BOMINDONESIA, JAKARTA – Pelarian panjang Frans Antoni, salah satu aktor intelektual paling dicari dalam sindikat narkoba internasional pimpinan Fredy Pratama alias Casanova, resmi berakhir di tangan tim gabungan Bareskrim Polri.
Frans Antoni bersama istrinya, Petra Niasi, berhasil ditangkap di Malaysia dan diterbangkan langsung menuju Gedung Bareskrim Polri, Jakarta, pada Jumat (19/6/2026) sore.
Penangkapan Frans Antoni yang merupakan teman satu sekolah Fredy Pratama semasa SMA di Malang, Jawa Timur ini, menguak tabir baru mengenai betapa rapinya sistem pengelolaan logistik keuangan yang membuat gembong narkoba terbesar di Indonesia itu tetap mampu bertahan di luar negeri selama lebih dari satu dekade.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Layer Pertama dan Jantung Finansial Sindikat
Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, Brigjen Pol Eko Hadi Santoso, mengonfirmasi bahwa Frans Antoni berada di pucuk pimpinan (ring satu) yang memegang otoritas penuh terhadap perputaran modal sindikat.
“Tersangka FA ini ibarat jantung keuangan dari jaringan FP (Fredy Pratama). Perannya sangat vital, yakni mengatur seluruh arus masuk uang dari hasil penjualan narkotika jenis sabu dan ekstasi di Indonesia, sekaligus mendistribusikannya kembali untuk membiayai operasional penyelundupan logistik narkoba dalam jumlah besar,” ujar Brigjen Pol Eko Hadi di Gedung Bareskrim Polri.
Sejak masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) pada 12 November 2023, Frans Antoni terus berpindah-pindah tempat persembunyian.
Ia sempat menetap lama di wilayah pedalaman hutan Thailand bersama Fredy Pratama, sebelum akhirnya terdesak akibat penyempitan ruang gerak oleh otoritas setempat, lalu menyeberang secara ilegal ke Malaysia hingga akhirnya diringkus.
Modus Penyelundupan: 168 Kali Angkut Cash ke Thailand
Hasil interogasi mendalam membongkar fakta mencengangkan terkait taktik pencucian uang (money laundering) yang digunakan sindikat ini sebelum sistem perbankan mereka diendus oleh Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK).
Sepanjang periode aktifnya, kelompok Frans Antoni tercatat telah melakukan perjalanan udara sebanyak 168 kali penerbangan langsung dari Indonesia ke Thailand.
Aktivitas ini dilakukan secara berkala dengan frekuensi 2 hingga 3 kali setiap bulan menggunakan kurir-kurir khusus.
Dalam setiap kali penerbangan, kurir kepercayaan membawa uang tunai fisik minimal senilai Rp 1 miliar.
Demi menyamarkan volume dan memperkecil bentuk fisik, uang rupiah tersebut terlebih dahulu dikonversi menjadi pecahan mata uang asing bernilai tinggi, seperti Dolar Singapura. Setibanya di Thailand, dana tunai massal ini dicuci melalui jaringan perbankan bawah tanah (illegal underground banking/money changer) serta ditukarkan ke dalam aset kripto (cryptocurrency) untuk dialirkan kembali sebagai modal pembelian bahan baku narkoba di kawasan Segitiga Emas (Golden Triangle).
Kepolisian menegaskan bahwa data intelijen gabungan antarnegara secara konsisten menangkap sinyal pergerakan aktif Fredy Pratama.
Pria asal Banjarmasin tersebut dipastikan masih hidup dan memimpin langsung kendali pasokan dari luar negeri.
Lambatnya proses penangkapan murni disebabkan oleh hambatan yurisdiksi dan perlindungan geografis.
Fredy diketahui menikahi putri dari salah satu kartel besar di Thailand, yang memberinya perlindungan logistik dan tempat berlindung di area hutan perbatasan yang sulit ditembus aparat hukum formal.
Dengan jatuhnya Frans Antoni ke tangan Polri, struktur logistik keuangan Fredy Pratama dipastikan mengalami kelumpuhan besar.
Penyidik Bareskrim kini fokus melakukan pelacakan aset (asset tracing) lanjutan serta memeriksa maraton kedua tersangka demi mendapatkan koordinat paling presisi dari persembunyian Fredy Pratama yang kini berstatus Red Notice paling dicari di Asia Tenggara.
Dirangkum dari berbagai sumber
Editor : Mercurius












