BOMINDONESIA.COM,
Di tengah panasnya perdebatan soal film dokumenter Pesta Babi, publik Indonesia kembali diperlihatkan bagaimana sebuah karya visual bisa berubah menjadi arena pertarungan narasi yang jauh lebih besar daripada film itu sendiri. (Tulis miring )
Awalnya, film ini hadir dengan membawa isu masyarakat adat, hutan Papua, proyek strategis nasional, hingga suara-suara yang disebut selama ini jarang mendapat ruang.
Namun seiring viralnya film tersebut, arah diskusi berubah cepat.
Ia tak lagi sekadar berbicara tentang lingkungan atau agraria, tetapi melebar menjadi perdebatan soal politik, keamanan, propaganda, bahkan dugaan pembentukan opini internasional mengenai Papua.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebagian pihak memandang film itu sebagai bentuk kritik sosial yang sah dalam negara demokrasi.
Kritik dianggap penting agar pembangunan tidak mengabaikan masyarakat adat dan keseimbangan alam.
Namun di sisi lain, muncul pula kekhawatiran bahwa narasi yang dibangun bisa dimanfaatkan pihak tertentu untuk memperkeruh situasi Papua di mata dunia.
Kontroversi makin rumit ketika sejumlah kegiatan nonton bareng dibubarkan, lalu muncul pengakuan salah satu tokoh adat yang disebut tampil dalam film merasa keberatan dan meminta narasi yang menyeret dirinya dihentikan.
Di titik inilah publik mulai bertanya: apakah ini murni dokumenter, kritik sosial, atau sudah masuk wilayah perang opini?
Di era media sosial, batas antara fakta, persepsi, dan emosi memang semakin tipis.
Sebuah potongan video bisa menjadi senjata propaganda.
Sebuah film bisa berubah menjadi alat mobilisasi opini.
Bahkan larangan dan pembubaran sering kali justru membuat rasa penasaran publik semakin besar.
Papua sendiri selama bertahun-tahun memang menjadi ruang yang sensitif. Di sana ada persoalan pembangunan, sejarah panjang konflik, ketimpangan, kepentingan ekonomi, hingga perebutan pengaruh geopolitik global.
Karena itu, setiap narasi yang muncul hampir pasti akan memancing reaksi keras dari berbagai pihak.
Yang patut dijaga adalah agar perdebatan tidak berubah menjadi kebencian.
Kritik boleh berjalan, negara juga punya hak menjaga stabilitas, tetapi ruang dialog tetap harus terbuka agar masyarakat tidak hanya dijejali satu sudut pandang.
Sebab ketika semua pihak terlalu sibuk memenangkan narasi, kebenaran sering kali justru tertinggal di tengah jalan.
Dan pada akhirnya, babi tetaplah babi — hewan yang lebih sering berjalan sambil menunduk ke tanah, sibuk mencari makan, dengan dengusan dan pekikan gaduh ketika merasa sakit atau takut, tanpa peduli manusia di sekelilingnya sedang ribut soal ideologi, politik, maupun perang narasi.
Semoga akal sehat kita tetap terjaga, tidak mudah terpecah oleh gaduhnya opini, dan tidak kehilangan persaudaraan hanya karena perbedaan sudut pandang.
Mercurius
(Penulis wartawan bomindonesia.com)











