BOMINDONESIA.COM, BANJARMASIN–Dunia musik rock Banjarmasin kembali berduka. Rudy Laturete, gitaris VOC serta mantan gitaris Joker dan Tornado Rock Division, berpulang dalam usia 57 tahun, Jumat (23/01/2026) usai waktu salat.
Kepergiannya bukan sekadar kehilangan seorang musisi, melainkan hilangnya satu fragmen penting dari sejarah panjang rock Kalimantan Selatan.
Rudy adalah bagian dari generasi emas musik rock Banua—era 1980 hingga 1990-an—masa ketika distorsi gitar, rambut gondrong, dan mimpi-mimpi besar tumbuh di lorong-lorong kota, gang sempit, hingga panggung festival yang penuh debu dan peluh.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia dikenal sebagai musisi rock sejati. Idealis, keras pada prinsip, disiplin dalam bermusik.
Dalam perjalanan hidupnya, Rudy pernah menjadi gitaris di kapal KM Kelimutu—sebuah fase yang membentuk karakternya: hidup di laut, jadwal ketat, dan panggung yang berpindah-pindah.
Dari sana, musik baginya bukan sekadar ekspresi, tapi jalan hidup.
Era Keemasan Rock Banua
Pada era 80–90-an, musik rock di Kalimantan Selatan berada di puncak kejayaan. Festival-festival rock menjadi ruang adu kreativitas dan pembuktian. Salah satu tonggaknya adalah ketika Big Boys berhasil menembus 10 besar Festival Rock Se-Indonesia ke-V besutan promotor Flamboyan, Log Zhelebeour.
Festival itu melahirkan nama besar Arul Efansyah, yang dinobatkan sebagai vokalis rock terbaik dan kemudian direkrut Power Metal—band juara festival tersebut.
Arul lalu membentuk X Real, dengan personel yang mayoritas eks Power Metal.
Menyusul Big Boys, lahir pula band-band besar lain: Monster, Rock O2K, Pawakha, Metal Liar, Jet Power, Alaska, dan tentu saja Tornado Rock Division—band thrash metal yang digawangi Rudy Laturete bersama Riza Dohong dan Deny Btak.
Tornado Rock Division dikenal berani, keras, dan berbeda.
Mereka mengusung thrash metal, membawakan lagu-lagu Megadeth dan Anthrax—sesuatu yang tidak lazim di banyak panggung lokal kala itu.
Sebelum dikenal sebagai gitaris, Rudy sempat bermain bass di grup Exocet. Namun insting bermusiknya membawanya beralih ke gitar.
Di Tornado Rock Division ia memulai sebagai rhythm guitar, lalu berkembang menjadi lead guitar di Joker dan VOC, dengan karakter permainan yang kental pengaruh Van Halen.
Gang Tera dan “Alumnus Pantera”
Jalan S Parman Banjarmasin menjadi saksi dua markas penting musisi rock kala itu.
Pertama, markas Big Boys di depan Kodim Banjarmasin—tempat nongkrong para rocker lintas band. Kedua, Gang Tera.
Rumah Rudy di Gang Tera bukan sekadar tempat tinggal.
Ia menjadi ruang latihan seadanya, ruang diskusi, ruang tawa, dan kadang ruang pelarian.
Studio mahal, hanya ada dua studio saat itu yakni studio Pawakha dan Suryanata
Alat terbatas, tapi semangat tak pernah kurang.
Nongkrong panjang, obrolan musik, dan—seperti pengakuan jujur generasi itu—minuman keras, menjadi bagian dari masa muda dunia rock.
Dari situlah lahir istilah khas yang dikenang hingga kini: “Alumnus Pantera”—plesetan yang merujuk pada band thrash metal Pantera, sekaligus kependekan dari Pecahan Gang Tera. Sebuah candaan, tapi sarat makna persaudaraan.
Puluhan tahun berlalu, persahabatan itu tak putus.
Ia menjelma menjadi Amer Community—komunitas pecinta dan musisi rock klasik lintas generasi.
Kenangan yang Tak Terlupakan
Ketua Amer Community, Gusti Ervin Wardhana, mengenang Rudy sebagai sosok idealis yang konsisten. “Beliau rock sejati. Idealis, total, dan punya pengaruh besar,” ujar Gusti Ervin, pengusaha yang dulu dikenal lewat keyboard Pawakha.
Ucapan duka juga datang dari banyak musisi nasional dan lokal: Gusti Hendi (GIGI), Arul Efansyah, X Real, mantan vokalis Power Metal, serta hampir semua musisi rock yang pernah bersinggungan dengan Rudy.
Sahabat dekatnya, Fery Sayo—vokalis rock era 90-an—menyebut Rudy telah lama berjuang melawan sakit. “Hampir tiga tahun beliau sakit. Saya sempat menjenguk sebelum beliau berpulang,” katanya lirih.
Bagi banyak sahabat, kenangan bersama Rudy tak terpisahkan dari perjalanan-perjalanan absurd namun penuh tawa.
Salah satunya saat Mercurius, Rudy Laturete, GAE Peterson , Fans Molluccas), Nasrullah, Ipin Teberubut dan H Sahsada Bakti menonton konser Iron Maiden di GWK Bali pada 2011
Menginap di Gang Poppies, Kuta. Berenang tengah malam karena ada cewek bule nyebur.
Suara stereo aneh dari lantai atas. Mobil sewaan mogok karena bensin cuma diisi sampai keluar gang oleh pemilik mobil sewa
Mendorong mobil sampai SPBU.
Adegan bak sinetron di Bandara Ngurah Rai saat menjemput H Sahsada Bakti—teriak-teriak seolah baru bertemu hingga satu bandara menoleh.
Ada pula “Russian Roulette” versi rock: Frans Molluccas menyetir mobil naik perbukitan dengan mata ditutup Rudy Laturete kain hitam.
Kap mobil berasap, jantung berdegup, tapi semua selamat.
Hingga akhirnya, berdiri bersama menyaksikan Iron Maiden—supergrup dunia yang dulu hanya ada di kaset dan poster kamar.
Semua kenangan itu kini menjadi cerita nostalgia yang mengiringi kepergian Rudy Laturete.
Jenazah almarhum dishalatkan di Masjid Jami Banjarmasin dan dimakamkan di alkah kawasan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar.
Rudy Laturete telah pergi. Namun distorsi gitarnya, tawa di Gang Tera, dan semangat “Pantera” itu tak akan pernah benar-benar mati.
Penulis/Editor: Mercurius












