BOMINDONESIA.COM, WASHINGTON – AS (Amerika Serikat) hanya dapat memastikan sekitar sepertiga persenjataan rudal Iran telah dihancurkan sejak konflik antara AS dan Israel mendekati satu bulan, menurut lima sumber yang mengetahui laporan intelijen AS.
Sekitar sepertiga lainnya belum dapat dipastikan kondisinya, namun diyakini kemungkinan rusak, hancur, atau tertimbun akibat serangan udara yang menargetkan terowongan bawah tanah dan bunker.
Seperti dikutip Reuters, sumber yang sama juga menyebut penilaian serupa berlaku terhadap kemampuan drone Iran, di mana sekitar sepertiga dipastikan telah dilumpuhkan.
Evaluasi tersebut menunjukkan bahwa meski sebagian besar rudal Iran telah hancur atau sulit diakses, Teheran masih memiliki persediaan senjata yang signifikan dan berpotensi memulihkan sebagian rudal yang terkubur atau rusak setelah konflik berakhir.
Temuan intelijen ini berbeda dengan pernyataan publik Presiden Donald Trump yang menyebut Iran hanya memiliki sedikit rudal tersisa.
Ia juga mengakui ancaman rudal dan drone Iran masih menjadi risiko bagi operasi AS di kawasan strategis Selat Hormuz.
Seorang pejabat Pentagon mengatakan serangan rudal dan drone Iran telah turun sekitar 90% sejak awal konflik.
Selain itu, United States Central Command menyebut lebih dari 66% fasilitas produksi rudal, drone, dan kapal militer Iran telah rusak atau hancur.
Anggota DPR AS Seth Moulton meragukan klaim bahwa kemampuan militer Iran telah melemah drastis, menilai Teheran kemungkinan masih menyimpan sebagian kekuatan dan belum mengerahkan seluruh persenjataannya.
Pemerintah AS menegaskan tujuan operasi militernya adalah melemahkan kemampuan militer Iran, termasuk menghancurkan armada laut, sistem rudal, serta mencegah negara tersebut memiliki senjata nuklir.
Operasi militer yang dikenal sebagai “Epic Fury” disebut telah menyerang lebih dari 10.000 target militer Iran serta menenggelamkan sekitar 92% kapal perang besar negara tersebut.












