BOMINDONESIA.COM, BANJARMASIN – Mata uang rupiah tembus Rp 17.705 per dolar AS. Hal ini berdampak melambungnya harga barang impor yang baru ini dirasakan PT Air Minum Bandarmasih.
Untuk pengadaan pipa misalnya, perusahaan milik daerah ini terpaksa memutar otak karena harga pipa naik hingga 50 persen bahkan lebih.
Direktur PT PAM Bandarmasin, Zulbadi menyampaikan bahwa pihaknya telah menyusun refocusing anggaran untuk menyesuaikan kebutuhan perusahaan. Dalam hal ini, pihaknya lebih memprioritaskan proyek yang berhubungan langsung dengan masyarakat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Misalnya peningkatan distribusi dan masalah layanan lainnya. Hal yang belum begitu penting tentu akan ditunda.
“Kenaikan dolar berdampak pada harga pipa yang bahan bakunya dari luar negeri. Kami pun disini terpaksa merefocusing anggaran, memilah mana yang skala prioritas untuk masyarakat,”.
“Misalnya tahun ini akan mengganti pipa sepanjang 5 km, mungkin akan dikurangi, ya karena harga pipa naik 50 persen tadi,” ujarnya.
Zulbadi pun membeberkan lagi, pengaruh kenaikan pipa tersebut juga bakal memperpanjang masa rencana peremajaan pipa yang tadinya 5 tahun bisa sampai menjadi 7 tahun.
Ia pun berharap kenaikan dolar dan pengaruh harga pipa tidak berlangsung lama, sehingga perencanaan awal yang sudah matang bisa berjalan sesuai harapan.
Dengan begitu, pemaksimalan pelayanan dan pemerataan distribusi ledeng benar-benar sampai ke ujung sambungan.
“Kita harap dolar segera membaik dan kami pun bisa menjalankan program pemerataan sambungan dengan lancar,” tutupnya.
penulis : Hamdani












