WALHI Kalsel Tuntut Negara Bela Masyarakat Desa Bekabit, Sebuku Sejaka Coal dan Kerakusan yang Bercokol

WALHI Kalsel Tuntut Negara Bela Masyarakat Desa Bekabit, Sebuku Sejaka Coal dan Kerakusan yang Bercokol

- Redaksi

Kamis, 12 Februari 2026 - 07:02 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BOMINDONESIA.COM – Sengketa lahan di Desa Bekambit, Kecamatan Pulau Laut Timur, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan adalah kisah panjang tentang bagaimana hak hidup masyarakat tergilas oleh tumpang tindih kebijakan agraria dan pertambangan.

Direktur Eksekutif Walhi Kalsel, Raden Rafiq, menyampaikan, peristiwa memilukan itu bukan sekadar persoalan administrasi pertanahan, melainkan persoalan ruang hidup warga transmigran yang sejak akhir 1980-an ditempatkan negara melalui program resmi dan membangun kehidupan mereka di atas tanah tersebut.

Warga transmigran memiliki Sertifikat Hak Milik (SHM) yang diterbitkan sekitar tahun 1990 sebagai bentuk pengakuan legal atas tanah yang mereka tempati dan kelola. Selama puluhan tahun, lahan itu menjadi kebun, rumah, dan sumber penghidupan keluarga. Situasi berubah ketika Izin Usaha Pertambangan (IUP) terbit di wilayah yang sama sekitar tahun 2010 dan masuk dalam konsesi pertambangan batubara yang kemudian beroperasi di atas kawasan bekas transmigrasi.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Direktur Eksekutif Walhi Kalsel, Raden Rafiq

Puncak konflik terjadi pada 2019 ketika Kantor Wilayah BPN Kalimantan Selatan diduga membatalkan 717 sertifikat tanah transmigran seluas kurang lebih 485 hektare dengan alasan tumpang tindih perizinan. Pembatalan ini tidak hanya menghapus kepastian hukum warga, tetapi juga memindahkan posisi mereka dari pemilik sah menjadi pihak yang seolah-olah bermasalah di atas tanah yang telah mereka kuasai secara sah selama puluhan tahun.

Sejak saat itu, warga Bekambit terus berjuang melalui jalur dialog dan aksi terbuka. Pada 22 April 2025, puluhan warga mendatangi Kantor Wilayah BPN Kalimantan Selatan di Banjarbaru dengan membawa sertifikat yang dibatalkan sebagai simbol tuntutan pemulihan hak. Mediasi berlangsung sepanjang 2025 tanpa menghasilkan kepastian permanen. Pada 10 November 2025, warga kembali menyuarakan tuntutan mereka di DPRD Kotabaru, meminta penghentian aktivitas tambang di atas lahan transmigrasi serta kejelasan atas hak mereka yang dibatalkan.

Baca Juga :  Kerja Nyata, Transformasi Digital Berbasis Data Mengantarkan Banua Menjadi yang Terdepan

Awal Februari 2026, pemerintah pusat menyatakan komitmen untuk memulihkan sertifikat yang dibatalkan dan membekukan operasional izin tambang sampai persoalan lahan diselesaikan. Namun bagi warga, pernyataan dalam bentuk video atau pernyataan lisan tidak cukup menjadi jaminan hukum. Komitmen tersebut harus dituangkan dalam bentuk surat resmi kementerian atau keputusan administratif tertulis yang memiliki kekuatan hukum, sehingga dapat menjadi dasar perlindungan hak, rujukan pemerintah daerah, dan pegangan warga ketika berhadapan dengan pihak lain.

Tanpa dokumen resmi yang mengikat, pemulihan sertifikat hanya menjadi janji politik yang sewaktu-waktu dapat berubah. Lebih jauh lagi, pembekuan izin bukanlah solusi akhir. Selama IUP yang bertumpang tindih tersebut masih tercatat aktif secara administratif dan belum dicabut, posisi hukum warga tetap berada dalam ancaman. Karena itu, peninjauan menyeluruh dan pencabutan izin yang berada di atas lahan transmigrasi menjadi langkah yang tidak bisa ditawar.

Dalam konteks transmigrasi, warga ditempatkan oleh negara melalui kebijakan resmi. Mereka tidak datang membuka lahan atas inisiatif sendiri. Negara yang menempatkan, negara pula yang wajib menjamin perlindungan haknya. Ketidakrapian administrasi, ketidaksinkronan data pertanahan, atau terbitnya izin sektor lain di atas lahan transmigrasi adalah tanggung jawab negara, bukan kesalahan warga. Karena itu, penyelesaian persoalan ini tidak boleh langsung diarahkan pada relokasi atau kompensasi sebagai opsi pertama, melainkan pada penegasan dan perlindungan hak kepemilikan yang telah ada lebih dahulu.

Konflik Bekambit menunjukkan bagaimana tumpang tindih kebijakan agraria dan industri ekstraktif dapat merampas kepastian hukum warga yang tidak memiliki kuasa politik maupun modal ekonomi. Hak atas tanah yang telah disertifikasi secara sah tidak boleh dikalahkan oleh izin yang terbit kemudian tanpa koreksi yang adil.

Baca Juga :  Kotabaru Siapkan Pawai Obor dan Festival Budaya di HUT RI ke-80

Praktik Land Grabbing dan Absennya Negara

Praktik pembebasan lahan tinggi konflik dan ugal-ugalan seperti ini bukan sekali dua terjadi di Kalimantan Selatan. Desa Wonorejo, Kecamatan Juai, Kabupaten Balangan juga menjadi salah satu sejarah kelam aktivitas industri pertambangan batubara. Desa Wonorejo yang juga merupakan sebuah wilayah transmigrasi lenyap akibat ekspansi PT. Adaro Indonesia.

Kejadian serupa juga terjadi di Desa Rantau Bakula, Kecamatan Sungai Pinang, Kabupaten Banjar. Seorang petani bernama Sumardi (64) bahkan ditahan hanya karena ingin mempertahankan lahan kebun garapannya.

Industri ekstraktif ini bukan hanya bermasalah di hilir, namun juga bermasalah di hulu bahkan dalam proses perizinannya sehingga yang menjadi korban selalu adalah masyarakat rentan, bahkan jauh dari akses hukum.

Perjuangan warga Bekambit dan warga terdampak tambang lainnya adalah perjuangan mempertahankan ruang hidup yang dibangun selama puluhan tahun. Kepastian hukum bukan bentuk belas kasihan negara, melainkan kewajiban konstitusional. Penyelesaian yang adil hanya dapat dicapai apabila upaya yang dilakukan adalah penyelesaian struktural sehingga tidak berulang lagi di tempat yang sama dan ruang hidup masyarakat lainnya.

Atas kejadian ini WALHI Kalimantan Selatan menyatakan sikap:

1. Kementerian ATR/BPN dan Kementerian Transmigrasi harus segera melakukan upaya pembelaan terhadap masyarakat dan mengembalikan serta memulihkan hak kepemilikan masyarakat yang berkonflik dengan korporasi

2. Pemerintah Daerah Provinsi Kalimantan Selatan harus segera melakukan rekonsiliasi dan resolusi konflik yang terjadi di Desa Bakambit

3. Negara harus segera melakukan evaluasi dan audit terhadap perizinan di tambang di Kalimantan Selatan, khususnya di Pulau Laut dan Pulau Sebuku Kotabaru

4. Negara harus menindak tegas perusahaan jika terbukti melakukan pelanggaran lingkungan dan hak asasi manusia

bomindonesia

Follow WhatsApp Channel bomindonesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pemkab Kotabaru Hadirkan SIAGA, Tingkatkan Perlindungan Perempuan dan Anak
Uniska MAB Dinobatkan Sebagai Juara Umum Nasional Ajang Simbelmawa
Lomba Bertutur Meriahkan Harjad ke -76 Kotabaru
Festival Olahraga Tradisional Sukses Digelar, Kormi Apresiasi Dukungan Pemkab Kotabaru
Kasus Kopbun Sawit Sejati Diharapkan Segera Ditetapkan Tersangka
SMSI Kalsel dan FISIP ULM Bahas Fenomena Homeless Media dan Ancaman Profesi Jurnalis
Calon Jamaah Haji Asal Kotabaru Kloter 13 Masuk Asrama Haji Banjarbaru
Pesan Wabup Kotabaru Syairi Mukhlis Kepada Pengurus HMI cabang Kotabaru-Tanah Bumbu

Berita Terkait

Senin, 25 Mei 2026 - 11:06 WITA

Pemkab Kotabaru Hadirkan SIAGA, Tingkatkan Perlindungan Perempuan dan Anak

Senin, 25 Mei 2026 - 08:29 WITA

Uniska MAB Dinobatkan Sebagai Juara Umum Nasional Ajang Simbelmawa

Selasa, 19 Mei 2026 - 11:23 WITA

Lomba Bertutur Meriahkan Harjad ke -76 Kotabaru

Jumat, 15 Mei 2026 - 22:46 WITA

Festival Olahraga Tradisional Sukses Digelar, Kormi Apresiasi Dukungan Pemkab Kotabaru

Selasa, 12 Mei 2026 - 19:32 WITA

Kasus Kopbun Sawit Sejati Diharapkan Segera Ditetapkan Tersangka

Berita Terbaru

Film Terbaru Disclosure Day

Lifestyle

Yuk Tonton di Bioskop Kesayangan, Ini Film Terbaru

Selasa, 26 Mei 2026 - 12:30 WITA

Verified by MonsterInsights