BOMINDONESIA.COM, SURIAH – Kelompok yang menamakan diri Negara Islam (IS), yang juga dikenal sebagai ISIS atau Daesh dalam Bahasa Arab, mendeklarasikan kekhalifatannya pada 2014.
Selama beberapa tahun mereka berhasil menguasai sebagian besar wilayah Suriah dan Irak. Kemunculan ISIS mengubah arah perang di Suriah. Ini mendorong dibentuknya koalisi yang dipimpin AS, dengan lebih dari 70 negara, untuk mengalahkan kelompok tersebut.
Pada tahun 2019, koalisi tersebut berhasil mengusir ISIS dari benteng terakhirnya di Suriah. Namun, apakah ancaman Negara Islam di Suriah benar-benar berakhir? “Kelompok ini telah kembali menjadi pemberontak, melakukan serangan hit-and-run, tetapi masih sangat aktif di Suriah, dan serangannya meningkat pesat tahun 2024 ini,” kata Mina al-Lami.
Ia juga menunjukkan, titik balik yang signifikan bagi Negara Islam bisa terjadi jika mereka berhasil membebaskan para pejuang IS dan keluarga mereka yang ditahan di berbagai kamp yang dikendalikan oleh Pasukan Demokratik Suriah.
Amnesty International berkata, lebih dari lima tahun setelah kejatuhan IS, puluhan ribu orang masih ditahan, dengan perkiraan 11.500 pria, 14.500 perempuan, dan 30.000 anak-anak di setidaknya 27 fasilitas detensi dan dua kamp detensi—Al-Hol dan Roj.
“Negara Islam mengincar kamp-kamp itu. Mereka menunggu terjadinya krisis, atau kelemahan dalam keamanan, untuk kemudian masuk dan merusak kamp-kamp dan penjara ini, kemudian membebaskan orang-orang di sana,” kata Mina al-Lami.
“Contoh dari krisis yang mereka tunggu misalnya, operasi militer besar yang dimpimpin Turki di Suriah Utara, kemungkinan melawan pasukan Kurdi, atau operasi militer besar dari AS melawan milisi-milisi Syiah di Suriah,” imbuhnya.












