keadaan hidup saat mengalami kekerasan tersebut.
Tak hanya itu, Kompolnas mengidentifikasi sedikitnya lima titik lokasi kejadian perkara (TKP) yang diduga menjadi tempat berlangsungnya rangkaian aksi kekerasan terhadap anggota Polri.
Temuan tersebut juga diperkuat oleh keterangan sejumlah saksi yang menyebut salah seorang terduga pelaku sempat mengaku telah “menghabisi” anggota kepolisian.
Sementara itu, penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Kalimantan Tengah masih terus melakukan pengejaran dan pendalaman terhadap seluruh pihak yang diduga terlibat dalam penyerangan tersebut.
Diketahui, tragedi di Desa Tumbang Kalemei mengakibatkan tiga anggota Satresnarkoba Polres Katingan gugur, yakni Aipda Yudhi Perdana Putra, Bripda Nopandri Ramadhana, dan Aiptu Sumaryanto.
Ketiganya menjadi korban saat menjalankan operasi penindakan terhadap jaringan peredaran narkotika.
*/Editor : Mercurius












