Suku Bauzi, Pemburu Buaya dari Pedalaman Papua yang Masih Memegang Tradisi Leluhur – bomindonesia.com

Suku Bauzi, Pemburu Buaya dari Pedalaman Papua yang Masih Memegang Tradisi Leluhur

- Redaksi

Selasa, 22 Juli 2025 - 06:36 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BOMINDONESIA.COM, PAPUA — Di tengah derasnya arus modernisasi dan perubahan zaman, masih ada kelompok masyarakat yang teguh mempertahankan gaya hidup leluhur mereka.

Dilansir salampapua.com, salah satunya adalah suku Bauzi, komunitas adat yang mendiami wilayah hulu Sungai Mamberamo, Papua.

Di sana, berburu buaya bukan hanya aktivitas mencari makanan—melainkan bagian dari warisan budaya yang menyatu dengan kepercayaan dan cara hidup mereka.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sungai Mamberamo, yang mengalir sepanjang 670 kilometer, bukan hanya menjadi jalur transportasi dan sumber kehidupan, tapi juga menjadi ladang perburuan bagi suku Bauzi. Di daerah ini, tradisi berburu dan meramu bukan sekadar kenangan masa lalu, melainkan aktivitas sehari-hari yang masih berlangsung hingga kini.

Hidup Bersama Alam

Menurut catatan arkeolog Hari Sroto dalam penelitiannya berjudul Tradisi Berburu Suku Bauzi di Mamberamo Raya, suku Bauzi menganut pola hidup semi-nomaden. Mereka tinggal dalam kelompok-kelompok kecil berdasarkan marga, membangun rumah sementara yang mudah dibongkar, dan berpindah-pindah tergantung musim serta hasil buruan.

Meski tanah mereka subur dan cocok untuk pertanian, suku Bauzi lebih memilih berburu dibandingkan bertani. Mereka hanya menanam tanaman yang tidak butuh banyak perawatan seperti pisang dan ubi kayu. Sesekali, mereka juga memelihara anak babi hasil tangkapan liar.

Tradisi Berburu Buaya

Dari berbagai jenis hewan buruan seperti kuskus, rusa, hingga kasuari, buaya menempati tempat khusus dalam budaya Bauzi. Berburu buaya bukan pekerjaan mudah. Mereka menggunakan alat tradisional berupa tombak dari kayu nibung dan tali rotan. Proses perburuannya membutuhkan nyali besar dan keahlian luar biasa.

Para pemburu menyelam ke dasar sungai hanya dengan bermodal insting dan tali. Mereka hanya menyerang buaya saat matanya tertutup—tanda bahwa reptil itu sedang lengah. Jika buaya berhasil dilumpuhkan, kulitnya dibawa pulang, dagingnya dijadikan bahan makanan, sementara lemaknya digunakan untuk memasak sagu dan mengobati malaria.

Bagian kepala buaya, terutama tengkoraknya, dipercaya memiliki kekuatan spiritual. Kepala tersebut biasanya diberikan kepada pemburu yang berhasil menyelam dan menangkap buaya, sebagai bentuk penghormatan sekaligus “warisan kekuatan”.

Menjaga Warisan di Tengah Perubahan

Di tengah ancaman hilangnya budaya-budaya lokal karena globalisasi, suku Bauzi menjadi contoh nyata bagaimana masyarakat adat bisa tetap bertahan dan beradaptasi tanpa kehilangan identitas. Tradisi mereka bukan hanya soal mempertahankan cara hidup, tapi juga menyangkut cara memandang alam sebagai mitra, bukan sekadar sumber daya.

Pemerintah dan lembaga budaya diharapkan bisa memberikan perhatian lebih pada kelompok-kelompok adat seperti suku Bauzi. Bukan untuk mengubah gaya hidup mereka, melainkan untuk melindungi hak dan wilayah adatnya agar budaya dan kearifan lokal tetap lestari.

“Apa yang bagi sebagian orang dianggap primitif, bagi suku Bauzi adalah kearifan. Mereka hidup berdampingan dengan alam dan tetap menyatu dengan leluhur mereka,” ujar Hari Sroto.

Penulis*/ Editor Mercurius

Follow WhatsApp Channel bomindonesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ramadan 1448 Diperkirakan Awal Februari 2027
Dorong Percepatan Verifikasi Desil, Saut Samosir Serap Asprasi Warga Pelambuan dan Kuin Cerucuk
Ketersediaan Air Bersih, Listrik, Infrastruktur Jadi Sorotan di Reses Saut Nathan Samosir
BRI BO Banjarmasin Samudera Perkuat Silaturahmi dan Sinergi dengan Pengadilan Agama Banjarmasin
Kelatau Batang Kembali Berkumpul, Persahabatan Smagha 2006 tak Lekang oleh Waktu
Sebelum jadi Kapolri, Suyudi Ario Seto Pernah Semifinalis Cover Boy Majalah Mode 1988, Ini Potret Masa Mudanya
Menjangkau Lebih Banyak Orang Melalui Penerjemahan
Conjurig, Film Hantu-Hantu Jalanan Bandung Siap Tayang di Bioskop

Berita Terkait

Rabu, 4 November 2026 - 13:50 WITA

Ramadan 1448 Diperkirakan Awal Februari 2027

Minggu, 25 Oktober 2026 - 16:08 WITA

Dorong Percepatan Verifikasi Desil, Saut Samosir Serap Asprasi Warga Pelambuan dan Kuin Cerucuk

Kamis, 22 Oktober 2026 - 14:03 WITA

Ketersediaan Air Bersih, Listrik, Infrastruktur Jadi Sorotan di Reses Saut Nathan Samosir

Rabu, 14 Oktober 2026 - 07:17 WITA

BRI BO Banjarmasin Samudera Perkuat Silaturahmi dan Sinergi dengan Pengadilan Agama Banjarmasin

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 14:14 WITA

Kelatau Batang Kembali Berkumpul, Persahabatan Smagha 2006 tak Lekang oleh Waktu

Berita Terbaru

Dorong Taat Pajak Daerah, Banjarmasin Mutakhirkan Data untuk Optimalkan PAD

Banjarmasin Bungas

Dorong Taat Pajak Daerah, Banjarmasin Mutakhirkan Data untuk Optimalkan PAD

Kamis, 5 Nov 2026 - 19:56 WITA

Kawal Prabowo, SMSI Siapkan Masukan Kritis

Halo Indonesia

Kawal Prabowo, SMSI Siapkan Masukan Kritis

Rabu, 4 Nov 2026 - 18:32 WITA

Verified by MonsterInsights