Jejak Chalid Salim, Adik KH Agus Salim yang Masuk Katolik: Cermin Pluralisme di Tengah Penolakan Rumah Ibadah – bomindonesia.com

Jejak Chalid Salim, Adik KH Agus Salim yang Masuk Katolik: Cermin Pluralisme di Tengah Penolakan Rumah Ibadah

- Redaksi

Sabtu, 2 Agustus 2025 - 16:51 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto Istimewa

Foto Istimewa

BOMINDONESIA.COM,JAKARTA— Di tengah mencuatnya kembali kasus-kasus penolakan pendirian rumah ibadah di berbagai daerah di Indonesia, publik diajak kembali menengok sebuah kisah langka dan bermakna dari sejarah bangsa: sosok Chalid Salim, adik kandung dari Pahlawan Nasional sekaligus tokoh Islam, KH Agus Salim, yang memilih untuk memeluk agama Katolik.

Kisah spiritual Chalid Salim menunjukkan bahwa keberagaman keyakinan bukanlah sesuatu yang baru dalam sejarah Indonesia, bahkan telah hadir di jantung keluarga para tokoh bangsa.

Sebagaimana dilansir Viva.co.id (Jumat, 5 April 2024), Chalid Salim sebelumnya dikenal sebagai seorang Muslim, kemudian menganut paham sosialis bahkan sempat tidak mempercayai keberadaan Tuhan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun, saat diasingkan oleh pemerintah kolonial Belanda ke Digul, Papua, ia bertemu Pater Meuwese—seorang rohaniwan Katolik—yang mengubah arah spiritualnya.

“Pertemuan dengan Pater Meuwese sangat berkesan, membuatnya mulai mempertanyakan kembali pandangan lamanya,” tulis buku IFM Chalid Salim, Lima Belas Tahun Digul.

Dari ketidakyakinan, Chalid justru menemukan kedamaian dalam ajaran Katolik, dan kemudian dibaptis sebagai pemeluk agama tersebut.

Menariknya, KH Agus Salim sendiri tidak menunjukkan penolakan atas keputusan sang adik.

Sebaliknya, ia mensyukuri keputusan Chalid yang kembali menemukan Tuhan dalam perjalanannya sendiri.

Relevansi dengan Kondisi Terkini: Penolakan Rumah Ibadah dan Ancaman Pluralisme

Kisah ini menjadi ironi jika dibandingkan dengan kenyataan hari ini.

Di sejumlah daerah seperti di Cilegon, Bogor, hingga Aceh Singkil, masyarakat menyaksikan penolakan pembangunan gereja maupun rumah ibadah lainnya yang dilakukan oleh kelompok tertentu dengan alasan mayoritas.

Padahal, konstitusi Indonesia menjamin kebebasan beragama dan beribadah sesuai keyakinan masing-masing. Namun dalam praktiknya, masih sering terjadi diskriminasi yang justru mencederai nilai-nilai toleransi.

Direktur Setara Institute, Ismail Hasani, dalam sejumlah pernyataannya menyebut bahwa tantangan terbesar dalam pluralisme di Indonesia adalah absennya keberanian negara untuk menegakkan hak minoritas beragama secara tegas.

Momentum Refleksi

Kisah Chalid Salim hendaknya menjadi refleksi penting.

Bahwa kebebasan beragama bukan hanya persoalan hukum, tapi juga sejarah, nilai, dan peradaban. Apalagi ketika dalam satu keluarga, berbeda keyakinan tidak menjadikan putusnya silaturahmi, melainkan justru memperkuat pemahaman akan nilai-nilai kemanusiaan.

Jika Indonesia ingin tetap berdiri sebagai bangsa yang berbhineka, maka keberagaman harus dirawat—bukan sekadar dihormati di teks pidato—melainkan diwujudkan dalam jaminan keadilan bagi semua umat beragama dalam menjalankan ibadah mereka.

Sumber Viva.co.id/ Setara institute

Editor: Mercurius

Follow WhatsApp Channel bomindonesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Arsip Aktuil: Emilia Contessa Pernah Terseret Sengketa Hak Cipta Lagu “Kehancuran”
Ketika Resimen Pelopor Menyerang Markas RPKAD di Cijantung
Antusias Haul Wali Pacah Ampat Kotabaru dan Cerita Tubuh Wali yang Terbagi Empat
Aksi Dadakan Joey Jordison Selamatkan Penampilan Metallica di Download Festival 2004
Ketika Perompak Somalia Salah Pilih Lawan
Evolusi Nama Banjarmasih, Bandarmasih Hingga Banjarmasin
Festival Folk Song ’74 di Banjar Raya, Demam Musik Rakyat di Banjarmasin yang tak Pernah Benar-benar Padam
In Memoriam Rudy Laturete Cerita Pantera, Gang Tera, dan Jejak Rock yang Tak Pernah Mati

Berita Terkait

Minggu, 21 Juni 2026 - 00:38 WITA

Arsip Aktuil: Emilia Contessa Pernah Terseret Sengketa Hak Cipta Lagu “Kehancuran”

Minggu, 7 Juni 2026 - 02:02 WITA

Ketika Resimen Pelopor Menyerang Markas RPKAD di Cijantung

Selasa, 31 Maret 2026 - 14:49 WITA

Antusias Haul Wali Pacah Ampat Kotabaru dan Cerita Tubuh Wali yang Terbagi Empat

Sabtu, 14 Maret 2026 - 13:50 WITA

Aksi Dadakan Joey Jordison Selamatkan Penampilan Metallica di Download Festival 2004

Selasa, 3 Maret 2026 - 17:22 WITA

Ketika Perompak Somalia Salah Pilih Lawan

Berita Terbaru

Banjarmasin Bungas

Selesai Upacara, Tamu Wali Kota Dijamu Makanan Khas Banjar

Senin, 17 Agu 2026 - 19:35 WITA

(Mercurius)

Cermin

81 Tahun Merdeka, Masihkah Kepak Sayap Garuda Menaungi?

Minggu, 16 Agu 2026 - 20:53 WITA

Verified by MonsterInsights