BOMINDONESIA.COM, JAKARTA– Saat matahari mulai turun di ufuk barat, sekitar pukul 17.00, sebuah warung kecil di pinggiran trotoar dekat Pasar Kebayoran Lama mulai buka. Namanya sederhana: Warung Teh Poci Tegal.
Tapi jangan remehkan, begitu poci tanah liat diletakkan di meja, aroma teh panas langsung mengundang siapa saja untuk singgah. Warung ini jadi tempat persinggahan yang hangat di tengah hiruk pikuk kota.
Dengan bangku kayu panjang dan pendek serta meja kayu sederhana, suasananya begitu bersahabat. Teh Poci Tegal—teh hitam khas yang diseduh di teko tanah liat—disajikan tanpa banyak gaya. Cukup dengan gula batu dan sepiring gorengan, malam pun terasa lebih damai.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Buka dari jam lima sore habis Ashar, biasanya mulai rame habis magrib,” kata Bang Yanto sang pemilik warung, sambil menuangkan teh dari pocinya. “Yang datang macam-macam, ada abang-abang ojek, anak kantor, mahasiswa sampai pedagang pasar yang tutup lapak hingga supir angkot.”
Menu andalannya tentu saja teh poci, tapi gorengannya juga jadi daya tarik. Tempe mendoan, tahu isi, pisang goreng—semua masih hangat karena baru diangkat dari penggorengan.
Selain itu pelanggan yang ingin makan mie instan rebus plus telur ceplok juga disediakan. Kombinasi yang pas buat mengusir letih setelah seharian beraktivitas. Tak jarang, obrolan ringan soal sepak bola, politik receh, atau kabar kampung halaman menyemarakkan malam.

Tanpa WiFi, tapi penuh koneksi—bukan digital, tapi sosial.
Warung Teh Poci Tegal ini bukan hanya soal minum teh, tapi juga tentang merawat suasana. Di bawah cahaya lampu seadanya, teh panas dan gorengan jadi pengantar cerita. Kadang tawa pecah, kadang hanya diam yang nyaman.
Penulis : Mercurius
Editor : Mercurius












