BOMINDONESIA.COM,BANJARMASIN-Demam folk song yang melanda Banjarmasin pada awal 1970-an ternyata bukan gejala sesaat.
Bahkan, menjelang pertengahan 1974, geliat musik rakyat justru menunjukkan grafik yang terus menanjak.
Buktinya, hanya beberapa hari setelah perayaan Idul Fitri, tak kurang dari 14 grup remaja kembali terlibat dalam satu kesibukan bersama: menyukseskan Festival Folk Song 1974.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Festival ini dipusatkan di kawasan Banjar Raya, sebuah ruang terbuka yang kala itu dikenal sebagai tempat rekreasi sekaligus lokasi paling representatif untuk menggelar pertunjukan musik open show di siang hari.
Di bawah rindangnya pepohonan, panitia mendirikan sebuah panggung terbuka sederhana.
Beberapa kursi disediakan bagi undangan khusus, sementara penonton lainnya “berdikari”—berdiri di atas kaki sendiri atau duduk santai di hamparan rerumputan hijau.
Suasana pun terasa rileks dan egaliter.
Animo penonton terbilang cukup tinggi. Selain karena hari itu bertepatan dengan hari Minggu, harga tiket masuk yang sangat terjangkau—sekitar Rp100—menjadi daya tarik tersendiri.
Festival ini bukan sekadar tontonan, tetapi juga ruang perjumpaan sosial bagi anak muda kota.
Dewan juri Festival Folk Song 1974 terdiri dari nama-nama yang tak asing di dunia seni dan budaya Kalimantan Selatan: Drs. LP Lambut, BG Subagio, Bujang Sahari, RA Wahab, dan Anang Ardiansyah.
Setiap grup diwajibkan membawakan tiga lagu berturut-turut: satu lagu wajib, satu lagu pilihan, dan satu lagu bebas.
Dari rangkaian penampilan tersebut, panitia dan dewan juri akhirnya menetapkan para peserta terbaik.
Keluar sebagai yang paling menonjol adalah Angel Group pimpinan Yasminda Nora dengan lagu “Tambangan Balarut”, “Berbende-bende”, dan “Melati dari Jayagri”.
Disusul Fekon Unlam pimpinan Sallyanty Ariffin yang membawakan “Anak Pipit”, “O Inane Keke”, dan “Rimba Jati”.
Posisi berikutnya ditempati Vera’s Group pimpinan Husni AC dengan lagu “Marista”, “Pinang Muda”, dan “Melati dari Jayagiri”.
Di belakang mereka hadir Banjar Remaja pimpinan Titiek Subardjo dengan lagu “Marista”, “Jali-jali”, dan “Rentak 106”; Canta’s Group dengan “Tambangan Balarut”, “O Ulate”, dan “Teratai Putih”; serta Kuda Jingga pimpinan Adjim Arijadi yang membawakan “Anak Pipit”, “Suara Gendang Bertalu”, dan “Mengapa”.
Sementara posisi juru kunci ditempati Group Bhayangkara pimpinan Didiek Suwardi dengan lagu “Marista”, “Turi-turi Putih”, dan “Teratai Putih”.
Selain pertunjukan musik folk, penonton juga disuguhi beragam hiburan pendukung: tari-tarian dari anak-anak Hippindo, alunan suara Juara I BR/TVRI 1974, lawakan, hingga demonstrasi musik dari grup band Bhayangkara II asal Kalimantan Tengah.
Namun, di balik kemeriahan itu, festival ini tidak sepenuhnya tanpa cela.
Waktu pelaksanaan dinilai terlalu molor. Acara yang seharusnya dimulai pukul 09.00 Wita baru benar-benar berjalan sekitar pukul 11.30.
Masalah teknis juga muncul, terutama pada sistem tata suara yang kerap macet dan menimbulkan bunyi “nging-nging” yang mengganggu.
Raut wajah penonton yang telah menunggu sejak pagi hingga lewat pukul 16.00 pun menjadi saksi rasa jengkel yang sulit disembunyikan.
Meski demikian, jika dibandingkan dengan keberhasilan panitia menghimpun begitu banyak grup remaja dalam satu perhelatan musik rakyat, berbagai kekurangan tersebut masih dapat dimaklumi.
Festival Folk Song ’74 tetap tercatat sebagai penanda penting geliat musik folk di Banjarmasin—sekaligus pelajaran berharga bagi penyelenggaraan acara seni di masa depan.
Sumber: Majalah Junior, Edisi 35, Tahun 1974
Editor : Mercurius












