Mengenang Clara Sumarwati, Pendaki Puncak Everest Pertama Indonesia – bomindonesia.com

Mengenang Clara Sumarwati, Pendaki Puncak Everest Pertama Indonesia

- Redaksi

Minggu, 5 Oktober 2025 - 11:01 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mengenang Clara Sumarwati, Pendaki Puncak Everest Pertama Indonesia

Berhasil Menggapai Puncak Everest, yang tidak Diakui Indonesia, namun Terkenal di Dunia

 

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pendaki wanita asal Yogyakarta Clara Sumarwati meninggal dunia pada Kamis, 2 Oktober 2025. Clara Sumarwati tercatat sebagai pendaki puncak Everest pertama dari Indonesia.

 

Mengacu pada berbagai sumber, Clara Sumarwati melakukan perjalanan pendakian puncak Everest dalam rangka merayakan HUT Kemerdekaan RI 17 Agustus 1996.

 

Tidak main-main, sebelum perjalanan dimulai, Clara ternyata sempat mendatangi Istana Negara untuk mendapatkan sponsor. Dia berhasil, dan setelah itu dia menjalani latihan bersama Kopasus.

 

Latihan keras itu berbuah manis. Perjalanan Clara mencapai puncak Everest berhasil direalisasikan pada 1996. Sayangnya, sepulang dari pendakian Clara dikabarkan mengalami gangguan jiwa. Dia pun dirawat di RSJ pada 1997 untuk pertama kalinya.

 

Clara Sumarwati perempuan Indonesia yang berhasil menggapai puncak Gunung Everest dengan ketinggian 8.849 mdpl pada tahun 1996 silam. Namun, banyak masyarakat Indonesia tak mempercayai dan mengakui atas capaian yang telah ditorehkannya. Bahkan, Clara Sumarwati sempat masuk rumah sakit jiwa karena dianggap mengada-ada, hingga akhirnya dia depresi.

 

Clara masuk rumah sakit jiwa di Magelang setahun setelah dirinya berhasil menaklukan puncak Gunung Everest yang merupakan gunung tertinggi di dunia. Dilansir dari akun instagram @grammatikal, selama di rumah sakit jiwa pada tahun 1997, Clara selalu berkata bila dirinya pernah mendaki Gunung Everest.

 

Namun sayangnya, Pemerintah Indonesia, termasuk masyarakat kalangan atas di lingkungannya meragukan ucapan Clara Sumarwati karena dianggap kurang bukti. Sebab, Clara hanya menunjukkan sedikit bukti foto ketika dirinya mencapai puncak Gunung Everest. Apalagi, tidak adanya foto segitiga yang menandakan bila Clara telah mencapai puncak Everest sebagai bukti.

 

Meski diragukan oleh masyarakat Indonesia, ternyata Clara Sumarwati telah diakui di sejumlah penjuru dunia. Bahkan beberapa jurnal luar negeri telah mengakui Clara Sumarwati sebagai perempuan Asia Tenggara pertama yang sampai di puncak Gunung Everest.

 

Nama Clara telah diakui dunia sebagai pendaki yang berhasil sampai ke puncak Everest. Hal ini mengacu pada catatan buku-buku Everest karya Walt Unsworth (1999), Everest: Expedition to the Ultimate karya Reinhold Messner (1999), hingga laman resmi Everest History.

 

Pendakian ke Gunung Everest pada 26 September 1996 diakui Clara, yang dilansir dari akun instagram @empatjourneystore bukanlah ekspedisi pertama baginya. Sebab sebelumnya pada 1994, Clara Sumarwati bersama lima orang dari Perkumpulan Pendaki Gunung Angkatan Darat (PPGAD) sempat mendaki Gunung Everest, meski hanya mencapai ketinggian 7.000 meter. Pada saat pendakian tahun 1994 tersebut, Clara bersama tim PPGAD terhadang medan yang sulit dan berbahaya, karena berada di jalur ‘South Col’ atau Selatan pada Pegunungan Himalaya.

 

Atas kegagalan itulah, membuat tekad Clara Sumarwati semakin bulat untuk menaklukkan puncak Gunung Everest. Dia pun bercita-cita untuk mengibarkan bendera merah putih di puncak Everest pada 17 Agustus 1995, tepat 50 tahun Indonesia merdeka. Bahkan dalam kepsyen @empatjourneystore disebutkan bila Clara telah mendaki beberapa gunung, yakni Gunung Aconcagua di Argentina dengan ketinggian mencapai 6.962 meter di atas permukaan laut (mdpl), dan Gunung Annpurna di Nepal, yang ketiggiannya mencapai 8.091 mdpl.

 

Kisah perjalanan pendakian Everest perempuan kelahiran 6 Juli 1967 ini juga dimuat dalam sebuah buku berjudul ‘Indonesia Menjejak Everest’ yang disusun oleh Jurnalis Indonesia Furqon Ulya. Tak hanya itu, namanya juga tercatat dalam beberapa buku di luar negeri, seperti buku berjudul ‘Everest’ karya Walt Unsworth pada tahun 1999, dan ‘Everest: Expedition to the Ultimate’ karya Reinhold Messner di tahun yang sama.

Follow WhatsApp Channel bomindonesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Astamaops Polri dan KSAL Tinjau Karhutla Kalsel, Kapolda Turun Langsung Padamkan Api
BREAKING NEWS Kebakaran Kembali Landa Banjarmasin , Api Berkobar di Gang Damai Simpang Jagung
Aksi #KalselLumpuh, Mahasiswa Soroti Karhutla, Listrik Padam hingga Antrean BBM
Karhutla Liang Anggang Meluas, Asap Ganggu Pengguna Jalan Trans Kalimantan
Duka di Hari Kemerdekaan, Kebakaran di Pemurus Dalam Telan Korban Jiwa
Antrean BBM Subsidi di SPBU, YLK: Bentuk Tim dan Pengawasan di Lapangan
Di Tengah Ancaman Kabut Asap dan Listrik Bergilir, Kebakaran Kejutkan Warga Gang Swarga Gambut
Kebakaran Hebat Hanguskan Belasan Bangunan di Pasar Teluk Dalam
Tag :

Berita Terkait

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 22:28 WITA

Astamaops Polri dan KSAL Tinjau Karhutla Kalsel, Kapolda Turun Langsung Padamkan Api

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 02:16 WITA

BREAKING NEWS Kebakaran Kembali Landa Banjarmasin , Api Berkobar di Gang Damai Simpang Jagung

Kamis, 20 Agustus 2026 - 23:51 WITA

Aksi #KalselLumpuh, Mahasiswa Soroti Karhutla, Listrik Padam hingga Antrean BBM

Rabu, 19 Agustus 2026 - 22:55 WITA

Karhutla Liang Anggang Meluas, Asap Ganggu Pengguna Jalan Trans Kalimantan

Senin, 17 Agustus 2026 - 23:52 WITA

Duka di Hari Kemerdekaan, Kebakaran di Pemurus Dalam Telan Korban Jiwa

Berita Terbaru

Banjarmasin Bungas

Kabel Semrawut Ditata, Pemko Banjarmasin Siapkan Aturan Fiber Optik

Minggu, 23 Agu 2026 - 20:43 WITA

Verified by MonsterInsights