BOMINDONESIA.COM,
Entah karena saya termasuk orang yang gaptek dan kurang mengerti istilah algoritma, atau memang karena beberapa hari lalu saya mencari kata kunci Ritchie Blackmore, Deep Purple, berita tentang reuni mereka tiba-tiba beberapa kali muncul di beranda media sosial saya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Padahal saya tidak mengikuti akun-akun musik asing tersebut. Beritanya muncul dari akun yang berbeda-beda.
Mungkin memang begitu cara algoritma bekerja.
OK, that’s all.
Tapi ternyata tidak sesederhana itu.
Sebab setiap kali melihat Ritchie Blackmore kembali berdiri bersama Deep Purple, ada kenangan lama yang ikut muncul.
Deep Purple adalah grup musik rock pertama yang membuat saya jatuh cinta kepada musik cadas.
Ketika masih duduk di bangku SD, saat jam istirahat atau sebelum teman-teman masuk kelas, saya bersama beberapa teman yang memiliki hobi sama sering berkhayal menjadi musisi.
Saya tentu saja memilih menjadi Ritchie Blackmore.
Gagang sapu di kelas pun bisa berubah menjadi gitar.
Zaman itu semuanya sederhana. Dengan uang tabungan seadanya, saya akhirnya bisa membeli kaset The Best of Deep Purple.
Belum ada streaming, YouTube atau Spotify. Kalau ingin mendengarkan lagu, ya kaset itu yang diputar berulang-ulang.
Indonesia ketika itu juga masih lekat dengan persoalan pembajakan rekaman.
Bahkan Bob Geldof pernah mempersoalkan beredarnya rekaman bajakan Live Aid di Indonesia.
Tetapi bagi seorang anak SD, semua persoalan itu tentu tidak terpikirkan.
Yang saya tahu hanya satu: saya punya kaset Deep Purple.
Dan saya bahagia.
Saya akhirnya tidak pernah menjadi gitaris. Jangankan memainkan gitar seperti Ritchie Blackmore, mungkin sampai sekarang kemampuan saya hanya sebatas genjreng-genjreng.
Namun musik yang kita cintai ketika kecil ternyata bisa menetap sangat lama.
Itulah sebabnya ketika membaca kabar Ritchie Blackmore kembali sepanggung dengan Deep Purple setelah 33 tahun, hati saya ikut terasa hangat.
Ian Gillan dan Ritchie Blackmore, dua nama besar yang selama ini kita kenal memiliki sejarah panjang, termasuk perselisihan dan perpisahan, akhirnya bisa berdiri bersama lagi.
Mungkin usia membuat manusia melihat masa lalu dengan cara berbeda.
Hal-hal yang dulu terasa besar, setelah puluhan tahun mungkin tidak lagi penting.
Saya kemudian teringat Dave Mustaine dan Metallica.
Mustaine pernah menjadi bagian dari sejarah awal Metallica sebelum akhirnya berpisah karena konflik dan membentuk Megadeth.
Tetapi bertahun-tahun kemudian mereka bisa berdiri bersama dalam panggung Big Four.
Bagi saya, momen seperti itu bukan sekadar reuni musisi.
Ada pesan yang jauh lebih sederhana: tidak semua perselisihan harus dibawa sampai tua.
Musik memang tidak mengenal batas.
Tidak mengenal bahasa, negara, bahkan perbedaan masa lalu.
Dua orang yang pernah berselisih bisa berdiri dalam satu panggung tanpa harus membuat pidato panjang tentang perdamaian.
Cukup memainkan sebuah lagu.
Menariknya, politikus sering berbicara panjang tentang persatuan dan perdamaian.
Di depan rakyat bisa terlihat saling berhadapan, tetapi ketika kamera mati, bukan tidak mungkin mereka duduk bersama, ngopi dan tertawa.
Saya tidak sedang bicara tentang politikus tertentu.
Saya hanya membandingkannya dengan para musisi.
Mereka tidak perlu banyak kata untuk menunjukkan bahwa berdamai itu indah.
Ritchie Blackmore dan Ian Gillan mungkin tidak perlu menjelaskan kepada dunia apa yang terjadi selama 33 tahun terakhir.
Ketika mereka kembali berdiri di panggung, musiklah yang berbicara.
Dan mungkin itulah yang membuat saya terharu.
Sebab yang saya lihat bukan hanya reuni sebuah band.
Saya seperti melihat kembali anak SD yang dulu memegang gagang sapu di ruang kelas dan berkhayal menjadi Ritchie Blackmore.
Puluhan tahun kemudian, saya memang tidak menjadi gitaris.
Tetapi musik yang saya dengarkan waktu kecil ternyata masih mampu membuat saya tersenyum dan terharu sampai hari ini.
Mungkin itulah keajaiban musik.
Ia bisa membuat kita tua, tetapi tidak pernah benar-benar membuat kenangan kita menjadi tua.
Mercurius
(Wartawan bomindonesia.com)









