BOMINDONESIA.COM, JAKARTA – Proyeksi penjualan mobil nasional ditarget mampu mencapai 900 ribu unit pada 2025.
Kukuh Kumara Sekretaris Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mengungkapkan, proyeksi ini lebih tinggi dibandingkan realisasi penjualan mobil nasional pada tahun lalu yakni 865.723 unit untuk kategori wholesales (pabrik ke dealer) dan 889.680 unit untuk kategori ritel (dealer ke konsumen).
“Jadi, angka ini lebih tinggi ketimbang proyeksi penjualan mobil nasional versi revisi pada 2024 yaitu 850.000 unit,” ucapnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia mengaku, optimisme ini mencuat mengingat adanya kabar bahwa 25 provinsi memutuskan untuk menunda implementasi opsen pajak untuk kendaraan bermotor pada 2025.
Hanya saja ia tidak merinci nama-nama provinsi yang menunda kebijakan opsen pajak. Namun, dalam paparan Gaikindo, ada beberapa provinsi yang memberi insentif opsen, sehingga besaran pajak kendaraan bermotor (PKB) dan bea balik nama kendaraan bermotor (BBNKB) tidak mengalami perubahan untuk sementara waktu.
Di antaranya adalah Jawa Timur, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat, Bali, Kepulauan Riau, Sumatra Utara, Sumatra Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Selatan. Opsen pajak juga tidak diberlakukan di Jakarta.
Kebijakan opsen pajak memang menjadi salah satu tantangan utama bagi industri otomotif tahun ini. “Jika opsen pajak berlaku di semua provinsi, penjualan mobil nasional bisa turun seperti masa pandemi Covid-19 dan sulit untuk bangkit kembali,” ujarnyaa dalam diskusi bersama Forum Wartawan Industri (Forwin), Rabu (14/1/2025).
Kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menjadi 12% yang turut menyasar kendaraan roda empat juga menjadi tantangan bagi industri otomotif pada 2025. “Dampaknya tidak semasif opsen pajak. Ini mengingat, beban kenaikan PPN masih bisa diminimalisasi jika konsumen membeli mobil dengan skema cicilan,” imbuhnya.












