BOMINDONESIA.COM, TEL AVIV – Israel dilaporkan memberlakukan penutupan aktivitas secara luas atau menyerupai lockdown total setelah dihantam serangan rudal dan drone Iran. Sekolah, kantor, serta berbagai fasilitas umum ditutup sementara menyusul eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
Dilansir dari CNBC Indonesia yang mengutip Reuters, Minggu (1/3/2026), Iran melancarkan serangan balasan secara agresif setelah Amerika Serikat (AS) dan Israel menggempur wilayahnya.
Teheran dilaporkan menyerang sejumlah target di Timur Tengah yang disebut sebagai basis militer AS, serta menggempur wilayah Israel dengan rudal balistik dan pesawat nirawak (drone).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sirene peringatan bahaya terdengar di berbagai wilayah Israel, dari utara hingga selatan.
Pemerintah Israel kemudian melarang aktivitas berkumpul, menutup sekolah dan tempat kerja, serta memindahkan pasien rumah sakit ke fasilitas bawah tanah sebagai langkah antisipasi.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengumumkan keadaan darurat nasional dan memperingatkan masyarakat terkait potensi serangan lanjutan rudal dan drone dari Iran.
Militer Israel juga memanggil puluhan ribu pasukan cadangan untuk memperkuat perbatasan darat.
Polisi setempat mengimbau warga untuk menghindari perjalanan yang tidak mendesak guna memberi ruang bagi kendaraan darurat dan keamanan.
Meski Israel memiliki sistem pertahanan udara canggih, situasi tetap mencekam.
Beberapa warga dilaporkan menuju tempat perlindungan bom setelah mendapat peringatan dari sistem peringatan nasional.
Bandara Israel turut menutup wilayah udara untuk penerbangan sipil.
Namun, perbatasan darat dengan Mesir dan Yordania dilaporkan masih dibuka.
Di Yerusalem, warga terlihat bergegas membeli kebutuhan pokok dan menarik uang tunai di tengah suara ledakan hasil pencegatan rudal.
Sementara itu, Pusat Medis Sheba dekat Tel Aviv memindahkan seluruh bangsal rumah sakit ke area bawah tanah yang lebih aman.
Konflik terbaru ini menjadi babak lanjutan ketegangan Israel-Iran setelah perang udara pada 2025 lalu yang berlangsung selama 12 hari dan menelan korban jiwa di kedua belah pihak.
Hingga kini, situasi keamanan di Israel masih dalam status siaga tinggi, sementara dunia internasional terus memantau perkembangan konflik yang berpotensi meluas di kawasan tersebut
*/ Editor Mercurius.












