BOMINDONESIA.COM, BANJARMASIN – Panas hujan tak menentu yang terjadi belakangan ini memicu berkembangnya kuman. Kewaspadaan ancaman penyakit juga siap mengintai manusia apabila kesehatan tak diperhatikan.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Banjarmasin mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap penyakit radang tenggorokan (faringitis) dan Demam Berdarah Dengue (DBD).
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin, Dwi Atmi, menjelaskan bahwa perubahan cuaca yang fluktuatif ini sangat berpengaruh terhadap daya tahan tubuh masyarakat.
”Beberapa hari yang lalu, agak lama ya mungkin hampir semingguan, cuaca kita panas dan kering. Saat musim kemarau dan cuaca panas, kecenderungan masyarakat pasti mencari minuman yang dingin atau es. Hal ini yang kemudian memicu peningkatan kasus penyakit,” ungkap Atmi ditemui di Balai Kota Banjarmasin, Kamis (11/06/2026).
Berdasarkan laporan yang masuk dari berbagai Puskesmas ke Dinas Kesehatan, terjadi peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan atas, khususnya faringitis.
Untuk dihimbau khusus bagi warga yang memiliki tenggorokan sensitif namun tetap ingin mengonsumsi minuman dingin di tengah cuaca terik.
”Bagi masyarakat yang mungkin sensitif dengan suhu dingin di tenggorokan, bisa mengantisipasinya dengan meminum air hangat setelah minum es. Tujuannya agar tidak memicu radang bagi mereka yang memang sering mengalami gejala tersebut,” imbaunya.
Selain infeksi saluran pernapasan, juga ancaman DBD. Kondisi ini menciptakan tempat perkembangbiakan yang ideal bagi nyamuk Aedes aegypti.
”Ketika musim kemarau diselingi hujan seperti hari ini, kita harus sangat waspada terhadap demam berdarah. Nyamuk Aedes aegypti itu sangat menyukai tempat yang berisi air bersih,” tegas Dwi.
Lebih lanjut, ia menyoroti perilaku membuang sampah sembarangan, khususnya sampah plastik seperti botol minuman bekas, sebagai pemicu utama naiknya kasus DBD.
Jika dibiarkan di ruang terbuka, botol-botol tersebut akan menampung air hujan yang sifatnya bersih, sehingga menjadi sarang nyamuk yang sempurna.
”Oleh karena itu, kami memohon kerja sama masyarakat. Mari kita pilah sampah dari rumah supaya tidak menjadi sarang nyamuk. Pastikan di lingkungan kita tidak ada tumpukan sampah plastik terbuka yang bisa menampung air hujan,” pungkas Atmi.












