BOMINDONESIA.COM, JAKARTA – Harga emas dunia melonjak 2,10% ke US$5.064 per troy ons sebelum terkoreksi 0,88%. Pelemahan dolar AS dan data tenaga kerja picu volatilitas pasar.
Harga emas dunia kembali menunjukkan volatilitas tinggi pada awal pekan ini. Setelah melonjak tajam pada perdagangan Senin (9/2/2026), logam mulia tersebut terkoreksi pada Selasa (10/2/2026) pagi, mencerminkan dinamika pasar global yang dipengaruhi pergerakan dolar Amerika Serikat (AS) dan ekspektasi kebijakan moneter Federal Reserve.
Pada penutupan perdagangan Senin, harga emas di pasar spot tercatat naik 2,10% ke level US$5.064,49 per troy ons. Kenaikan tersebut memperpanjang reli dua hari beruntun dan membawa emas kembali menembus level psikologis US$5.000, yang terakhir kali dicapai pada 29 Januari 2026. Namun, hingga pukul 06.37 WIB pada Selasa pagi, harga emas melemah 0,88% ke posisi US$5.020,60 per troy ons.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kenaikan signifikan pada awal pekan dipicu pelemahan dolar AS. Indeks dolar dilaporkan turun 0,8% ke level terendah dalam lebih dari sepekan. Kondisi ini membuat emas yang diperdagangkan dalam denominasi dolar menjadi relatif lebih murah bagi investor luar negeri, sehingga meningkatkan permintaan global.
Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities, Bart Melek, menyatakan bahwa pergerakan dolar menjadi faktor utama penggerak harga emas. Ia menambahkan bahwa pelaku pasar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi perlambatan ekonomi AS, terutama di sektor ketenagakerjaan. Pernyataan tersebut memperkuat sentimen bahwa arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve akan sangat dipengaruhi data ekonomi terbaru.
Investor kini menanti sejumlah rilis data penting, termasuk nonfarm payrolls, indeks harga konsumen, dan klaim pengangguran. Berdasarkan jajak pendapat Reuters, data nonfarm payrolls Januari diperkirakan hanya bertambah 70.000 pekerjaan. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan rata-rata historis, sehingga memunculkan spekulasi bahwa tekanan di pasar tenaga kerja mulai terlihat.
Pergerakan Harga Emas/XAU (US$/troy ons)

Ekspektasi pasar menunjukkan kemungkinan setidaknya dua kali penurunan suku bunga masing-masing sebesar 25 basis poin sepanjang 2026. Suku bunga yang lebih rendah cenderung mendukung harga emas karena menurunkan biaya peluang kepemilikan aset yang tidak memberikan imbal hasil. Dalam situasi suku bunga tinggi, investor biasanya beralih ke instrumen berbunga. Sebaliknya, ketika suku bunga turun, daya tarik emas meningkat sebagai aset lindung nilai.
Di sisi lain, permintaan institusional turut memberikan fondasi bagi harga emas. Bank Rakyat China dilaporkan memperpanjang pembelian emas untuk bulan ke-15 secara berturut-turut pada Januari. Langkah tersebut menunjukkan strategi diversifikasi cadangan devisa yang konsisten di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Pendiri dan Direktur Eksekutif B2PRIME Group, Eugenia Mykuliak, menilai pembelian emas oleh bank sentral, khususnya China, menjadi faktor penstabil struktural di pasar. Permintaan resmi yang berkelanjutan dinilai memperkuat fondasi harga, meskipun volatilitas jangka pendek tetap terjadi akibat sentimen makroekonomi.
Pergerakan harga emas yang menyerupai “roller coaster” dalam dua hari terakhir menggambarkan bagaimana pasar merespons kombinasi faktor moneter, data ekonomi, dan pergerakan mata uang. Lonjakan tajam diikuti koreksi cepat menunjukkan bahwa investor masih menyesuaikan posisi menjelang kepastian arah kebijakan The Federal Reserve.
Secara keseluruhan, tren harga emas dalam jangka pendek akan sangat ditentukan oleh hasil rilis data ekonomi AS pekan ini. Jika data ketenagakerjaan dan inflasi menunjukkan perlambatan signifikan, peluang pelonggaran kebijakan moneter akan semakin terbuka, yang berpotensi kembali mendorong harga emas. Sebaliknya, data yang lebih kuat dari perkiraan dapat memperkuat dolar AS dan menekan logam mulia tersebut.
Volatilitas yang terjadi menegaskan bahwa pasar emas saat ini berada dalam fase sensitif terhadap sentimen global. Investor pun dihadapkan pada dinamika cepat yang menuntut ketelitian dalam membaca arah kebijakan dan perkembangan ekonomi dunia.
Sumber CNBC












