BOMINDONESIA.COM, JAKARTA – Amerika Serikat menegaskan tidak gentar terhadap langkah Eropa yang memperkuat kehadiran militernya di Greenland. Washington bahkan menilai peningkatan pasukan Eropa sama sekali tidak memengaruhi ambisi Presiden Donald Trump untuk menguasai pulau strategis di kawasan Arktik tersebut.
Pernyataan itu disampaikan langsung Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, saat menanggapi laporan pengerahan tambahan pasukan Eropa ke Greenland.
“Saya rasa kehadiran pasukan Eropa tidak memengaruhi proses pengambilan keputusan presiden, dan sama sekali tidak mengubah tujuannya untuk mengakuisisi Greenland,” kata Leavitt kepada wartawan akhir pekan tadi
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Di tengah ketegangan tersebut, para pejabat federal Amerika Serikat diketahui diam-diam menyiapkan anggaran puluhan juta dolar untuk peningkatan fasilitas militer di satu-satunya pangkalan militer AS di Greenland.
Langkah ini menguatkan sinyal bahwa Washington tidak sekadar melempar wacana, melainkan tengah menyiapkan pijakan jangka panjang.
Rencana peningkatan fasilitas itu meliputi perbaikan landasan pacu sepanjang hampir dua mil di Pangkalan Luar Angkasa Pituffik, pengadaan kapal khusus untuk menjaga pelabuhan dari ancaman gunung es, serta renovasi sejumlah fasilitas pendukung, termasuk area makan Dundas.
Saat ini, sekitar 150 personel militer Amerika Serikat ditempatkan di pangkalan tersebut—yang sebelumnya dikenal sebagai Pangkalan Angkatan Udara Thule—bersama ratusan personel dan kontraktor dari Kanada, Denmark, serta Greenland.
Pangkalan Pituffik sendiri resmi berganti nama pada 2023, di era pemerintahan Presiden Joe Biden, sebagai bentuk penghormatan terhadap penduduk asli dan budaya Greenland.
Seperti dilansir times.indonesia, pangkalan tersebut memiliki nilai strategis tinggi karena menjadi pelabuhan air dalam paling utara yang dikelola Departemen Pertahanan Amerika Serikat.
Donald Trump secara terbuka menilai penguasaan penuh atas Greenland sebagai kunci penting bagi keamanan nasional AS.
“Amerika Serikat membutuhkan Greenland,” tulis Trump dalam unggahan media sosialnya pada 14 Januari 2026 lalu, menegaskan kembali ambisinya.
Secara historis, pangkalan militer di Greenland dibangun sejak era Perang Dingin dengan persetujuan Denmark, karena letaknya yang berada di jalur strategis antara Moskow dan Washington.
Hingga kini, posisi geografis itu tetap menjadikan Greenland titik krusial dalam persaingan kekuatan global.
Greenland sendiri merupakan wilayah berpemerintahan sendiri yang berada di bawah Kerajaan Denmark, negara anggota NATO dan sekutu Amerika Serikat.
Namun, wacana pengambilalihan oleh AS memicu penolakan keras dari Kopenhagen.
Menteri Luar Negeri Denmark, Lars Lokke Rasmussen, sebelumnya menegaskan bahwa pengambilalihan Greenland oleh Amerika Serikat tidak memiliki dasar dan sama sekali tidak diperlukan.
Meski demikian, Trump tetap bersikukuh dan disebut membuka berbagai opsi, termasuk pengerahan militer.
Merespons sikap Washington tersebut, negara-negara Eropa memperkuat pertahanan dengan menambah jumlah pasukan di Greenland dan kawasan sekitarnya.
Namun, menurut Gedung Putih, langkah Eropa itu tidak sedikit pun menggoyahkan rencana Amerika Serikat.
Di tengah suhu ekstrem Greenland yang bisa mencapai minus 50 derajat Celsius dan malam kutub yang berlangsung lebih dari tiga bulan, pulau berselimut es itu kini menjadi simbol baru perebutan pengaruh global antara Amerika Serikat dan Eropa—dengan Denmark berada di posisi yang semakin tertekan.
*/Editor Mercurius












