Archos dan Malioboro, Seni, dan Hidup yang Tak Pernah Tergesa

Archos dan Malioboro, Seni, dan Hidup yang Tak Pernah Tergesa

- Redaksi

Senin, 15 Desember 2025 - 20:21 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Archos ,seniman seni rupa Yogyakarta
bersama wartawan bomindonesia.com
saat disudut jalan Malioboro

Archos ,seniman seni rupa Yogyakarta bersama wartawan bomindonesia.com saat disudut jalan Malioboro

BOMINDONESIA.COM, YOGYAKARTA — Hujan rintik turun pelan di kawasan Malioboro, Yogyakarta.

Di sudut emperan yang berbatasan dengan Jalan Pasar Kembang, seorang pria berambut panjang rapi dikuncir duduk tenang.

Wajahnya putih, bersih, dan teduh.
Di depannya bukan kanvas mahal atau galeri bergengsi, melainkan lapak sederhana berisi pipa cangklong rokok yang dijaganya dengan sabar.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namanya Archos. Usianya 55 tahun.
Ia sudah memiliki dua putri dan dua cucu.
Banyak orang yang melintas mungkin tak pernah menyangka, pria yang tampak menjaga lapak kecil itu adalah seorang sarjana seni rupa, pelukis dengan jejak panjang dalam dunia seni Indonesia.

Archos bukan seniman dadakan. Ia satu angkatan dengan Sawung Jabo dan seniman kondang Yogya lainnya. Tumbuh dalam lingkungan seni yang kuat, dan memiliki darah seni dari sang ibu yang seorang penyanyi.

Bakat itu pula yang kelak diwariskannya kepada putri-putrinya.

Pendidikan seninya ditempuh sejak sekolah di Bukittinggi, Sumatra Barat, meski ia asli Sumatra Utara.

Ayahnya dulu menginginkan Archos kuliah hukum.

Namun hidup punya jalannya sendiri. Seni yang ia pilih justru mampu membiayai hidup keluarga, bahkan meluluskan dua adiknya hingga menjadi sarjana hukum.

Sebuah ironi yang lembut, sekaligus bukti bahwa seni bisa berdiri sejajar dengan disiplin apa pun.

Di dunia seni rupa, nama Archos bukan asing.
Ia pernah terikat dengan Galeri Gajah, bahkan pernah menjual lukisan langsung kepada Ganjar Pranowo.

Namun bagi Archos, nilai lukisan bukan soal angka. “Kalau ditanya harga, itu tidak aka saya jawab” ujarnya ringan.

Seorang seniman, menurutnya, tidak selalu bisa menjawab soal nilai, karena seni bukan barang mati.

Prinsip hidupnya sederhana: hidup itu mengalir, dinikmati saja.

Karena itu pula, ia tak selalu melepas karya meski ditawar mahal.

Baca Juga :  Simak Contoh 'Ucapan Hari Raya Idul Fitri 1446 H / 2025 M'

Sebaliknya, saat hidup menuntut untuk makan, lukisan bisa dilepas jauh di bawah harga pasar.

Bagi Archos, kebutuhan hidup dan kebebasan batin berjalan beriringan.

Selain melukis, Archos adalah pendiri Malioboro Classical, kelompok musik yang tumbuh dan hidup di kawasan Malioboro. Baginya, Malioboro bukan sekadar ruang mencari nafkah, melainkan rumah tempat seni, manusia, dan waktu saling berjumpa.

Lapak cangklong yang dijaganya pun bukan miliknya. Itu milik sang adik. Archos hanya menjaga, sambil sesekali melukis, berbincang, dan menyapa mereka yang benar-benar ingin mengenal seni—bukan sekadar membelinya.

Bagi siapa pun yang ingin melihat karyanya, atau ingin dilukis langsung oleh Archos, jejaknya bisa ditemukan di akun TikTok @karikaturjogya.

Namun untuk benar-benar memahami Archos, datanglah ke Malioboro.

Duduklah sejenak. Perhatikan. Karena di sanalah seni dan hidup berjalan tanpa tergesa.

 

Archos dan Malioboro: Ketika Seni Tak Selalu Soal Harga

Malioboro selalu punya cerita. Di antara gemerlap lampu, derap langkah wisatawan, dan suara musik jalanan, ada kisah-kisah sunyi yang tak berisik. Salah satunya adalah Archos, seorang pelukis yang memilih hidup bersahabat dengan jalanan, bukan bersembunyi di balik dinding galeri.

Setiap hari, Archos duduk di sudut Malioboro yang berbatasan dengan Jalan Pasar Kembang. Rambut panjangnya dikuncir rapi. Tangannya lebih akrab dengan sketsa wajah dan guratan batin ketimbang hiruk-pikuk transaksi. Ia menjaga lapak kecil pipa cangklong rokok—bukan miliknya—sekadar membantu adik, sembari membiarkan seni tetap bernapas.

Archos adalah sarjana seni rupa, berusia 55 tahun, dengan dua putri dan dua cucu.

Ia satu generasi dengan Sawung Jabo, memiliki rekam jejak seni yang tak singkat, bahkan pernah terikat dengan Galeri Gajah.

Beberapa karyanya pernah dibeli tokoh nasional, termasuk Ganjar Pranowo mantan Gubernur Jawa Tengah dan Calon Presiden.

Baca Juga :  Kucurkan Anggaran Rp15 Triliun untuk Modal Petani Milenial

Namun semua itu tidak menjadikannya terikat pada gengsi.

Baginya, seni bukan etalase harga.
Ada lukisan yang tak akan dilepas meski ditawar mahal.

Ada pula karya yang rela dijual murah ketika hidup meminta kompromi. “Seniman itu kadang tak bisa menjawab soal harga,” kata Archos suatu kali.

Bukan karena tak tahu nilainya, tetapi karena seni punya ukuran yang tak selalu bisa dihitung.

Darah seni Archos mengalir dari ibunya yang seorang penyanyi.

Bakat itu tumbuh sejak ia sekolah di Bukittinggi dan kini diwariskan kepada anak-anaknya.

Meski ayahnya dulu berharap ia masuk fakultas hukum, seni justru menjadi jalan yang menghidupi keluarga, bahkan membantu dua adiknya menyelesaikan kuliah hukum hingga sarjana.

Archos juga dikenal sebagai pendiri Malioboro Classical, kelompok musik yang hidup dari denyut jalanan. Ia percaya seni harus dekat dengan manusia, bukan hanya tergantung di dinding putih galeri.

Hidup baginya sederhana: mengalir dan dinegosiasikan dengan keadaan. Ia senang berbincang, bersahabat, dan membuka ruang dialog. Namun ia tak suka memaksa seni tunduk pada pasar. Malioboro memberinya ruang untuk tetap jujur pada diri sendiri.

Di era ketika seni sering diukur oleh harga dan popularitas, Archos berdiri di jalur lain. Ia memilih Malioboro—dengan hujan rintik, emperan sempit, dan wajah-wajah asing—sebagai ruang paling jujur untuk berkarya.

Bagi yang ingin melihat atau merasakan langsung sentuhan seninya, Archos bisa ditemui di Malioboro atau melalui akun @karikaturjogya.

Selebihnya, seni Archos tak meminta apa-apa selain waktu dan kepekaan.

Karena di Malioboro, Archos membuktikan satu hal: seni tak selalu soal harga, tapi tentang bagaimana seseorang memilih hidup.

Penulis Editor Mercurius

bomindonesia

Follow WhatsApp Channel bomindonesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Cek Kalender Bulan Juni 2026, Kapan Libur?
Di Tengah Gempuran Teknologi, Mainan Kayu Desa Panggung Tetap jadi Buruan Pelintas
Megadeth Perdana Bawakan “Ride The Lightning” Metallica di Bogota, Dave Mustaine Tutup Lingkaran Sejarahnya
Sasirangan Naik Kelas, Persit Kembangkan Motif Todak jadi Tren Fashion
Tim Kesehatan Pantau Jemaah Haji Indonesia, Pastikan Sehat dan Stabil
63 Kloter Jemaah Calon Haji Tiba di Madinah
Haji Muhidin Berangkatkan Kloter Pertama Jamaah Calon Haji Embarkasi Banjarmasin
Cek Bulan Mei 2026, Banyak Liburnya
Tag :

Berita Terkait

Sabtu, 16 Mei 2026 - 16:33 WITA

Cek Kalender Bulan Juni 2026, Kapan Libur?

Kamis, 14 Mei 2026 - 14:45 WITA

Di Tengah Gempuran Teknologi, Mainan Kayu Desa Panggung Tetap jadi Buruan Pelintas

Minggu, 3 Mei 2026 - 01:26 WITA

Megadeth Perdana Bawakan “Ride The Lightning” Metallica di Bogota, Dave Mustaine Tutup Lingkaran Sejarahnya

Rabu, 29 April 2026 - 23:10 WITA

Sasirangan Naik Kelas, Persit Kembangkan Motif Todak jadi Tren Fashion

Selasa, 28 April 2026 - 12:07 WITA

Tim Kesehatan Pantau Jemaah Haji Indonesia, Pastikan Sehat dan Stabil

Berita Terbaru

Verified by MonsterInsights