Cinta, Seks, dan Neraka: Kengerian di Balik Senyuman Children of God”

Cinta, Seks, dan Neraka: Kengerian di Balik Senyuman Children of God”

- Redaksi

Kamis, 17 April 2025 - 23:16 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Cinta, Seks, dan Neraka: Kengerian di Balik Senyuman Children of God

Cinta, Seks, dan Neraka: Kengerian di Balik Senyuman Children of God" (Foto Istimewa)

BOMINDONESIA.COM, CALIFORNIA –Di tahun 70-an, mereka tampak seperti komunitas hippie penuh cinta. Tersenyum, menyanyikan lagu rohani, dan bicara soal Tuhan.

Tapi di balik pelukan itu, ada mimpi buruk.

Anak-anak mengalami kekerasan seksual.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ibadah bercampur dengan seks.

Dan “cinta” dijadikan alat merekrut pengikut.

Children of God (CoG), yang kemudian berganti nama menjadi The Family dan The Family International, didirikan oleh David Berg tahun 1968 di California.

Awalnya komunitas ini menyasar kaum muda yang kecewa dengan sistem, terutama dari kalangan hippie.

Janji mereka sederhana:

“Kami adalah keluarga Tuhan. Tempat penuh kasih dan kedamaian.”

Tapi ajaran mereka berubah… sangat cepat.

David Berg mengklaim dirinya sebagai “nabi akhir zaman”.

Ia menulis ribuan selebaran yang disebut “Mo Letters” berisi ajaran-ajaran seks, ramalan kiamat, dan cara hidup ‘suci’ ala dirinya.

Salah satu doktrin paling kontroversial:

Flirty Fishing.

Yakni menggunakan rayuan dan seks untuk memenangkan jiwa terutama pria kaya dan berpengaruh.

Flirty Fishing dimulai tahun 1974.

Para perempuan diminta “menyebarkan kasih Tuhan” lewat hubungan seksual.

Mereka menyamar jadi PSK kelas atas, mendekati diplomat, pebisnis, bahkan intelijen.

Kultus ini menyebutnya “soul-winning through love.”

Padahal banyak perempuan dipaksa.

Dan hasilnya: ratusan anak lahir tanpa status yang jelas.

Yang paling mengerikan: Anak-anak dalam sekte ini tidak aman.

David Berg menulis ajaran yang mendukung seksualitas anak.

Ia percaya anak-anak bisa mengalami dan menikmati kasih Tuhan secara seksual sejak kecil.

Dalam Mo Letters, ada ilustrasi porno bergambar anak.

Dan yang lebih buruk: ini dipraktikkan.

David Berg menulis doktrin menyimpang seperti The Devil Hates Sex, Heaven’s Girl, dan The Story of Davidito.

Baca Juga :  Kasus Lia Eden

Yang terakhir Davidito adalah anak angkatnya yang jadi simbol “anak sempurna sekte.”

Tapi kisahnya tragis.

Davidito dipaksa jadi subjek eksperimen seksual sejak usia 2 tahun.

Semuanya didokumentasikan dan disebar ke anggota.

Ini menjadi blueprint pelecehan anak dalam sekte.

Inilah kisah gelap Children of God kultus paling berbahaya yang pernah memakai nama Tuhan.

Anak-anak di CoG dipisahkan dari orang tua dan dibesarkan dalam “komunitas.”

Mereka tak bersekolah, dipaksa kerja, dan menerima indoktrinasi ekstrem sejak bayi.

Banyak korban, termasuk tokoh publik, buka suara: Ricky Rodriguez (anak angkat Berg) bunuh diri setelah membunuh pemimpin kultus.

Aktor Joaquin Phoenix dan Rose McGowan lahir dalam sekte ini.

Keluarga mereka akhirnya melarikan diri.

Keduanya bicara terbuka tentang trauma, kontrol pikiran, dan kerusakan spiritual yang mereka alami sejak bayi.

Setelah tahun 1990-an, tekanan dari pemerintah dan publik meningkat.

Kasus pelecehan dan penyiksaan bocor ke media.

The Family Mulai “Bertransformasi.”

Setelah kematian Berg tahun 1994 Mereka mengganti nama menjadi The Family International, dan mengklaim telah meninggalkan praktik menyimpang.

Pada 2005, Ricky Rodriguez merilis video sebelum bunuh diri.

Ia menyebut dirinya “korban eksperimen neraka,” dan ingin membalas dendam pada mereka yang menghancurkan masa kecilnya.

Kematian Ricky mengejutkan dunia.

Dan membuka kembali luka lama dari ribuan korban lain yang selama ini bungkam.

Testimoni Mantan Anggota: Luka yang tak Sembuh

Sejak tahun 2000-an, ratusan mantan anggota mulai bersuara di forum online, dokumenter, hingga wawancara media.

Beberapa kisah menyayat hati: Julianna Buhring, penulis buku Not Without My Sister, bersaksi soal pelecehan, kelaparan, dan kehidupan nomaden tanpa identitas yang dialaminya sejak bayi.

Baca Juga :  Romantisme Luna Maya dan Maxime Bouttier: Dari Momen Manis hingga Lamaran di Bawah Bunga Sakura

Christina Babin, lahir di Jepang dalam sekte ini, menyebut masa kecilnya sebagai “neraka spiritual yang dibungkus cinta palsu.”

Mantan anggota dari Indonesia juga muncul di beberapa forum seperti Reddit dan ExFamily.org, menceritakan bagaimana mereka direkrut, lalu diisolasi dari keluarga.

Kesamaan mereka: semuanya trauma. Semuanya butuh waktu bertahun-tahun untuk mengenal hidup “normal.”

Evolusi Sekte di Era Internet

Setelah identitas mereka terbongkar publik, The Family International menarik diri dari sorotan. Tapi mereka tidak bubar.

Alih-alih:

🔹Mereka berpindah ke dunia digital.

🔹Menghapus konten kontroversial

🔹Mengganti narasi ke arah “pelayanan spiritual dan musik rohani.”

Merekrut secara selektif, lewat jaringan relawan dan misi luar negeri.

Beberapa situs dan akun media sosial mereka masih aktif, meski terkesan “bersih.” Tapi eks anggota menyebut: “Di balik layar, doktrin lama tetap hidup.”

Mengapa Sekte Ini Bisa Terjadi?

Kunci keberhasilan sekte ini bertahan begitu lama:

▫️Karisma David Berg yang memikat dan manipulatif.

▫️Doktrin agama yang dikaburkan hingga sulit dibantah.

▫️Struktur komunitas tertutup, yang memutus anggota dari dunia luar.

▫️Pemanfaatan trauma dan kerentanan psikologis.

Itu sebabnya banyak yang bilang: ini bukan sekadar aliran sesat. Ini eksperimen sosial ekstrem yang berjalan puluhan tahun.

Sekte Hari Ini: Mati atau Hanya Berubah Wajah?

Secara resmi, The Family International mengklaim telah “bertransformasi” menjadi organisasi pelayanan rohani tanpa kekerasan.

Namun para mantan anggotanya menegaskan: “Sekte tidak mati. Mereka hanya menyesuaikan diri dengan zaman.”

Nama boleh berubah. Narasi boleh diganti. Tapi trauma dan kebenaran akan selalu mengejar mereka.

Akhirnya, satu hal yang perlu kita ingat:

“Kultus tidak selalu dimulai dengan kekerasan. Tapi selalu berakhir dengan luka.”

bomindonesia

Editor : Mercurius

Sumber Berita: Sumber X @Serius Amat

Follow WhatsApp Channel bomindonesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Arsip Aktuil: Emilia Contessa Pernah Terseret Sengketa Hak Cipta Lagu “Kehancuran”
Ketika Resimen Pelopor Menyerang Markas RPKAD di Cijantung
Antusias Haul Wali Pacah Ampat Kotabaru dan Cerita Tubuh Wali yang Terbagi Empat
Aksi Dadakan Joey Jordison Selamatkan Penampilan Metallica di Download Festival 2004
Ketika Perompak Somalia Salah Pilih Lawan
Evolusi Nama Banjarmasih, Bandarmasih Hingga Banjarmasin
Festival Folk Song ’74 di Banjar Raya, Demam Musik Rakyat di Banjarmasin yang tak Pernah Benar-benar Padam
In Memoriam Rudy Laturete Cerita Pantera, Gang Tera, dan Jejak Rock yang Tak Pernah Mati

Berita Terkait

Minggu, 21 Juni 2026 - 00:38 WITA

Arsip Aktuil: Emilia Contessa Pernah Terseret Sengketa Hak Cipta Lagu “Kehancuran”

Minggu, 7 Juni 2026 - 02:02 WITA

Ketika Resimen Pelopor Menyerang Markas RPKAD di Cijantung

Selasa, 31 Maret 2026 - 14:49 WITA

Antusias Haul Wali Pacah Ampat Kotabaru dan Cerita Tubuh Wali yang Terbagi Empat

Sabtu, 14 Maret 2026 - 13:50 WITA

Aksi Dadakan Joey Jordison Selamatkan Penampilan Metallica di Download Festival 2004

Selasa, 3 Maret 2026 - 17:22 WITA

Ketika Perompak Somalia Salah Pilih Lawan

Berita Terbaru

Verified by MonsterInsights