One Piece, Spanduk Fans, dan Reaksi yang Berlebihan – bomindonesia.com

One Piece, Spanduk Fans, dan Reaksi yang Berlebihan

- Redaksi

Rabu, 6 Agustus 2025 - 22:12 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

One Piece, Spanduk Fans, dan Reaksi yang Berlebihan

Oleh Mercurius

BOMINDONESIA.COM,
Fenomena pengibaran bendera One Piece menjelang HUT Kemerdekaan RI ke-80 memicu kehebohan.

Bahkan, sejumlah aparat turun tangan hanya karena selembar bendera fiksi berkibar berdampingan dengan Merah Putih. Sebagian pihak menyebutnya tindakan tak pantas, bahkan beraroma makar simbolik.

Tapi bukankah ini terlalu berlebihan?

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Jika kita jujur, bendera bajak laut One Piece itu tak jauh beda dengan spanduk atau bendera yang dibawa fans saat konser Slank, Superman Is Dead, Metallica, atau band lainnya.

Mereka berteriak, mengangkat simbol-simbol idolanya, menyuarakan identitas, dan… hanya pada saat konser itu berlangsung.

Begitu juga dengan bendera One Piece. Ia mungkin berkibar karena anak muda sedang euforia.

Sekadar selebrasi. Mereka bukan ingin mengganti Merah Putih.
Mereka tahu, di dada mereka tetap merah putih.

Fenomena ini tak jauh beda dengan gelombang fans klub sepak bola yang mengecat wajah dan mengibarkan bendera klub saat pertandingan.
Apakah itu bentuk makar? Tentu tidak.

Kalau mendiang Gus Dur masih hidup, mungkin beliau hanya akan tertawa melihat kegaduhan ini.

Dulu saat bendera Bintang Kejora dikibarkan di Papua, Gus Dur tidak langsung mengerahkan aparat. Ia cukup berkata, “Anggap saja umbul-umbul.”

Sebagai pemimpin, Gus Dur tahu membedakan antara simbol budaya dan ancaman nyata. Ia memahami bahwa demokrasi bukan sekadar membela simbol negara, tetapi juga memberi ruang bagi rakyat mengekspresikan diri—sepanjang tidak merusak dan tidak menistakan.

Semakin dilarang, bendera One Piece justru makin viral. Ini hukum sosial yang tak terbantahkan: makin ditekan, makin meledak. Maka bijaklah, jangan terlalu sensitif terhadap ekspresi sesaat. Marah berlebihan terhadap simbol fiksi justru memperkecil wibawa simbol yang sesungguhnya.

Bila memang ada kekhawatiran, edukasi adalah jalan terbaik. Bukan intimidasi. Karena Merah Putih tidak akan luntur hanya karena di sebelahnya ada bendera bajak laut anime.

Kita ini bukan negara rapuh. Kita adalah bangsa yang kuat.

Dan kadang, cukup dengan tertawa saja, kita bisa menunjukkan itu.

Mercurius
07/08/2025

Follow WhatsApp Channel bomindonesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Wajah Indonesia di Tragedi Virgo dan Kembalikan Kapal Penumpang Era Kelimutu
500 Tahun Banjarmasin, Merayakan dengan Empati
Titanic, Tampomas 2 dan Heroisme sang Kapten
Bencana Silih Berganti, Kepastian Kehadiran Negara Dipertanyakan?
Uniska Bakal Buka Fakultas Kedokteran, Kuota Mahasiswanya 50 Orang
Pulpen Teddy , Lirikan Putin dan Adab di Meja Perundingan
Siap Gandeng Investor, Siring dan Pulau Insan Bakal Majukan Pariwisata Banjarmasin
INDONESIA

Berita Terkait

Rabu, 30 September 2026 - 13:02 WITA

Wajah Indonesia di Tragedi Virgo dan Kembalikan Kapal Penumpang Era Kelimutu

Kamis, 24 September 2026 - 02:55 WITA

500 Tahun Banjarmasin, Merayakan dengan Empati

Minggu, 20 September 2026 - 13:41 WITA

Titanic, Tampomas 2 dan Heroisme sang Kapten

Rabu, 9 September 2026 - 19:38 WITA

Bencana Silih Berganti, Kepastian Kehadiran Negara Dipertanyakan?

Senin, 7 September 2026 - 17:02 WITA

Uniska Bakal Buka Fakultas Kedokteran, Kuota Mahasiswanya 50 Orang

Berita Terbaru

Verified by MonsterInsights