BOMINDONESIA.COM, BANJARMASIN – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) menilai kinerja lembaga jasa keuangan di Kalimantan Selatan posisi Januari 2026 terpantau stabil dengan risiko tetap terjaga.
“Perekonomian global masih menunjukkan kinerja yang relatif baik sejalan dengan penguatan kinerja manufaktur global dan tren pemulihan keyakinan konsumen,” ucap Kepala OJK Kalsel Agus Maiyo, Jumat (13/3/2026)
Namun demikian, sambungnya, peningkatan tensi geopolitik pada awal 2026, termasuk di Timur Tengah serta dinamika perdagangan AS, menjadi downside risk yang berpotensi meningkatkan volatilitas pasar keuangan global.
Untuk kinerja perekonomian Kalimantan Selatan pada kuartal IV 2025, tambahnya, terpantau tumbuh 5,46 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya (TW III: 5,19 persen yoy) sedikit di bawah pertumbuhan nasional yang berada di angka 5,39 persen (yoy).
Sementara secara c-to-c (cumulative to cumulative), ekonomi Kalimantan Selatan tumbuh 5,22 persen, berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional (5,11 persen).
“Tiga sektor penopang Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kalimantan Selatan yaitu Pertambangan dengan porsi 23,20 persen, diikuti oleh sektor Pertanian (12,68 persen) dan Industri Pengolahan (11,37 persen),” tuturnya.
Ia menyebut, perkembangan Sektor Perbankan Kinerja intermediasi perbankan di Kalimantan Selatan masih menunjukkan pertumbuhan positif dengan profil risiko yang terjaga dan likuiditas yang memadai.
Pada Januari 2026, kredit tumbuh 6,71 persen yoy menjadi sebesar Rp82,29 triliun (Desember 2025: Rp82,48 triliun) dan kualitas kredit tetap terjaga dengan rasio NPL gross berada di angka 2,63 persen.
Berdasarkan jenis penggunaan, Kredit Investasi mencatatkan pertumbuhan tertinggi yaitu sebesar 28,16 persen, diikuti oleh Kredit Konsumsi tumbuh 6,78 persen, dan Kredit Modal Kerja terkontraksi 8,23 persen. Penyaluran Kredit Investasi tertinggi terletak di Kota Banjarmasin (Rp19,05 triliun).
“Proporsi penyaluran kredit UMKM terhadap keseluruhan kredit di Kalimantan Selatan yaitu sebesar 26,86 persen. Sektor UMKM yang banyak menerima pembiayaan yaitu Industri Pengolahan (meningkat 21,90 persen yoy),” paparnya.
Sementara itu, peningkatan Aset di Kalimantan Selatan tercatat sebesar 6,05 persen yoy, sedangkan Dana Pihak Ketiga (DPK) naik sebesar 5,68 persen yoy, dan Kredit bertumbuh 6,71 persen yoy.
“Sumber peningkatan DPK terbesar bersumber dari giro sebesar 11,97 persen yoy, tabungan sebesar 3,92 persen yoy, dan deposito sebesar 0,74 persen yoy. Secara spasial, pangsa DPK terbesar berada di Kota Banjarmasin (Rp61,2 triliun), atau mengambil porsi sebesar 62,42 persen,” bebernya.
Indikator kinerja perbankan syariah tercatat mengalami penyesuaian. Aset tercatat mengalami penurunan sebesar 12,97 persen yoy atau menjadi Rp10,49 triliun, sedangkan pembiayaan meningkat sebanyak 10,33 persen yoy atau menjadi Rp9,36 triliun.
“DPK mengalami kontraksi sebesar 6,34 persen yoy. Meskipun demikian, likuiditas perbankan syariah terjaga di angka 100,54 persen dan NPF gross di bawah threshold yaitu 2,03 persen,” imbuhnya.












