Archos dan Malioboro: Ketika Seni tak Selalu Soal Harga – bomindonesia.com

Archos dan Malioboro: Ketika Seni tak Selalu Soal Harga

- Redaksi

Rabu, 17 Desember 2025 - 15:15 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Archos dan Malioboro: Ketika Seni tak Selalu Soal Harga

Archos (kiri ) dan penulis (foto dok pribadi)

BOMINDONESIA.COM, YOGYACOKARTA-Malioboro selalu punya cerita. Di antara gemerlap lampu, derap langkah wisatawan, dan suara musik jalanan, ada kisah-kisah sunyi yang tak berisik.

Salah satunya adalah Archos, seorang pelukis yang memilih hidup bersahabat dengan jalanan, bukan bersembunyi di balik dinding galeri.

Setiap hari, Archos duduk di sudut Malioboro yang berbatasan dengan Jalan Pasar Kembang.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Rambut panjangnya dikuncir rapi. Tangannya lebih akrab dengan sketsa wajah dan guratan batin ketimbang hiruk-pikuk transaksi.

Ia menjaga lapak kecil pipa cangklong rokok—bukan miliknya—sekadar membantu adik, sembari membiarkan seni tetap bernapas.

Archos adalah sarjana seni rupa, berusia 55 tahun, dengan dua putri dan dua cucu.

Ia satu generasi dengan Sawung Jabo, memiliki rekam jejak seni yang tak singkat, bahkan pernah terikat dengan Galeri Gajah.

Beberapa karyanya pernah dibeli tokoh nasional, termasuk Ganjar Pranowo mantan Gubernur Jawa Tengah dan Calon Presiden.

Namun semua itu tidak menjadikannya terikat pada gengsi.

Baginya, seni bukan etalase harga.

Ada lukisan yang tak akan dilepas meski ditawar mahal.

Ada pula karya yang rela dijual murah ketika hidup meminta kompromi. “Seniman itu kadang tak bisa menjawab soal harga,” kata Archos suatu kali.

Bukan karena tak tahu nilainya, tetapi karena seni punya ukuran yang tak selalu bisa dihitung.

Darah seni Archos mengalir dari ibunya yang seorang penyanyi.

Bakat itu tumbuh sejak ia sekolah di Bukittinggi dan kini diwariskan kepada anak-anaknya.

Meski ayahnya dulu berharap ia masuk fakultas hukum, seni justru menjadi jalan yang menghidupi keluarga, bahkan membantu dua adiknya menyelesaikan kuliah hukum hingga sarjana.

Archos juga dikenal sebagai pendiri Malioboro Classical, kelompok musik yang hidup dari denyut jalanan.

Ia percaya seni harus dekat dengan manusia, bukan hanya tergantung di dinding putih galeri.

Hidup baginya sederhana: mengalir dan dinegosiasikan dengan keadaan. Ia senang berbincang, bersahabat, dan membuka ruang dialog.

Namun ia tak suka memaksa seni tunduk pada pasar. Malioboro memberinya ruang untuk tetap jujur pada diri sendiri.

Di era ketika seni sering diukur oleh harga dan popularitas, Archos berdiri di jalur lain.

Ia memilih Malioboro—dengan hujan rintik, emperan sempit, dan wajah-wajah asing—sebagai ruang paling jujur untuk berkarya.

Bagi yang ingin melihat atau merasakan langsung sentuhan seninya, Archos bisa ditemui di Malioboro atau melalui akun @karikaturjogya.

Selebihnya, seni Archos tak meminta apa-apa selain waktu dan kepekaan.

Karena di Malioboro, Archos membuktikan satu hal: seni tak selalu soal harga, tapi tentang bagaimana seseorang memilih hidup.

Penulis/ Editor : Mercurius

Follow WhatsApp Channel bomindonesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Sebelum jadi Kapolri, Suyudi Ario Seto Pernah Semifinalis Cover Boy Majalah Mode 1988, Ini Potret Masa Mudanya
Menjangkau Lebih Banyak Orang Melalui Penerjemahan
Conjurig, Film Hantu-Hantu Jalanan Bandung Siap Tayang di Bioskop
Viral Tren “Wajah 2026, Gaya 1980-an”, Warganet Ramai-Ramai jadi Anak 80’s di Medsos
Guru Busu Ingatkan Keteladanan Rasulullah di Tengah Ratusan Jemaah Maulid Sungai Lulut
HUT ke-2 FKPWK Bertabur Penghargaan, dari Pelajar Berprestasi hingga Seniman Banjar
Polda Kalsel Bersama Forkopimda dan Masyarakat Gelar Shalat Istisqa di Tengah Kemarau Panjang
Lomba Catur Cepat, Cara Warga Meriahkan Dirgahayu RI di Bawah Jembatan Banua Anyar

Berita Terkait

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 12:27 WITA

Sebelum jadi Kapolri, Suyudi Ario Seto Pernah Semifinalis Cover Boy Majalah Mode 1988, Ini Potret Masa Mudanya

Selasa, 29 September 2026 - 12:45 WITA

Menjangkau Lebih Banyak Orang Melalui Penerjemahan

Senin, 14 September 2026 - 17:40 WITA

Conjurig, Film Hantu-Hantu Jalanan Bandung Siap Tayang di Bioskop

Jumat, 11 September 2026 - 22:23 WITA

Viral Tren “Wajah 2026, Gaya 1980-an”, Warganet Ramai-Ramai jadi Anak 80’s di Medsos

Rabu, 26 Agustus 2026 - 18:05 WITA

Guru Busu Ingatkan Keteladanan Rasulullah di Tengah Ratusan Jemaah Maulid Sungai Lulut

Berita Terbaru

Karhutla Serang Kawasan Kampus Uniska, Ribuan Mahasiswa Dipulangkan

Banjarmasin Bungas

Karhutla Serang Kawasan Kampus Uniska, Ribuan Mahasiswa Dipulangkan

Rabu, 7 Okt 2026 - 12:48 WITA

Verified by MonsterInsights