BOMINDONESIA.COM, BANJARMASIN – Mahalnya beras lokal seperti jenis Mayang, Unus dan Mutiara dikeluhkan masyarakat banjar. Hal ini terjadi karena masyarakat panatik dengan beras lokal atau beras banjar tersebut.
Padahal, banyak jenis beras dari luar pulau yang sama karakternya yang karau alias tidak lengket.
Kepala Bagian Ekonomi Setdako Banjarmasin, Siane Apriliawati menyampaikan, beras lokal sekarang memang sedang naik-naiknya yang mencapai Rp 16 ribu-19 ribu.
Itu terjadi karena berkurangnya pasokan, sementara permintaan beras lokal begitu tinggi, apalagi di Kota Banjarmasin yang merupakan penduduk paling banyak di Kalsel.
Kata Siene, Kondisi tersebut sebenarnya bisa disikapi dengan alternatif beras jenis pemanukan yang harganya masih terjangkau yakni Rp 14-15 ribu.
Beras pamanukan asal Jawa Barat itu memiliki tekstur pera (karau red lokal banjar) atau istilah lainnya tidak lengket.
“Melonjaknya harga beras lokal, warga bisa saja menggantinya dengan jenis beras pamanukan yang sama pera atau karau. Harganya juga murah 14 ribu,” ucapnya.
Siane pun menyampaikan, bahwa kondisi kenaikan harga beras lokal ini diyakini akan kembali normal jika terjadi masa panen padi lokal yang diprediksi akan panen pada bulan Juli mendatang.
“Harga beras lokal ini akan segera kembali normal jika masa panen padi lokal datang,” tutupnya.
Penulis : Hamdani












