BOMINDONESIA.COM,JAKARTA— Di tengah mencuatnya kembali kasus-kasus penolakan pendirian rumah ibadah di berbagai daerah di Indonesia, publik diajak kembali menengok sebuah kisah langka dan bermakna dari sejarah bangsa: sosok Chalid Salim, adik kandung dari Pahlawan Nasional sekaligus tokoh Islam, KH Agus Salim, yang memilih untuk memeluk agama Katolik.
Kisah spiritual Chalid Salim menunjukkan bahwa keberagaman keyakinan bukanlah sesuatu yang baru dalam sejarah Indonesia, bahkan telah hadir di jantung keluarga para tokoh bangsa.
Sebagaimana dilansir Viva.co.id (Jumat, 5 April 2024), Chalid Salim sebelumnya dikenal sebagai seorang Muslim, kemudian menganut paham sosialis bahkan sempat tidak mempercayai keberadaan Tuhan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, saat diasingkan oleh pemerintah kolonial Belanda ke Digul, Papua, ia bertemu Pater Meuwese—seorang rohaniwan Katolik—yang mengubah arah spiritualnya.
“Pertemuan dengan Pater Meuwese sangat berkesan, membuatnya mulai mempertanyakan kembali pandangan lamanya,” tulis buku IFM Chalid Salim, Lima Belas Tahun Digul.
Dari ketidakyakinan, Chalid justru menemukan kedamaian dalam ajaran Katolik, dan kemudian dibaptis sebagai pemeluk agama tersebut.
Menariknya, KH Agus Salim sendiri tidak menunjukkan penolakan atas keputusan sang adik.
Sebaliknya, ia mensyukuri keputusan Chalid yang kembali menemukan Tuhan dalam perjalanannya sendiri.
Relevansi dengan Kondisi Terkini: Penolakan Rumah Ibadah dan Ancaman Pluralisme
Kisah ini menjadi ironi jika dibandingkan dengan kenyataan hari ini.
Di sejumlah daerah seperti di Cilegon, Bogor, hingga Aceh Singkil, masyarakat menyaksikan penolakan pembangunan gereja maupun rumah ibadah lainnya yang dilakukan oleh kelompok tertentu dengan alasan mayoritas.
Padahal, konstitusi Indonesia menjamin kebebasan beragama dan beribadah sesuai keyakinan masing-masing. Namun dalam praktiknya, masih sering terjadi diskriminasi yang justru mencederai nilai-nilai toleransi.
Direktur Setara Institute, Ismail Hasani, dalam sejumlah pernyataannya menyebut bahwa tantangan terbesar dalam pluralisme di Indonesia adalah absennya keberanian negara untuk menegakkan hak minoritas beragama secara tegas.
Momentum Refleksi
Kisah Chalid Salim hendaknya menjadi refleksi penting.
Bahwa kebebasan beragama bukan hanya persoalan hukum, tapi juga sejarah, nilai, dan peradaban. Apalagi ketika dalam satu keluarga, berbeda keyakinan tidak menjadikan putusnya silaturahmi, melainkan justru memperkuat pemahaman akan nilai-nilai kemanusiaan.
Jika Indonesia ingin tetap berdiri sebagai bangsa yang berbhineka, maka keberagaman harus dirawat—bukan sekadar dihormati di teks pidato—melainkan diwujudkan dalam jaminan keadilan bagi semua umat beragama dalam menjalankan ibadah mereka.
Sumber Viva.co.id/ Setara institute
Editor: Mercurius












